Tampilkan postingan dengan label hangout. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hangout. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Februari 2012

AYO KITA NONGKRONG (di JEMBER)

Jember memang hanyalah sebuah kota kecil di ujung timur Pulau Jawa dan tidak banyak yang bisa dieksplor di kabupaten yang juga dikenal sebagai penghasil tembakau ini. Mungkin hanya dibutuhkan waktu 1 sampai 2 hari saja untuk menikmati segala pesona yang ditawarkan. Bagaimana dengan tempat hiburan dan nongkrong?! Hmm, banyak sih. Ada karaoke house, lounge bahkan club. Jangan bayangkan Jember itu sebagai kota yang benar-benar mati dan tidak cocok untuk dijadikan kota tinggal, hahaha... Nah, setelah "cukup" lama tinggal di Jember, saya mempunyai beberapa tempat nongkrong favorit yang bisa dijadikan alternatif ketika kamu berkunjung ke kota terbesar ketiga di Jawa Timur ini. Inilah beberapa rekomendasi saya :

1. Pujasera Citarum


Pujasera ini berlokasi di jalan kecil antara BRI dan Bank Mandiri Alun-alun Jember. Disini terdapat banyak sekali food stalls atau penjual makanan kaki lima. Walaupun hanya berlabel "kaki lima" namun makanan yang mereka jual tidak murahan. Banyak makanan enak disini. Menurut saya sih pujasera ini yang paling essip makanannya. Mulai dari jagung bakar, ayam goreng, kupang sampai seafood. Dari sekian banyak stand, kalau untuk sekedar nongkrong, saya memilih "Es Bogel" yang berada di ujung jalan. Kenapa?! Karena lokasinya memungkinkan saya untuk menikmati suasana lalu lintas alun-alun di malam hari. Biasanya sih saya juga membeli jagung bakar. Selain itu, disini kita bisa mendengar musik dangdut dengan suara keras dari kios VCD di sebelah penjual jagung bakar, rame oy! Tidak jarang kita dikagetkan dengan lagu yang lirik ataupun nadanya mengundang tawa, hahaha...


2. Wedang Cor Perhutani


Sisi menarik dari tempat ini menurut saya adalah "kesunyian" dan "kesederhanaannya". Berlokasi di gang sebelah kantor Perhutani Jember di daerah Sumbersari, kita bisa ngobrol santai dengan kerabat sambil menikmati gorengan dan wedang cor, sebuah minuman khas dari kota Jember. Karena lokasinya ada di dalam gang, maka jauh dari kebisingan kendaraan bermotor yang melintas. Warung ini beroperasi setiap hari, mulai pukul 17.00 sampai dini hari. 


3. Ketan Cethol Jompo


Berlokasi di "bawah" Jembatan Jompo, kita bisa menghabiskan malam dengan menikmati ketan bubuk, sate usus, gorengan, STMJ ataupun minuman hangat lainnya. Ketan ini buka sekitar jam 9 malam sampai dini hari.. Ya, semacam angkringan lah kalau di Jogja. Tempat ini juga asyik dijadikan "arena" ngobrol santai sambil sesekali melihat kendaraan yang sedang melintas di jalan raya.


4. Warung Tera'


"Warung" yang terletak di Jl. Hayam Wuruk ini menyajikan berbagai makanan khas Timur Tengah. Antara lain : kebab, nasi kebuli, roti maryam dan lain-lain. Kita bisa santai duduk lesehan menikmati makanan dan minuman sambil diiringi dengan alunan musik padang pasir. Disini kita juga bisa menikmati sisha sambil bercengkerama dengan kerabat. Warung ini buka mulai pukul 5 sore sampai dini hari. 


5. Restoran Hotel Royal


Kalau yang ini sedikit naik tingkatan teman, hehehe... Di restoran hotel yang baru saja beroperasi di Jalan Karimata ini kita dapat menjumpai berbagai makanan enak dengan harga yang masih rasional. Jangan tertipu dengan kemewahan tempat. Kamu bisa mendapati masakan Indonesia, Chinesse sampai Eropa seperti steak di kisaran IDR 8 ribu sampai IDR 50 ribu lah. Yang paling saya suka dari tempat ini adalah sofanya!! Ya, sofa yang bener-bener empuk dan amat sangat nyaman untuk dijadikan peraduan berleyeh-leyeh, sehingga kita bisa betah ngobrol berlama-lama di tempat ini. Hal itu juga ditunjang dengan suasana yang temaram dan cozy. Selain itu, disini juga terdapat LCD dan mereka mempunyai saluran TV kabel. Jadi kita bisa menonton film dari channel luar bersama teman-teman.


