Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 April 2012

Sehari di Toraja


Akhirnya saya bisa menapakkan kaki di Tana Toraja. Salah satu destinasi wisata yang sebelumnya hanya berada di angan-angan. Berbekal itinerari yang dibuat oleh seorang kawan, saya nekat mengunjungi Tana Toraja ketika berada di Makassar tanggal 22-24 Maret 2012 lalu. Bayangan akan sempitnya waktu yang ada dan jarak tempuh yang jauh dari kota Makassar tidak menyurutkan niat saya untuk mengeksplor Toraja walaupun hanya dalam waktu 1 hari. Banyak orang yang meragukan rencana saya kala itu. Waktu yang terlalu singkat, tidak cukup bagi saya untuk menikmati keindahan yang ditawarkan Toraja, begitu argumen mereka. Namun, karena TEKAD, akhirnya saya tetap memberangkatkan diri. Bersama seorang travelmate cewek asal Bekasi, Anya, saya mengeksplor Tana Toraja di tanggal 23 Maret 2012.

 ***


Setelah sampai di Makassar, sore harinya saya langsung diantar host saya untuk memesan tiket bus menuju ke Tana Toraja. Ketika itu dia memilihkan Bus Litha untuk mengantarkan saya ke Toraja. Harga tiket bus ekonomi hanya IDR 80 ribu/orang. Tanpa banyak cingcong, saya langsung memesan 2 buah tiket. Bus Litha meninggalkan Makassar menuju ke Toraja jam 8 malam waktu setempat.

Setelah sekitar 9 jam menembus malam dan tidur di atas kursi bus, akhirnya tepat pukul 5 pagi, saya tiba di Rantepao, Toraja Utara. Udara sejuk dan dingin menusuk tulang khas dataran tinggi, langsung menyambut kehadiran saya. Berniat mencari rental motor, tapi semuanya masih tutup. Kantor-kantor dan usaha disini baru buka jam 6 pagi. Ngemperlah saya waktu itu, menumpang buang air kecil, cuci muka dan ngecharge hape di kantor perwakilan Bus Batutumonga, hehehe...
 
Setelah berhilir mudik dan bertanya ke lebih dari 3 orang penduduk local untuk mencari-cari rental motor, akhirnya saya menemukannya di depan gereja Katholik Rantepao. Dengan harga hanya sebesar IDR 50 ribu / 8 jam (inc. bensin 1 liter), saya memberanikan diri menyewa motor yang terlihat tidak dalam kondisi prima itu. Dengan rem yang sedikit tidak pakem, pijakan gigi yang menjorok terlalu dalam dan beberapa ketidaknyamanan lainnya membuat saya ketar-ketir di awal. Tapi dengan alasan murah dan diburu waktu, akhirnya saya mengeluarkan KTP dan menyerahkannya ke pengelola.

Belut Pamarasan
Motor sudah didapat, sekarang saatnya sarapan! Saya menghentikan laju motor di salah satu warung makan yang terlihat sederhana di depan patung kerbau. Sekenanya sih, tapi jangan salah. Ternyata si ibu penjual, yang pada akhirnya saya tahu bahwa dia adalah isteri Kepala Dinas Pariwisata Toraja Utara, menyediakan berbagai kuliner khas lokal. Saya memesan seporsi Belut Pamarasan, belut yang dimasak dengan sayur pangi. Sedangkan Anya memesan Ayam Dangkot, ayam yang dimasak dengan kelapa muda, sereh dan kunyit. Keduanya bercita rasa pedas. Enak sih, saya juga diberi bonus sebungkus jajanan khas yang terbuat dari singkong. Kalo di Jawa sih dibilang lemet. Dengan harga total IDR 30 ribu (inc. sebakul nasi yang masih tersisa banyak), membuat perut saya kenyang dan siap untuk mengeksplor Toraja 10 jam ke depan.


Berbekal peta dan info dari pemilik motor, sayapun mengikuti setiap garis jalan yang nampak di fotokopian peta tersebut. Sebenarnya, wisata di Toraja ini hanya ada 2 kelompok besar, melihat rumah Tongkonan dan kuburan adat. Jadi tidak perlu berkunjung ke semua tempat, karena sebagian besar memiliki kemiripan. Selain itu, jarak antara lokasi wisata satu dan yang lainnya searah dan tidak begitu jauh, kecuali kamu mau ke Batutumonga, sebuah dataran tinggi di Tana Toraja. Sekedar tips, jika kamu berencana hanya mengeksplor Toraja dalam satu hari seperti saya, jangan terlalu banyak membuang waktu di satu lokasi wisata. Karena berdasarkan pengalaman saya kemarin, satu lokasi wisata cukup dikunjungi tidak sampai 30 menit, itupun sudah termasuk mengambil foto landscape dan bernarsis ria, hehehe...

Menuju ke selatan, kita bisa mengunjungi beberapa lokasi wisata yang searah. Sebut saja Buntu Pune, Ke'te' Kesu', Kambira, Lemo, Londa dan beberapa tempat lain yang saya lupa namanya, hehehe...

Tau-Tau
Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Buntu Pune. Disini kita dapat melihat rumah-rumah Tongkonan berdiri dengan eloknya. Dihiasi beberapa tanduk kerbau di bagian depan rumah, menjadikan rumah adat Toraja ini berciri khas. Selanjutnya saya bermotor menuju Ke'te' Kesu'. Ini adalah salah satu tujuan utama setiap turis berkunjung ke Toraja. Karena lengkap. Ada beberapa rumah Tongkonan berjajar rapi, sawah yang menguning, beberapa batu megalithikum, kuburan kuno dan ada Tau-Tau (patung kayu yang dibuat mirip dengan orang yang meninggal, lengkap dengan pakaian dan perhiasan). Peti mati disini ada yang besar untuk beberapa jenazah di dalamnya, serta ada peti mati yang diletakkan begitu saja di sebuah bukit dengan tulang belulang berserakan.

Mengapa kuburan di Toraja ini selalu di bukit?! Jadi, disini ada kepercayaan bahwa semakin tinggi jenazah di tempatkan, maka semakin cepat arwahnya sampai ke Nirwana. Selain itu, ada tiga jenis cara menguburkan jenazah. Yang pertama, jenazah dimasukkan peti yang kemudian diletakkan di dalam dinding goa yang sudah dilubangi dan membuat patung kayu setelahnya. Kedua, dibuatkan peti besar yang nantinya di dalam peti itu bisa dimasukkan beberapa jenazah kerabat. Cara seperti ini hanya biasa dilakukan oleh orang kaya. Yang terakhir adalah dengan cara dimasukkan ke dalam peti kemudian digeletakkan begitu saja di tanah. Unik ya? Itulah keistimewaan Toraja.


