Minggu, 16 Oktober 2011

KEMBALI KE MADURA

Foto dan Ide Cerita : Aaron Setiawan

Kembali ke Madura. Ya, sepertinya touring ke pulau garam di minggu kedua bulan September kemarin belum cukup bagi saya untuk mengunjungi tempat-tempat menarik di pulau itu. So, ketika ada tawaran untuk mengunjunginya lagi, saya langsung berkata, “Oke, I’m in…!”. Tujuan awal saya kali ini adalah berkunjung ke kampung pasir, pantai Slopeng dan bukit kapur, karena saat kunjungan pertama belum sempat kesana. Kebetulan, hari dimana saya akan berada di Madura, tanggal 08-09 Oktober 2011 ini bertepatan dengan lomba karapan sapi. Yey!! Bonus tambahan neh, hehehe…

Perjalanan kali ini, saya tidak lagi menggunakan sepeda motor seperti pengalaman pertama, CAPEK soalnya! Hahaha… Kali ini saya menggunakan jasa bus dan berangkat seorang diri, kemudian sesampainya disana akan dijemput Hari, temen kantor yang sudah lebih dulu sampai di Sumenep.  Berangkat dari Terminal Tawang Alun Jember, tanggal 07 Oktober 2011, jam 19.32 WIB, Bus Akas Asri yang saya tumpangi melaju ke Sumenep. Dengan harga tiket IDR 60K, saya bisa menikmati perjalanan tanpa bersusah payah melawan dingin dan kantuk yang kadang menghinggapi saat bersepeda. Hemm, kali ini saya hanya duduk santai dan tinggal merem kalo kantuk datang, hehehe… Butuh sekitar sembilan jam perjalanan untuk sampai ke Sumenep. Tepat jam 04.50 WIB saya menginjakkan kaki di Terminal Arya Wiraraja. Hadaaah, disaat mau menghubungi Hari, baterai bebe saya habis. Terpaksa dengan wajah memelas, minta ijin numpang nge-charge di pos satpam terminal, hehehe… Setelah, cukup terisi, saya langsung menghubungi Hari, pengen cepat-cepat istirahat di rumahnya di Kecamatan Lenteng sana, sekedar merebahkan diri dan meluruskan otot yang tertekuk selama sembilan jam! Hahaha…

Jam 09.15 WIB, setelah tidur dan mandi, saya membeli sarapan. Lagi-lagi rujak campur yang menjadi pilihan saya, hanya dengan IDR 2.500 saya sudah mendapatkan sepiring rujak campur dan segelas air mineral. Murah kan ya??! Jam 11.00 WIB, tanpa membuang waktu, saya, Hari dan seorang temannya, Arif berangkat ke Pantai Slopeng dengan mengendarai motor. Jam 11.45 WIB, kami sampai di Pantai Slopeng yang berada di Kecamatan Dasuk, Sumenep. Pantai ini ternyata lebih ramai daripada Pantai Lombang yang pernah saya datangi sebelumnya. Disini sudah ada beberapa fasilitas, seperti arena bermain anak, gazebo dan persewaan kuda. Pasir di pantai ini tidak kalah halus dengan pasir Lombang. Yang membedakannya dengan Lombang mungkin, disini ada perkampungan nelayan. Tetapi, walaupun lebih “lengkap”, menurut saya Lombang tetap lebih indah, dengan pasir putihnya yang begitu lembut dan vegetasi yang lebih unik daripada pantai ini. Puas berkeliling, kami mencoba menikmati kuliner yang bisa ditemui disini. Kami membeli rujak khas Slopeng dan es degan. Sekitar IDR 8K, lumayan murahlah untuk harga makanan di kawasan wisata seperti ini. Oya, tidak lupa saya memasukkan pasir ke dalam botol bekas untuk oleh-oleh si Andre, karena tidak bisa ikut di perjalanan kali ini, hahaha…





Jam 13.30 WIB, kami meninggalkan Pantai Slopeng dan melanjutkan perjalanan ke tambang batu kapur yang berada di Kecamatan Batuputih, Sumenep. Butuh waktu 45 menit untuk sampai ke lokasi ini dari Slopeng. Ternyata, saya baru tahu kalau batu bata putih yang digunakan untuk membangun rumah di daerah Madura berasal dari kawasan ini. Disini terdapat beberapa area penambangan dan ketika saya sampai, sudah ada beberapa truk yang sudah siap mengangkut batu bata ini. Berkunjung kesini juga memberikan saya pengetahuan baru. Kenapa?! Karena saya bisa melihat proses pembuatan batu bata putih ini. Pada awalnya, batu kapur diratakan dengan gergaji mesin. Setelah rata, kemudian digergaji lagi sedalam 10 cm sehingga membentu persegi panjang. Setelah itu, para penambang mencangkul cetakan tersebut sehingga batu bata tersebut siap didistribusikan. Pemandangan disini?! Uwwooooww, luar biasa!! Saya serasa berada di GWK Bali sana, bukit kapur sisa penambangan disini menyuguhkan background foto yang ciamik!! Hahaha… FYI, ternyata penambangan disini sudah berusia ratusan tahun, sehingga membentuk bukit-bukit kapur yang “persis” seperti GWK Bali. Semoga pemerintah setempat bisa mengelola tempat ini dengan bijak yak, agar generasi mendatang masih bisa melihat keindahan bukit kapur ini, cieee…