6. The Coffee Shop

Terpaksa upload yang ini guys, gak punya stok yang lain (harap maklum) ;p

Bisa dibilang kafe yang ada di Ruko Gajah Mada Square, Jl. Gajah Mada ini adalah salah satu kafe elit di Jember. Design interiornya sih keren. Pencahayaan yang temaram, tidak terlalu bising dan ada electone. Membuat siapa saja betah berlama-lama. Makanan dan minumannya juga enak kok. Nah, buat kamu yang narsis, cafe ini cocok dijadikan tempat unjuk gigi, hehehe... Meskipun tempatnya oke dan saya suka, namun saya jarang kesini, ya gara-gara harganya itu lho, terlalu menohok bagi orang seperti saya, hahaha... Sebagai gambaran, saya pernah makan spaghetti dan segelas chocolate ice (kalo gak salah), butuh duit sekitar IDR 40K. Bisa bangkrut kalo tiap weekend mengunjungi tempat ini. Tapi tidak ada salahnya sesekali kesini setelah gajian, wkwkwk...

Sebenarnya ada satu lagi tempat nongkrong favorit saya, yaitu ronde di depan Gedung Flexi Alun-alun Jember. Disana hanya dengan uang IDR 3.000, kita bisa menikmati semangkuk ronde dan FREE WIFI dengan kecepatan tinggi, plus bebas mau nongkrong sampai jam berapa, walaupun kita hanya pesan 1 mangkuk, wkwkwk... Ya, karena lokasinya yang berhimpitan tembok dengan Flexi Center (berada di trotoar), maka sinyal WIFI mereka masih bisa kita manfaatkan, walaupun hanya sampai Cafe Flexi tutup sekitar jam setengah sebelas malam. Namun sayang, sebelum tulisan ini saya posting, pemerintah daerah merelokasi para penjaja makanan kaki lima ini. Tidak lagi di depan Gedung Flexi, melainkan di sepanjang Jl. Kartini. Yah, agak bergeser dikit lah dari lokasi semula.

In memories
So, bagi kamu yang sedang berkunjung ke Jember dan bingung mau kemana, tidak ada salahnya mencoba tempat-tempat favorit saya di atas... :D

Minggu, 22 Januari 2012

KULINER NYENTRIK : NASI GORENG JANCUK

Billboard yang membuat "penasaran"
Apa yang pertama kali terlintas di pikiran kamu ketika mendengar kata JANCUK?! Saru? Vulgar? Kasar? Ya, sayapun demikian. Anehnya, ada satu hotel di Surabaya yang memberi nama masakannya dengan nama “jancuk”. Bisa dibilang inilah masakan dengan nama ternyentrik yang pernah saya cicipi, hahaha... Bagi kamu yang belum mengerti maksud saya, “jancuk” adalah sebuah umpatan kasar yang biasa dilontarkan oleh arek Suroboyo. Yah, seperti kata “f*uck” yang biasa dilontarkan orang barat sana dan orang yang kebarat-baratan, atau “as*” bagi orang Jogja ketika mereka sedang kesal. Namun, seiring berjalannya waktu, orang Surabaya dan sebagian Jawa Timur tidak jarang menggunakan kata “jancuk” sebagai panggilan “akrab” ketika sedang berjumpa dan ngobrol dengan sahabat mereka, hehehe... Seperti ini, “Heh cuk!! Yaopo kabare?!” (Heh cuk!! Bagaimana kabarnya?!).

Itulah sekilas informasi mengenai kata “jancuk”, nah sekarang kembali ke topik “permasalahan”, hehehe... Saya mendengar NASI GORENG JANCUK ini pertengahan tahun lalu. Namun, baru kesampaian makan hari Sabtu kemarin, tanggal 21 Januari 2012. Hal yang membuat saya panasaran, selain kata-kata kasarnya, juga karena kalimat promosi mereka di sebuah mini billboard. “Anda belum sampai di Surabaya jika belum mencoba Nasi Goreng Jancuk...”. Sebuah bentuk marketing yang sangat sukses menarik minat konsumen, apalagi kalangan muda, menurut saya. “Dimana saya bisa menemukan Nasi Goreng Jancuk ini?!” Kamu bisa menemukan masakan nyentrik ini di Kartini Resto, restoran Surabaya Plaza Hotel yang  berlokasi di Plaza Boulevard, Jl. Pemuda 31-37 Surabaya, belakang Mall Surabaya Plaza persis. 