Setelah dari Ke’te’ Kesu’, saya melanjutkan perjalanan ke Kambira. Jalan menuju ke tempat ini sangat ciamik!! Sawah luas yang sedang menguning dilatar belakangi pemandangan gunung dan langit yang biru. Serta nampak beberapa petani yang sedang beraktifitas. Hmm, sulit menggambarkan pemandangan yang saya lihat saat itu. Namun sayang, saya sempat jatuh ndlosor di aspal!! Gara-gara motor yang tidak nyaman, jalan beraspal yang sempit berlubang dan kaget melihat mobil di depan yang akan berpapasan. Damn!! Beruntunglah saya hanya luka ringan dan travelmate saya baik-baik saja... Tengsin?! Jelas! Hahaha... Tapi gak papalah, harap maklum #maksa. Oke, setibanya di Kambira, saya harus membayar tiket sebesar IDR 10 ribu. Lokasi wisata yang satu ini sepi, tidak ada pengunjung lain selain saya dan Anya. Well, ternyata ini adalah kuburan bayi yang disebut Liang Pia atau Passiliran. Yang unik disini adalah jenazah bayi-bayi itu diletakkan di batang pohon besar, dengan cara melubangi batang tersebut, menutupnya dengan semacam ranting dan diikat dengan menggunakan tali. Beberapa diantaranya sudah berusia ratusan tahun lho... Hanya butuh waktu 15 menit berdiam di lokasi ini dan kita melanjutkan perjalanan.


Lokasi selanjutnya adalah Lemo. Dengan pemandangan persawahan khas Toraja, disini kita bisa menjumpai kuburan di dinding terjal sebuah bukit. Ya, dinding batu kokoh itu dibuat layaknya almari dengan pintu kayu di depannya, digunakan untuk “menyimpan” jenazah. Konon, ketika ada pemakaman, diadakan ritual khusus yang membuat si jenazah melayang dengan sendirinya ke tempat persemayaman terakhirnya di atas bukit sana. Ketika prosesi gaib itu dilakukan, tidak boleh ada kegaduhan, termasuk suara anak yang menangis, jadi tidak ada yang membawa serta anak kecil saat itu. Tidak tahu apakah hal itu benar-benar terjadi, namun yang pasti di jaman modern sekarang, prosesi pemakaman tidak ada hal yang aneh-aneh seperti itu lagi, menurut jawaban orang lokal yang saya temui. Kamu juga bisa mendapati Tau-Tau disini. Patung kayu itu juga diletakkan di dinding bukit. 


Selesai dari Lemo, jam sudah menunjukkan sekitar pukul 12.30 WITA. Saatnya makan siang. Saya dan Anya kembali ke pusat kota Rantepao untuk mencari kuliner lokal lainnya. Eh, ternyata di art centre dekat pasar, sedang digelar acara “Festival Kuliner Khas Toraja” yang pertama!! Widih, Tuhan begitu baik kepada saya. Diberi cuaca cerah selama di Sulawesi Selatan ini, dapet host murah hati, dapet travelmate ke Toraja dan sekarang memberikan bermacam-macam hidangan khas Toraja di hadapan saya. Akhirnya saya makan siang dengan lauk Pantollo’ Burak, ayam yang dimasak dengan irisan batang pisang kepok yang masih muda, parutan kelapa muda, sereh, jahe, irisan bawang merah dan putih, cabe serta garam dan penyedap rasa. Rasanya?! Hmm, gurih dan krenyes-krenyes, nikmat sekali! Dengan segelas jus terong belanda membuat perut saya dimanjakan. Di tempat ini pula saya bertemu dengan seorang ibu yang menjual kue dan ngobrol ngalor ngidul. Orangnya ramah. Dia juga sempat mengantar saya dan Anya berkeliling pasar, menunjukkan toko kopi khas Toraja langganannya. Saking baiknya, dia mengijinkan saya untuk menginap di rumahnya jika berkunjung ke Toraja, yang entah kapan saya akan mengunjunginya lagi.


Pantollo’ Burak
Puas dimanjakan kuliner lokal dan atraksi kesenian setempat, sebenarnya saya ingin berkunjung ke Batutumonga. Ibu tadi berkata bahwa ini adalah the best spot in town! Penasaran kan?! Tapi berhubung jaraknya yang jauh, hampir 1,5 jam berkendara dari pusat kota Rantepao, akhirnya saya hanya bisa balik kucing. Dikejar waktu euy! Akhirnya, setelah mengembalikan motor sewaan, saya menghabiskan sisa sore itu dengan bercengkerama bersama Anya di pinggir jalan, hingga menjelang keberangkatan bus menuju Makassar. 

So, kesan selama hampir 14 jam berada di Rantepao, saya merasa damai. Wilayah kecil di Utara Toraja ini menyiratkan aura yang berbeda. Mungkin dikarenakan tradisi dan budaya yang masih begitu kental serta penduduknya yang ramah. Kuliner, Tongkonan dan kuburan menyisakan kenangan yang gak bakal saya lupakan. Pengalaman traveling baru di tempat yang jauh, bertemu orang lokal dan tentunya jatuh ndlosor dengan sepeda sewaan...

Lukisan Purba di Tengah Hutan Batu


Kamu pernah melihat gambar telapak tangan di dinding goa dalam sebuah buku pelajaran sejarah?! Ternyata goa tersebut berada di Kelurahan Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Goa yang kini menjadi salah satu tujuan wisata populer ini terletak tidak jauh dari Air Terjun Bantimurung. Jadi, jika kamu berencana ke Bantimurung, sempatkanlah untuk mengunjungi goa purba ini.

Leang-Leang sendiri merupakan bagian dari gugusan Karst Maros. Hutan batu yang luasnya mencapai 4.500 hektar (menurut wikipedia). Dengan luas tersebut, menjadikan salah satu wilayah karst di Indonesia ini menjadi yang terluas kedua di dunia, setelah South China Karst. Tidak salah memang, di sepanjang perjalanan menuju Goa Leang-Leang, selain hamparan sawah yang sedang menguning, sering saya jumpai batuan karst besar berwarna hitam teronggok di tengah sawah. Bukan hanya satu atau dua saja, tapi banyaaaakkk... Sungguh pemandangan yang lain daripada yang lain. Perpaduan antara sawah luas yang sedang menguning, birunya langit dan bebatuan karst membuat jalan poros ini begitu unik.


Dibutuhkan waktu kurang lebih 20 menit berkendara dari jalan besar menuju Goa Leang-Leang ini. Setibanya disana, kamu cukup membayar tiket masuk seharga IDR 10 ribu / orang. Murah kan ya?! Itupun sudah termasuk guide dari penduduk lokal, yang siap mengantar kita masuk ke dalam goa untuk melihat lukisan purba itu. Hanya pengunjung yang berkeliling bersama guide saja yang bisa masuk ke goa. Karena di pintu masuk goa terdapat pagar yang terkunci, dengan tujuan menjauhkan lukisan dari tangan-tangan usil.