Puas di bukit kapur, jam 14.45 WIB kami berangkat ke daerah Pantai Lombang untuk mencari kawasan kampung pasir. Jarak tempat ini 39 Km dari Pantai Slopeng, cukup jauh memang. Jam 16.00 WIB kami sampai juga di kampung pasir Dusun Jabau, Kecamatan Batang-batang. Setelah sempat kesasar beberapa kali, hahaha… Tidak mudah untuk dapat masuk di kawasan kampung pasir ini, entah kenapa masyarakat sekitar seolah-olah menutup diri. Gak kehilangan akal, kita mengaku sebagai mahasiswa dari Jember yang ingin belajar budaya di tempat itu, ahay! Sebenarnya ini adalah kampung nelayan. Pada awalnya saya sedikit kecewa melihat kampung pasir tersebut karena tidak sesuai dengan apa yang saya bayangkan sebelumnya, rumah-rumah di kawasan ini sudah modern dan beralaskan keramik. Setelah mendapat akses masuk, kami diantar ke rumah kepala desa yang bernama Haji Ansari. Setelah bertanya-tanya dengan beliau, ternyata penduduk di sana kadang tidur di halaman pasir mereka. Saya melihat sendiri beberapa keluarga sedang asyik bersenda gurau di halaman pasir. Sangat unik dan baru kali ini saya melihat ada budaya seperti itu. Akhirnya Pak Haji menunjukkan kamar tidur mereka yang beralaskan pasir. Waaaaaaahhhhhhhhhhh, unyu banget! Wkwkwk…. Saya langsung melompat dan mencoba tidur-tiduran di alas pasir tersebut. Mereka biasanya tidur di atas pasir ketika udara di rumah panas. Wah seru juga ternyata. Setelah mini tour di dalam rumahnya, Pak Haji mengajak kita ke pantai di dekat rumahnya. Di sana banyak orang duduk di pasir pantai, tampak anak-anak dengan riangnya bermain sepakbola, mendayung perahu dan beberapa bermain layang-layang. Kebetulan ketika saya ke pantai bersamaan dengan para nelayan yang sedang berangkat melaut. Sebenarnya kita disarankan untuk menginap di sana menunggu pagi hari saat nelayan kembali ke pantai membawa hasil tangkapan mereka. Namun kita tidak bisa menginap karena masih ada daftar kunjungan lainnya. Mungkin lain kali ya Pak Haji… :)



Kolam pasir di dalam rumah

Di hari terakhir, 09 Oktober 2011, jam 11.30 WIB, saya dan Hari berangkat ke Alun-alun Sumenep untuk melihat lomba karapan sapi. Jam 12.00 WIB sampai di lokasi dan langsung membayar tiket IDR 5K untuk masuk ke arena pertandingan. Saya sempatkan berkeliling sebentar untuk melihat persiapan peserta lomba. Ternyata, sebelum berlomba, sapi-sapi tersebut disiram air jamu dan didoakan terlebih dahulu oleh dukun, kemudian sapi tersebut diantar jalan memutar sejauh 5 meter dari garis start. Sebagai warming up mungkin, hehehe… Begitulah garis besar ritual menyiapkan sapi sebelum lomba dimulai. Widiiihhh, harus siap-siap stamina untuk melihat lomba karapan sapi ini, debu dan terik matahari menghadang setiap peserta dan penonton, huft… Jam 13.30 WIB, kami memutuskan pulang walaupun perlombaan belum selesai, gak kuat dengan panaaassnya arena, hahaha…





Setelah packing, jam 18.00 WIB saya dan Hari kembali ke Jember dengan menumpang bus Damri seharga IDR 60K dan tiba di Jember jam 02.30 WIB!! Hemmm, terbayarkan sudah rasa penasaran saya terhadap tempat-tempat tersebut. Selanjutnya? Mencari tempat-tempat tujuan menarik lainnya…

5 komentar:

  1. eh buset lo dua kali ke madura yoo???
    gue sekali aja kapok kepanasan hahaha...
    gak ampe ke sumenep sih, cuma di pamekasan aja dulu liat karapan

    BalasHapus
  2. hemm... Pasti cuma baca sekilas! Ini cerita dan poto=poto dari temen gw, anak CS juga, Aaron...

    BalasHapus
  3. mas keren2 ih , aku iri pengen kesemua tempat yang ada di atas ini huhu

    BalasHapus
  4. @Wahyu Eko : terima kasih... :)

    @Elfira : hehe... Pantai Lombang dan Bukit Kapur sepertinya WAJIB dikunjungi kalo ke Madura lagi... :)

    BalasHapus