Interior restoran
Begitu sampai dan duduk manis di salah satu meja, seorang waitress menghampiri saya dan beberapa sahabat. Belum menyerahkan buku menu, dia sudah menawari kami begini, “Selamat siang, mau pesan nasi goreng Paket Mbledhoz atau Mbledhoz Plaz?!” Nah lo! Darimana dia tahu kalau kita mau makan nasi goreng?! Cenayang ya?! Hahaha... Bukan, ternyata selidik punya selidik, sebagian besar orang yang berkunjung ke restoran ini ya karena ingin menuntaskan rasa penasaran mereka akan nasi goreng jancuk. Langsunglah kita memesan satu “Paket Mbledhoz”, yang terdiri dari satu porsi Nasi Goreng Jancuk dan satu pitcher es teh. Berapa harganya?! IDR 99.500 (incl. Tax). Mahal amaaattt??! Nggak kok, satu porsi nasi goreng ini diperuntukkan bagi 5 orang.

Mbaknya malu-malu buat dipoto ;p
Gak lama menunggu, menu pesanan kita terhidang di atas meja. Pertama satu pitcher besar berisi es teh manis dan ini, yang ditunggu-tunggu, satu buah wajan ukuran sedang berisi nasi goreng. Woohoooo, porsinya bener-bener banyak mennnn...!! Hahaha... Dengan aroma terasi yang langsung tercium, taburan bawang goreng, irisan telur dadar, acar, timun, tomat, cabe rawit dan satu buah kerupuk udang sudah membuat saya ngiler. Di dalamnya sendiri ada irisan daging ayam, udang dan kepiting. Begitu suapan pertama masuk ke mulut, “Jannnnccc***kkk!!” nasi goreng ini bener-bener pedas!! Wuww, rasa pedas langsung menyebar ke seluruh mulut. Gak salah nih, ngasih nama jancuk, hahaha... Tetapi, meskipun demikian, suapan demi suapan terus masuk ke mulut saya. Enak soalnya, hehehe... Pantes saja, begitu diteliti lebih mendalam (ceilee...), saya menemukan bannyyyaaakk sekali irisan cabe rawit oranye diantara tumpukan nasi. Menurut rumor yang beredar, mereka menggunakan 100 gram cabe di dalam bumbunya. Gile benerrr...!! Setelah mencapai sekitar 20 suapan, gejala “kepedesan” sudah mulai nampak. Hidung, lidah, pangkal tenggorokan dan perut terasa panas, saya juga banjir keringat, padahal restoran ini sudah ber-AC, huft... 

Ini nih, penampakan Nasi Goreng Jancuk
Untuk menetralisir rasa pedas yang ditimbulkan, es teh manis yang ada dalam satu paket cukup untuk meredakannya. Rasanya sendiri pas, tidak begitu manis dan pekat. Selain itu, kami juga sempat memesan satu porsi fruit salad, yang lagi-lagi diperuntukkan bagi 5 orang seharga IDR 57.500 (exc. Tax). Di dalamnya ada nanas, melon, semangka, pepaya, strawberry, anggur dan irisan jeruk di pinggiran piring. Rasanya?! Hmmm... lumayan, walaupun menurut saya dressing-nya sedikit hambar, kurang asam.

Fruit Salad
Saat membayar tagihan, iseng-iseng saya bertanya asal mula ide menciptakan nasi goreng yang bener-bener njancuki (istilah Jawa) ini kepada mbak kasir. Ternyata menurut dia, setahunan lalu sang koki menyiapkan makan siang untuk beberapa manager di hotel tersebut dan memasaknya dalam sekali proses. Jadi porsi besar saat ini yang dihidangkan ke pengunjung ya gara-gara hal tersebut. Lalu kata “jancuk” darimana?! Dari komentar salah seorang manager yang sempat nyelethuk, “Jancuk! Cek pedese!!” (Jancuk! Terlalu pedas!!). Sayapun dibuat tertawa mendengar penjelasan tersebut, hahaha...