Berdasarkan informasi dari guide lokal, Leang-Leang sendiri berarti “goa” dalam bahasa Bugis. Tidak salah memang, karena disini terdapat beberapa goa yang konon dulunya menjadi tempat tinggal manusia purba. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya temuan peninggalan jaman dulu, seperti perlengkapan makan, peralatan rumah tangga dan lainnya di sekitar goa. Pemandangan yang saya temui juga indah. Hamparan rerumputan hijau, sungai yang mengalir dan lagi-lagi batuan karst yang beberapa mempunyai bentuk unit teronggok dengan gagahnya.

Goa pertama yang saya kunjungi adalah Leang Pettakere. Untuk menuju ke goa ini, kita harus tracking sekitar 15 menit. Menyeberangi lapangan rumput, jembatan yang di bawahnya dialiri aliran sungai dan memanjat tebing. Tapi tenang saja, hanya di beberapa bagian dan tidak begitu curam kok. Bahkan pemerintah setempat sudah membuatkan tangga besi untuk memudahkan pengunjung yang penasaran akan lukisan telapak tangan itu. Konon, daerah ini merupakan tepian lautan, oleh karena itu batuan karst yang hitam itu dulunya adalah batuan karang di pinggir pantai. Dan kamu tahu?! Sekarang jarak laut terdekat adalah sejauh 15 km dari lokasi dimana saya berdiri saat itu.


Nama Leang Pettakere sendiri juga mempunyai arti. “Leang” berarti goa, “petta” berarti bangsawan dan “kere” berarti kepala yang dipenggal! Widih, berbau horor yak?!     Memang... Bapak guide bercerita kepada saya dan host saya, Nasruddin, bahwa dulunya ada seorang bangsawan yang menyimpan harta kekayaannya di sekitar goa ini. Dengan alasan kerahasiaan agar hartanya tidak diketahui orang, maka setiap budak yang membawa harta si bangsawan kesini, dipenggal setelahnya. Wuzz... Menghilangkan nyawa berapa orang untuk sekedar menghilangkan jejak ya?! 

Nah, setelah berada di dalam goa, kita dapat melihat lukisan berpuluh telapak tangan berwarna merah dan satu lukisan babi yang tertusuk di bagian jantungnya. Warna merah sendiri (lagi-lagi) kata si guide berasal dari semacam tanah liat. Jadi mereka menyemburkan larutan tanah liat ke telapak tangan yang ditempelkan di dinding. Dan walaaa, jadilah lukisan seperti yang saya lihat! Namun ada yang janggal, tidak semua telapak tangan itu berjari 5! Beberapa hanya terlihat memiliki jari 4! Ternyata, hal itu disebabkan oleh tradisi jaman dulu. Jadi, ketika itu, setiap ada anggota keluarga terdekat mereka yang meninggal, mereka memotong satu ruas jari mereka sebagai tanda berduka. Gilaaaakkk!! Untungnya saya hidup di jaman modern ini yak, hehehe...


Puas mengamati lukisan itu, saya diajak untuk mengunjungi goa yang lain. Jalan lagi sekitar 10 menit. Di goa kedua ini, selain masih ada lukisan telapak tangan dan babi, juga terdapat kerang yang telah menjadi batu. Di dasar goa juga banyak dijumpai cangkang kerang. Inilah yang membuktikan bahwa goa ini dulunya dijadikan tempat tinggal dan kerang-kerang itu adalah sisa makanan mereka. Kok tahu?! Jadi kalau diamati, semua kerang yang ada di situ, ujung bagian belakangnya telah tumpul. Tanda bahwa manusia jaman dulu memakan kerang tersebut. Katanya si guide lagi sih, hehehe...


Setelah beberapa menit di goa kedua, di akhir perjalanan kita diajak mengunjungi museum mini yang ada di sana. Ada apa saja?! Tidak banyak benda koleksi yang ada. Hanya beberapa foto beserta keterangan, benda-benda purba seperti perhiasan dari batu, peralatan rumah tangga dan sejenisnya. 

Jadi, jika kamu datang ke Makassar dengan pesawat terbang, sempatkanlah untuk berkunjung ke daerah ini. Kamu bakal menemukan landscape yang begitu indah, yang jarang dijumpai di daerah lain. Happy traveling!! :D

Minggu, 26 Februari 2012

MERASAKAN KECERIAAN ANAK KECIL


Mungkin keceriaan masa kecil yang saya lewatkan adalah bermain air dan berenang di sungai! Serius... Saya selalu iri ketika melihat anak-anak kecil dengan hebohnya main di bantaran sungai, melompat dari jembatan, renang memakai ban dalam bekas dan sebagainya. Semua itu tidak terlepas dari lokasi rumah saya. Ya, rumah yang saya tinggali sejak kecil sampai sekarang tidak memungkinkan untuk melakukan semua itu. Bisa dibilang rumah orang tua saya ini terletak di kawasan kota dan kalaupun ada sungai dekat rumah, pasti berwarna keruh dan banyak sampah yang ikut mengalir. Suwer, kamu gak bakal tega membiarkan badanmu bersentuhan dengan air sekeruh itu, hahaha...


Setelah berumur 20-an something seperti sekarang, saya baru menyadari betapa benar-benar serunya bermain di sungai, hahaha... Telat yak?! Memang, tapi daripada tidak pernah merasakan sensasinya sama sekali, hehehe... Saya berani nyebur juga setelah ngiler melihat air yang mengalir dan suasana sekitar yang mendukung, seperti bantaran sungai yang hijau tertutup rimbunnya berbagai pohon dan tanaman perdu lainnya. Yah, walaupun gak jernih-jernih banget layaknya air sungai di kalender-kalender, at least saya tidak melihat adanya sampah yang hanyut, kebo yang sedang dimandikan atau orang yang sedang asyik menikmati waktunya dengan berjongkok menguras isi perut. 


You know what?! Ternyata bukan hanya saya saja, beberapa teman yang seumuran, bahkan ada yang jauh lebih tua di atas saya juga tampak menikmati serunya berenang di sungai. Kita seolah-olah kembali ke usia SD, dimana setiap hari yang ada hanyalah canda dan tawa, tanpa memikul beban apapun, hehehe... Ngobrol, bercanda, tertawa lepas serta menikmati hijaunya pemandangan sekitar membuat kita melupakan beban pikiran sejenak.

Berada di alam pedesaan, tidak melihat rumah penduduk di sekitar sungai, bermain air, menghanyutkan diri di aliran sungai yang deras, berjemur di atas batu dan tertawa bersama sahabat merupakan kegiatan yang mengasyikkan untuk melepas kepenatan setelah seminggu berjibaku melawan segala rutinitas. Apalagi jika ditambah dengan membawa bekal nasi ndeso, seperti nasi jagung, lalapan sambel atau lainnya mungkin semakin menambah keseruan wisata gratis ini.


Cobalah mencari sungai yang bersih dan berenang di dalamnya, bener-bener bikin ketagihan coy! Saya jamin, kamu bakal bertingkah seperti anak kecil lagi, lupa umur dan bahkan lupa kalau keesokan hari harus berhadapan dengan tugas atau pekerjaan yang menumpuk... Lain kali, saya pasti melakukan hal ini lagi, yah, itung-itung wisata yang menyenangkan di saat kantong bener-bener tipis, hahaha...

Senin, 30 Januari 2012

SEJENAK DI HOUSE OF SAMPOERNA


Siapa bilang berkunjung ke museum itu membosankan?! Cobalah sesekali datang ke House of Sampoerna yang berlokasi di Jl. Taman Sampoerna 6 Krembangan Pabean Cantikan Surabaya ini. Yah, walaupun bukan museum tentang peninggalan perjuangan bangsa di masa lampau ataupun benda-benda prasejarah, namun museum yang menyimpan benda-benda "bersejarah" akan kedigdayaan rokok Sampoerna ini layak dikunjungi.


Dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 09.00 sampai 22.00 WIB, museum ini menjadi salah satu daya tarik wisata baru di kota Surabaya. Saya melihat museum in sebagai bentuk CSR (Corporate Social Responsibility) Sampoerna terhadap masyarakat. Kenapa?! Karena selain membuat museum, pihak Sampoerna juga menyediakan sebuah bus pariwisata yang siap sedia mengantar pengunjung untuk berkeliling kota menuju ke tempat-tempat bersejarah yang berada di Surabaya. Mereka menyebutnya Surabaya Heritage Track. Sayang, ketika saya berkunjung ke museum ini, bus tersebut tidak beroperasi karena bertepatan dengan jadwal libur mereka. Ya, bus ini hanya beroperasi setiap hari Selasa sampai Minggu dan "istirahat" di setiap hari Senin, serta mempunyai jam pemberangkatan setiap jam 09.00, 13.00 dan 15.00 WIB. Berapa biayanya?! GRATIS!! Minimal, kamu harus reservasi dulu apalagi di saat weekend untuk memastikan mendapat kursi atau tidak. Coba saja menghubungi nomor telepon mereka di 031-3539000 atau 031-3539009 dulu.

Sekali-kali nampang di blog sendiri ;p
Kembali ke museum, begitu membuka pintu masuk, hmmmm... aroma cengkeh langsung menyeruak hidung. Di ruangan pertama, kita diajak mengenal dan melihat lebih dekat sang taipan pendiri pabrik rokok ini. Selain itu, di ruangan awal ini kita bisa melihat, mencium dan menyentuh berbagai macam cengkeh kering yang menjadi bahan utama pembuatan rokok Dji Sam Soe. Ehm, apa lagi ya?! Disini ada replika warung yang kali pertama dimiliki oleh pendiri, meja dan kursi antik pemilik yang semuanya dikemas semenarik mungkin dan memungkinkan pengunjung untuk berinteraksi langsung dengan "barang pajangan" mereka.

Replika stan awal

Memasuki ruangan kedua, kita diajak melihat beberapa peralatan berat untuk melinting rokok ataupun mencetak pembungkus rokok. Disini juga dipamerkan berbagai kemasan rokok Sampoerna yang beredar di berbagai negara, antara lain Indonesia, Korea Selatan, Belanda dan lain-lain. Oiya, selain itu masih terdapat beberapa perlengkapan marching band bentukan Sampoerna serta foto-foto dan trofi kemenangan mereka, baik di ajang nasional ataupun internasional. Saya tidak menyangka bahwa perusahaan rokok ini memiliki sebuah grup marching band yang pernah menjuarai kejuaraan marching band tingkat internasional. Lagi-lagi disini bisa kita manfaatkan untuk berfoto kawan, hahaha... Dengan tata letak yang menarik, pencahayaan yang ciamik serta beberapa perabot unik seperti kios rokok dan motor antik, membuat siapa saja yang berkunjung kesana tergelitik untuk mengeluarkan kameranya dan berpose.


Berbagai jenis kemasan Sampoerna
Setelah puas "menjelajah" lantai satu, perjalanan dilanjutkan ke lantai dua. Di lantai dua ini kita bisa membeli souvenir berciri khas Surabaya, seperti kaos, batik, gantungan kunci, mug dan sebagainya. Daya tarik lantai dua ini adalaaaaahhhh... Kita bisa menyaksikan para buruh wanita sedang melinting rokok! Ya, dibatasi kaca bening yang lebaaaarrr, di bawah sana ternyata adalah pabrik rokok "mini" mereka. Dengan cara tradisional, ribuan buruh itu dengan piawai melinting  rokok. Prosesnya bener-bener cepet meeeennn...! Mengalahkan kecepatan mesin! Hahaha... Saya dan beberapa pengunjung sampai berdecak kagum melihat cara kerja tangan mereka. Sungguh, bener-bener cepat seperti gerakan The Flash! Hahaha... Katanya sih mereka mampu melinting sebanyak 325 rokok per jamnya!! Gile benerrr... FYI, untuk melihat “atraksi” ini, kamu harus datang hanya di jam kerja mereka yaitu Senin sampai Sabtu sampai dengan jam 15.00 WIB.

"arena" belanja
"kotak" exhibisi mereka
So, buat kamu yang menginginkan wisata beda di Surabaya, jangan lupa untuk menempatkan House of Sampoerna ini di daftar ittenerary kamu dan menikmati kota Surabaya dengan Surabaya Heritage Track.

Senin, 02 Januari 2012

HEY, JEMBER JUGA PUNYA PABRIK COKELAT LHO...!!

Denah Lokasi Pabrik
Sebenarnya Jember ini daerah yang sangat potensial lho kawan, baik potensi sumber daya alam ataupun potensi wisata yang dapat digali lebih jauh sehingga dapat mendatangkan pendapatan pemerintah daerah setempat. Siapa yang menyangka, di kota kecil seperti Jember ini berdiri Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia yang didirikan oleh Belanda pada tanggal 1 Januari 1911, yang pada saat itu diberi nama Besoekisch Proefstation. Salah satu tujuan didirikannnya lembaga yang saat ini berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian Republik Indonesia ini adalah melakukan penelitian yang nantinya mampu menghasilkan teknologi di bidang budidaya dan pengolahan hasil kopi dan kakao.

Nah, salah satu tempat penelitian mereka yang menarik untuk kita kunjungi adalah di Perkebunan Renteng, Jenggawah. Sekitar 30 menit berkendara dari pusat kota Jember. Disana selain ada perkebunan kopi dan kakao, juga terdapat pabrik pengolahan kedua komoditi tersebut serta “bengkel” untuk memproduksi berbagai peralatan berat yang digunakan untuk mengolah kopi dan kakao lebih lanjut. Contohnya apa?! Ya peralatan untuk memecah biji kakao, memisahkan kulit ari dengan biji, menyortir biji sesuai ukuran dan sebagainya. Apanya yang menarik coy kalau cuma melihat besi dan orang ngelas?! Jangan salah, yang menarik adalah saat mengunjungi pabrik pengolahan biji kopi dan kakaonya, seperti yang saya lakukan bersama dengan rombongan CouchSurfers Jember di hari Sabtu, tanggal 31 Desember 2011 kemarin.

Tumpukan biji kopi dalam proses (foto : Hasnan Habib)
Biji kakao yang dikeringkan (foto : Hasnan Habib)

Saya sendiri mengetahui jika kita bisa berkunjung ke tempat ini adalah dari tayangan travelling di salah satu stasiun TV nasional. Wah, mereka saja sudah nyampe, masa saya yang lahir dan besar di Jember malah belum pernah kesana sama sekali?! Hehehe... Berawal dari itu, minggu kemarin saya mencari info bagaimana cara berkunjung kesana, prosedurnya gimana dan lain-lain. Maka diperoleh info jika harus membuat surat ijin terlebih dahulu dan ditujukan ke Kepala Puslit Kopi dan Kakao yang berkantor di Jl. PB. Sudirman 90 Jember, sebelah Gedung Bhayangkara. Seketika itu juga saya langsung membuat surat yang berisi tanggal dan waktu kunjungan serta berapa orang anggota rombongan kita. Hanya dibutuhkan waktu satu hari untuk menerima konfirmasi dari pihak mereka bahwa kita dipersilahkan berkunjung. Biayanya berapa?! It’s totally free guys!

Setibanya di pabrik pengolahan kopi dan kakao Jenggawah, saya disambut oleh salah seorang staff mereka yang akan mengantar kita berkeliling dan menjelaskan segala sesuatunya. Banyak sekali informasi yang kita dapat disini dan bebas untuk bertanya. Mulai dari mengetahui jenis-jenis kopi dan kakao, melihat proses pembuatan berbagai mesin dan peralatan serta kegunaannya, melihat proses pengolahan biji, melihat proses dan cara kerja biogas, serta yang sudah kita tunggu, berkeliling masuk ke pengolahan kopi dan kakao hingga menjadi berbagai jenis makanan dan minuman, seperti cokelat batangan, minuman kemasan, bubuk kopi dan sebagainya. Kapan lagi kita bisa melihat semua proses itu secara langsung, betul?! Hehehe...

Mendengar setiap info yang disampaikan pemandu
Proses pembuatan mesin pengolah biji kopi dan kakao

Di dalam pabrik pengolahan kakao sendiri, kita bisa melihat bagaimana biji kakao di “blender”, diayak, dipadatkan, dicairkan, dicampur susu dan gula hingga bagaimana cara mencetak dan mengemas menjadi produk yang siap dipasarkan. Seru lho, di dalam sini ruangan ber-AC jadi tidak gerah ketika harus berdekatan dengan mesin-mesin yang sedang bekerja itu. Gitu doank?! Nggak! Kita bisa mencicipi berbagai hasil setiap proses dan ketika berada di bagian pengemasan, mbaknya ngasih kita tester cokelat, hemmm... Menurut saya, cokelat disini masih diolah dengan sederhana, hanya diberi tambahan susu dan gula, jadi rasa bubuk cokelatnya masih kental terasa. Selain itu, kata bapak guide, karena tidak menggunakan bahan kimia, maka cokelat produksi asli Jember ini cepat meleleh... Bagaimana dengan di dalam pabrik pengolahan kopi?! Tidak jauh berbeda dengan di pabrik kakao, disini kita juga bisa melihat proses dari biji kopi biasa hingga menjadi kopi bubuk dan kopi instan berikut cara pengemasannya. 

Proses pencetakan cokelat batangan
Di bagian ini kita bisa mencicipi cokelat gratis, hehehe...
Ini ruang pengolahan biji kopi

Di akhir tour, kita diajak ke kantin yang menjual hasil jadi olahan dan bebas berbelanja. Ahaaayyy!! Segala macam makanan dan minuman cokelat serta kopi ada disini. Kopi bubuk ada, kopi siap minum ada, apalagi cokelat... banyaaakkk!! Anak kecil pasti sumringah kalo diajak kesini, white chocolate dan dark chocolate tersedia dalam berbagai bentuk dan kemasan, minuman cokelat, kue cokelat, ice cream semua ada dengan harga yang terjangkau. Ini semua produk yang dihasilkan oleh pabrik ini. 

Kantin tempat menjual produk jadi

FYI, mesin-mesin, biji kopi dan kakao yang dihasilkan di Perkebunan Renteng ini sudah dijual hingga ke mancanegara lho. So, untuk kalian yang ingin berwisata edukasi, disinilah tempat yang cocok untuk dikunjungi. Selain memperoleh pengetahuan mengenai kopi dan kakao, kita juga bisa mencicipi kekhasan cokelat asli Jember. Jember itu menarik dan potensial kawan! Jadi, bagi kalian yang mengira Jember hanya punya Papuma, think twice... Tujuan saya selanjutnya, mencoba offroad menggunakan 4 wheel drive dan mengunjungi pabrik pembuatan cerutu yang diekspor hingga ke Eropa, semuanya ada di Jember...

Kamis, 08 Desember 2011

MADAKARIPURA : MENYUSUR JEJAK PATIH GAJAH MADA


Madakaripura. Ahay, akhirnya saya berhasil mengunjunginya! Setelah di medio 2009 lalu saya hanya balik kucing karena ada suatu kepentingan yang lebih mendesak. Sabtu, tanggal 03 Desember 2011 kemarin, saya bersama empat orang sahabat mengunjungi air terjun ini. Lagi-lagi ini hanyalah perjalanan dadakan dan "keterpaksaan". Kenapa? Karena perjalanan ini bermula dari ancaman salah satu temen yang ngambek. "Pergi kesana atau saya turun di depan dan pulang ke Jember!!", begitu ancamnya, hahaha... Tapi, saya bersyukur karena ancamannya itu, saya berhasil melihat pesona yang ditawarkan Madakaripura, hehehe...

Madakaripura sendiri adalah air terjun yang terletak di Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Probolinggo. Konon, air terjun ini adalah tempat bersemedi Patih Gajah Mada. Tidak sulit menemukan lokasi wisata ini karena ada papan petunjuk besar di pinggir jalan yang bertuliskan "Air Terjun Madakaripura 5 km".

Sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan hijaunya pepohonan di lereng bukit. So, walaupun jauh, kita tidak akan jenuh menyusuri jalan yang ada. Pohon, berbagai tanaman dan sejuknya udara membuat perjalanan terasa mengasyikkan, jauh dari ruwetnya daerah perkotaan. Aksesnya bagaimana? Jalan menuju lokasi ini sudah beraspal. Walaupun semakin mendekati lokasi jalanan semakin sempit, namun masih bisa dilalui mobil dengan lancar.


Begitu sampai di lokasi, ada loket yang menyambut setiap pengunjung yang datang. Setelah membayar IDR 2.500/orang kita bisa memasuki area wisata. Cukup murah kan untuk mengunjungi suatu kawasan wisata?! Setelah parkir, kita melanjutkan tracking menyusuri jalan setapak untuk menuju air terjun utama di ujung jalan. Cukup jauh dan berkelok, mungkin dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menuju ke air terjun utama. Nah, agar tidak kesasar, disana ada banyak tour guide dadakan (masyarakat setempat) yang bersedia mengantar dan membantu pengunjung. Gak ada salahnya menyewa tour guide lokal seharga IDR 20K ini jika kamu baru kali pertama mengunjungi tempat ini. Selain bisa menunjukkan track yang tepat, kita juga bisa bertanya mengenai segala hal yang menyangkut Madakaripura ini. Tapi, untuk yang sudah pernah kesini atau barengan dengan rombongan yang sudah menyewa guide, tidak perlu menyewa, gak mungkin tersesat soalnya. Lumayan ngirit ongkos, hehehe...

Tracking menuju air terjun utama cukup menarik dan menantang. Kita diharuskan melewati jalan setapak dan beberapa kali menyeberangi sungai. Sepanjang perjalanan kita dimanjakan oleh damainya suasana lembah, hijaunya berbagai tanaman, indahnya bunga liar, kicauan burung, gemericik air sungai dan udara yang sejuk. Widdiiihhh, saya benar-benar menikmati tracking disini. Walaupun kaki sedikit pegel karena sebelumnya tracking di Bromo, tapi saya tidak menghiraukannya. Berjalan terus untuk menuntaskan rasa penasaran saya terhadap air terjun ini. 


Disini sebenarnya tidak hanya terdapat satu air terjun, tapi ada sekitar tujuh air terjun lainnya yang mampu menghibur kita! Hebbooohh... Begitu mendekati air terjun utama, tempat dimana Patih Gajah Mada duduk bersemedi, mulai kita jumpai penduduk setempat yang menyewakan payung dan menjual tas kresek. Payung digunakan untuk melindungi pakaian kita agar tidak basah, karena kita akan melalui jalur tepat di bawah air terjun lain yang tidak begitu deras. Sedangkan tas kresek digunakan untuk melindungi segala barang bawaan kita. Hemm... Saya menghiraukan mereka. Payung tentu saja saya tidak butuh dan kresek sudah dipersiapkan dari Jember! Hehehe...

Dan benar saja, semakin mendekati air terjun pamungkas, kita basah melewati air terjun "penyambut" yang jernih. Tapi itu seruuuu!! Ini yang dinamakan petualangan sebenarnya. Basah-basahan di bawah air terjun! Ahay! Sesampainya di air terjun paling besar di ujung jalan, saya benar-benar takjub akan keindahan yang ada. Namun, waktu kita berkunjung kurang tepat. Datang di saat musim penghujan dan siang pula. Membuat waktu kita berkunjung singkat karena diburu langit mendung dan juga warna air terjun utama ini sedang keruh, tidak sejernih pas musim kemarau. Tapi gak apa-apa lah, begini juga sudah bikin saya dan teman-teman berdecak kagum...


Tidak lama kita disana karena gerimis sudah jatuh ke tanah. Setelah bermain air dan basah kuyup, kita berjalan pulang dan mampir ke warung yang berada tidak jauh dari air terjun utama, sekitar 500 meter. Makan semangkuk mie instan, menyeruput teh dan kopi panas serta bercengkerama dengan sesama pengunjung, pemilik warung dan para guide lokal. Sungguh menyenangkan. Dari sana saya mendengar berbagai cerita, mulai dari tradisi di malam satu Suro, banyaknya orang yang berkunjung untuk mencari "ilmu" sampai bencana banjir yang sempat menelan korban.

Setelah melahap berbagai makanan ringan, kita kembali tracking menuju parkiran dan membasuh diri. Kamar mandi disini bersih dan terawat cukup baik. Dengan harga IDR 2K kita bisa menggunakannya untuk mandi membersihkan diri.


Satu hal yang cukup membuat saya kecewa, ketika sampai di parkiran, saya menjumpai mobil kita sudah dalam keadaan basah habis dicuci. Tampaknya masyarakat sekitar mencari tambahan penghasilan dengan mencuci setiap kendaraan yang terparkir, tanpa ada persetujuan pemilik kendaraan. Hmm... Bentuk premanisme yang sangat sangat halus.

Beberapa tips yang bisa saya berikan kepada kamu yang baru kali pertama mengunjungi lokasi wisata ini :

1. Waktu berkunjung paling tepat adalah di saat musim kemarau (sekitaran Agustus), untuk mendapatkan air yang jernih.

2. Bawalah pakaian ganti, tas kresek dan payung (bagi yang membutuhkan), karena dijamin 100% bakal basah.

3. Pakailah celana pendek dan sandal gunung atau sandal jepit sekalipun, karena tracking akan melewati sungai yang berbatu.

4. Bawa air minum bagi yang gak tahan haus, tracking membutuhkan waktu 2 jam an (PP).

5. Sewa guide lokal tidak mutlak walaupun kamu sedikit dipaksa, jika kamu bebarengan dengan rombongan lain yang sudah menyewa guide, kamu cukup mengikuti mereka dari belakang.


Selasa, 06 Desember 2011

BROMO... LAGI, LAGI DAN LAGI


Saya percaya setiap perjalanan mempunyai kisahnya sendiri. Begitu juga dengan perjalanan saya ke Bromo kali ini. Meskipun sudah berkali-kali mengunjunginya, tetap ada suatu keseruan dan cerita yang bisa saya ceritakan kembali ke beberapa kerabat dan kamu, sebagai pengunjung rumah saya di dunia maya ini....

Perjalanan ini merupakan perjalanan dadakan (lagi). Weekend kali ini rencana saya sebenarnya hanya mengunjungi tempat-tempat wisata di sekitaran Batu, Malang. Saya dan beberapa teman mengunjungi Batu karena kami mendapatkan tumpangan villa gratis di daerah Songgoriti, hehehe... Lumayanlah, untuk menjernihkan pikiran dari ruwetnya pekerjaan walau hanya menginap satu malam. Nah, kebetulan salah satu temen saya ada yang belum pernah ke kawah Gunung Bromo. Maka dari itu, kita bikin trip dadakan mengunjungi Gunung Bromo juga.


Perjalanan dimulai pukul 23.30 WIB, hari Jumat tanggal 02 Desember 2011. Berharap kita sampai Bromo tidak kesiangan, demi mendapatkan background sunrise di foto-foto kita, hehehe... Perjalanan kali ini lancar tanpa hambatan. Memasuki daerah Sukapura, saya tidak bisa melihat pemandangan yang ditawarkan, karena selain kaca mobil yang gelap, saat itu juga ada pemadaman listrik di daerah sana. Okelah, saya hanya bisa memejamkan mata untuk mengurangi jatah tidur yang terbuang, hehehe...

Pukul 02.30 WIB, kita sampai di parkiran atas kawasan Bromo. Udara pagi begitu menusuk tulang. Jaket kain dan celana jeans saya belum cukup untuk menangkis hawa dingin yang ada. Wuuushh, sontak badan "sedikit" menggigil dan uap air keluar di setiap hembusan nafas. Seru sih, seperti adegan di film-film kungfu, hahaha... Malam itu (saya menyebut malam karena matahari belum menampakkan dirinya), pengunjung tidak begitu banyak. Saya hanya melihat beberapa mobil dan sepeda motor yang terparkir.


Langsung saja, setelah ke toilet dan "stretching", kita melanjutkan perjalanan ke kawah Bromo. Tidak menggunakan hardtop memang, hanya mengandalkan kekuatan kaki, hehehe... Di perjalanan, suasana begitu sunyi karena tidak ada rombongan lain yang sama-sama menuju ke kawah Bromo. Hanya malam yang gelap dan hembusan angin gunung yang menemani perjalanan kita. Satu senjata yang lupa tidak kita bawa adalah senter. Ya, kita hanya mengandalkan feeling dan sensor alami di kaki untuk memilih setiap jengkal tanah yang akan kita pijak. Namun begitu, tanpa adanya sinar, membuat kita dapat memandang langit yang penuh dengan bintang. Sungguh indah langit malam itu. Saya juga beberapa kali melihat bintang jatuh, yang baru kali pertama ini saya lihat, bener-bener indah kawan.


Sempat berjalan memutar, akhirnya kita sampai di kaki Gunung Bromo. Perjalanan yang lumayan menguras tenaga, hahaha... Untung saja, setibanya di sana, kita mendapat teman seperjalanan yang hafal dengan medan yang ada, seorang penjual bunga edelweis dan seorang tukang kuda. Saya gak bisa membayangkan apa yang terjadi, mendaki Bromo tanpa adanya alat penerangan sedikitpun. Hmm, perjuangan demi melihat sunrise masih berlanjut. Jalan yang semakin tidak rata dan menanjak serta hembusan angin yang kering membuat jantung bekerja lebih keras. Belum lagi harus menaiki ratusan anak tangga, bener-bener "menyiksa" jiwa raga. Saya juga heran, kenapa dua tahun lalu saya sanggup dua kali menuju puncak Gunung Bromo dalam dua hari. Apa mungkin stamina saya sudah menurun sebegitu drastisnya?! Hahaha....


Anyway, setelah berhasil menaklukkan ratusan anak tangga (dengan istirahat berkali-kali) akhirnya saya sampai di kawah Bromo. Pendar warna jingga mulai menyala di sebelah Timur menandakan matahari akan menampakkan dirinya. Sungguh benar-benar mempesona. Walaupun ada sedikit mendung, namun tidak mengurangi keindahan yang disuguhkan alam bagi kita. Cukup lama saya dan keempat teman seperjalanan menghabiskan waktu di pinggiran kawah yang menganga lebar ini. Duduk santai menikmati pesona Bromo sekaligus memulihkan tenaga yang hilang. Perjalanan pulang sudah menanti, melihat tempat tujuan kita di atas sana yang berjarak kurang lebih 3km membuat saya kembali menghela napas, huft…


Namun, meskipun capek di perjalanan, saya akan mengunjungi Bromo lagi di lain waktu. Mencoba naik ke Penanjakan (lagi), mengunjungi Bukit Teletubbies yang belum sempat saya lihat serta berjalan menyusuri perkebunan dan perkampungan masyarakat Tengger...

Selasa, 15 November 2011

KETERPAKSAAN KE PULAU NUSA BARONG

Nusa Barong di Kejauhan
Trip kali ini berawal dari keterpaksaan. Kenapa? Alasan pertama, hari sebelumnya saya dari perjalanan ke Pantai Bandealit yang sangat-sangat melelahkan, suer!! Kedua, dana saya di bank menipis, karena banyaknya undangan kawinan di bulan ini dan biaya wisuda, huhuhu... Memang sih saya dan beberapa teman berencana mengunjungi Pulau Nusa Barong yang terletak di sebelah selatan Jember ini, tapi tidak menyangka harus mendadak seperti ini. Gimana gak mendadak, saya ditelpon hari Sabtu sore menjelang maghrib, setelah baru saja merebahkan diri di kasur sepulang dari perjalanan berat ke Bandealit. Daaannnn, bisa ditebak, dengan mudahnya saya terbujuk oleh perkataan Mas Faisol dan Mbak Eja, dua temen yang menelpon saya. Wuft, sepertinya kesaktian mereka untuk menghipnotis orang sudah selevel dengan Romy Raffael, hahaha...
 
Esok paginya, hari Minggu tanggal 13 November 2011, saya harus bangun pagi sekali, sekitar jam 04.00 WIB. Huft, mata sepertinya masih tidak mau dibuka, setelah semalam baru bisa tidur jam 24.00 WIB. Hadaaahh, seperti biasa, saya susah bangun subuh! Akhirnya, dengan sedikit paksaan, saya mandi dan mempersiapkan segala sesuatunya. Air minum (DONE), jas hujan (DONE), baju dan celana ganti (DONE). Oke, saya siap! Dan berangkatlah saya ke rumah Mas Faisol, meeting point kami di Jember. Seperti biasa, karakter orang Indonesia memang sulit diubah. Dari perjanjian awal berkumpul jam 05.00 WIB, molor sampai jam 06.00 WIB, menunggu beberapa temen lainnya.


Jam 06.00 WIB, kita memulai perjalanan. Setelah mengisi BBM di pom bensin Mangli, rombongan berangkat menuju Pantai Papuma. Lho, bukannya jika ingin ke Nusa Barong lewat Pantai Puger yak?! Setelah membaca salah satu postingan di KasKus, ternyata untuk menuju ke Nusa Barong juga bisa melalui Papuma. Selain itu, untuk menghindari Plawangan Puger, dimana sering saya dengar berita perahu terbalik dan sebagainya, membuat paranoid. Finally, setelah berjalan "santai" sekitar 60 km/jam, kita tiba di Papuma jam 07.00 WIB tepat. Parkir motor, sewa beberapa life vest, poto-poto (tetep) setelah itu kita naik perahu yang sudah menunggu. Ayeeee!! Perahu sewaan seharga IDR 1.200.000 - IDR 1.500.000 ini mampu menampung banyak penumpang. Dinaiki rombongan saya yang berjumlah 15 orang saja masih banyak tempat yang lowong. Mungkin taksiran saya sih, perahu ini bisa menampung sekitar 30 orang dan bobot maksimal kurang lebih tiga ton (kata si empunya perahu).


Ahay! Saya bener-bener antusias dengan perjalanan ini. Menyusuri Samudra Indonesia demi menuntaskan rasa penasaran akan keindahan Nusa Barong. Selain itu, menembus samudra dengan perahu motor tradisional juga menimbulkan keseruan tersendiri. Memang, tidak dipungkiri ada sedikit rasa khawatir di awal. "Amankah perjalanan kali ini??!" Saya hanya bisa berdoa dalam hati, hahaha... Berharap gelombang bersahabat dan cuaca cerah. Si bapak nelayan juga pasti menolak untuk berangkat kalau gelombang sedang jelek. Syukurlah, walaupun memang bergelombang, tapi masih dalam kadar aman. Seru!! Badan terombang-ambing. Tidak sedikit pula temen perjalanan saya yang mabok laut! Ciri-cirinya gampang, duduk diam, minim ekspresi, keringat mulai membanjiri wajah daaaannn... JACKPOT! Hahaha... Saya juga ikut-ikutan pusing melihat banyak orang bermabok ria, akhirnya saya ambil posisi duduk di depan perahu dan melihat jauh ke depan. Daripada saya ikut-ikutan dapet jackpot, hehehe... Karena pengalaman ini, saya sarankan jangan lupa minum obat anti mabok, buat jaga-jaga. Di perahu panas gak??! YA JELAS!! Jadi, buat kalian yang gak pengen hitam, jangan lupa memakai sunblock, topi, kacamata hitam, jaket, celana panjang, kaos kaki dan sarung tangan! Wkwkwk.... Kalo saya seh, "Gak ke pantai namanya kalo kulit gak terbakar matahari!", hehehe... Tapi, jangan khawatir kok, masih ada beberapa bagian kapal yang terlindungi dari sinar matahari, jadi bisa buat tempat berteduh.


Pemandangan di perjalanan, selain dimana-mana nampak air laut yang biru (iyalah, namanya juga samudra! -__-a), kita juga bisa menikmati batu karang dan tebing. Bukit kapur di Puger juga nampak putih di kejauhan. Yah, untuk menghilangkan kejenuhan di perjalanan yang hampir memakan waktu dua jam, saya dan beberapa teman yang bertahan asik mengabadikan momen. Sebagian lainnya yang mabok laut, memilih tidur di bawah pelindung seadanya. Jaket dan terpal menjadi pelindung dari sengatan matahari, tas dan gulungan celana atau semacamnya menjadi bantal sementara. Tidak peduli kalo kayu perahu ini sering bersinggungan dengan ikan, yang penting dapet posisi yang nyaman.





Jam 08.45, perahu kita mendarat di sebuah teluk. Teluk Jeruk orang menyebutnya. Widddiihh, pemandangannya ajiiibbb meeennnn!!! Ini dia tipe pantai yang saya suka. Ombak yang tenang, air yang jernih, gradasi warna air yang oke, pasir putih yang lembut dan pemandangan sekitar yang hijau membuat tempat ini LAYAK untuk dijadikan tujuan wisata jika kamu berkunjung ke Jember. Pulau ini tidak berpenghuni. Oleh karena itu, berada disini layaknya kita sedang berada di private beach! Bener-bener masih alami yang jauh dari jangkauan tangan jahil manusia. Kita bisa berenang bebas disini. Kadar garam yang lumayan tinggi, membuat tubuh kita mengapung walau hanya dalam keadaan diam. Ajib bukan kondisi seperti ini??! Dua jam an kita bermain disini. Berenang, makan siang, berjemur dan poto-poto tentunya. Sayang banget jika tidak mengabadikan diri di tempat ini! Temen saya yang sudah pernah ke Pulau Sempu dan Phi-Phi Island saja juga berdecak kagum dengan keindahan yang disuguhkan pantai ini, “Wah, seperti bukan di Jawa yah?”. Hemm, sebuah compliment yang cukup beralasan untuk menggambarkan keindahan Teluk Jeruk ini.





Sekitar jam 11.00 WIB lebih, setelah puas di tempat ini, kita diajak mengunjungi spot lainnya oleh si bapak nelayan. Katanya ada pantai yang lebih bagus lagi. Jaraknya? Sekitar 45 menit berlayar dari Teluk Jeruk ini. Dan, setelah 45 menit berpanas-panas ria di dek kapal, kita sampai di sebuah pantai. Bedanya, garis pantai disini lebih panjang dan pasirnya jauuuhhhh lebih halus! Setelah dibandingkan dengan koleksi pasir pantai saya (Balekambang, Pulau Sempu, Papuma, Slopeng dan Lombang) ini yang paling putih dan halusss… Kebayang gak?! Jadilah waktu itu, kita kembali menceburkan diri di birunya air laut walau tidak selama di Teluk Jeruk.



Jam 13.30, kita kembali pulang. Yah, liburan kali ini harus berakhir. Saking panas dan capeknya, saya rebahan dan tertidur di bawah terpal dengan beralaskan gulungan celana temen saya, hehehe… Gelombang pulang tidak seheboh pas perjalanan di pagi hari. Kali ini lebih smooth. Dan bisa dipastikan, tidak ada temen saya yang dapet jackpot! Ketika terbangun dan bercengkerama dengan beberapa temen, saya mendapat sebuah kejutan pamungkas. Seekor ikan paus menampakkan dirinya, menyemburkan air ke permukaan! Ya, paus seukuran perahu kami! Hahaha… Kejutan yang menarik, membuat temen-temen yang tertidur langsung terbangun karena teriakan kaget kami melihat paus!! Setibanya di Papuma, karena perut lapar, kita melanjutkan makan ikan bakar di warung Pak Yet. Seekor ikan putihan besar menjadi penutup trip kita hari itu.



Wuhh, bener-bener suatu pengalaman trip yang luar biasa! Walaupun kulit terbakar dan menghasilkan efek seperti kepiting rebus, saya puaaasss!!! Setelah hidup dan tinggal di Jember selama 24 tahun, akhirnya saya menemukan the best spot in town!! PULAU NUSABARONG! Setelah sekian lama memendam keinginan dan berawal dari keterpaksaan, akhirnya saya terpuaskan. Terima kasih buat Mas Faisol dan Mbak Eja yang telah memaksa saya untuk joint di trip kali ini, hehehe… Lain kali saya PASTI berlibur ke pulau ini! So, buat kalian yang berencana ke Jember, jangan lewatkan untuk berkunjung ke pulau ini. Gak perlu khawatir akan kedahsyatan ombak Samudera Indonesia, karena nelayan disana juga bakal nolak kalau insting mereka mengatakan ombak terlalu bahaya. Selamat menjelajahi Pulau Nusa Barong kawan…!!