So, untuk kalian yang sedang berkunjung ke Surabaya, tidak ada salahnya mencicipi kuliner “heboh” yang menggunakan bahan alami (tanpa saos) ini dan ujilah tingkat kepedasan kamu serta bagaimana daya tahan mulutmu untuk tidak mengucap kata “jancuuukkk...!”, hahaha...


ps : semoga artikel saya ini layak tayang dan tidak disensor 

Selasa, 15 November 2011

RESORT DI ATAS AWAN

Gak salah kalau saya menyebut kawasan Resort World Genting ini sebagai resort di atas awan. Kenapa?! Karena kawasan ini dibangun di atas pegunungan dengan ketinggian sekitar 2000 kaki di atas permukaan air laut. Seluruh bangunan ini sepertinya tidak memerlukan AC, karena suhu rata-rata sepanjang tahun adalah 20 derajat Celcius. Pas saya kesini, wuiihh, dinginnya tidak membuat mata jadi ngantuk, hahaha…


Untuk mencapai resort ini, pengunjung dapat menggunakan dua jalur. Pertama menggunakan kendaraan pribadi dan menyusuri jalan aspal yang ada hingga mencapai puncak. Kedua, kamu bisa naik dengan menggunakan cable car yang tersedia setiap saat. Dengan isi maksimal delapan orang, cable car ini siap mengantar setiap pengunjung ke atas. Saya menggunakan jasa cable car ini untuk perjalanan awal. Mungkin diperlukan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai Genting Highland. Selama perjalanan di atas, kamu bisa melihat pemandangan hijaunya pegunungan dan merasakan ketenangan sesaat, hehehe… Aman kok, jadi buat kamu yang takut ketinggian, gak perlu resah dan gelisah (kayak lagu jadul aja, hahaha…). It’s totally safe! Mungkin terasa sedikit geronjalan ketika melewati setiap tiang penyangga. Selain itu, cable car ini bener-bener menembus awan…!



Sesampainya di atas, widih udara nya bener-bener “seger dan sejuk”, termometer dinding menunjukkan angka 21 derajat Celcius. Sepertinya saya salah kostum, dateng kesini dengan memakai kaos tipis, celana pendek dan sandal! Hahaha… Tapi untunglah, badan saya cepat menyesuaikan diri. Di Genting Highland ini terdapat berbagai macam atraksi dan permainan (disini ada dua theme park, indoor dan outdoor), enam hotel (bintang 3 sampai bintang 5), ruang konser serta ratusan toko dan restoran. Jadi disini seperti all in one entertainment spot. Bisa untuk seluruh keluarga, mulai anak-anak sampai kakek nenek.





Hemm, ketika saya berada di dalam gedung, banyak terlihat restoran dan toko-toko layaknya mall. Disini juga banyak terlihat mainan anak-anak. Seperti mesin ding-dong dan permainan-permainan modern lainnya. Sepertinya indoor theme park disini dikhususkan untuk anak-anak, walaupun ada beberapa wahana yang “lumayan” ekstrem, tapi masih aman dimainkan oleh anak-anak. Ditambah pula dengan berbagai patung dan pernak-pernik lainnya yang unyu-unyu, hehehe…




Nah, di bagian luar ini yang seru, outdoor theme park. Disini banyak wahana menantang, antara lain : Pirate Ship, Spinner, Rolling Thunder Mine Train, Sungai Rejang Flume Ride, Space Shot, Flying Coaster dan sebagainya. Kebetulan karena waktu yang singkat, saya hanya mencoba Flying Coaster. Wah SERUUU!! Kita tidak duduk sebagaimana roller coaster lainnya, tapi posisi kali ini tidur, layaknya Superman yang sedang terbang! Pengalaman baru yang bener-bener mengasyikkan. Udara dingin membuat tubuh gemetar, hehehe…



Setelahnya, saya kembali ke rombongan dan melanjutkan perjalanan ke LCCT untuk kembali ke Indonesia. Hemm, bener-bener pengalaman yang tidak mungkin saya lupakan. See you KL!

Senin, 31 Oktober 2011

MENGUKUR JALAN DI BUKIT BINTANG

Peta Kawasan bukit Bintang
Kebetulan selama berada di Kuala Lumpur, hotel saya ada di daerah Bukit Bintang. Sekedar info, Bukit Bintang adalah kawasan segitiga emas Kuala Lumpur. Disini merupakan pusat keramaian, mall, cafĂ©, toko semuanya ada. Banyak juga yang mengatakan bahwa kawasan ini layaknya Orchard Road di Singapura. Wah, tentu mudah mencari hiburan di sekitaran hotel! Yippiieee…

Setelah ada pemberitahuan dari panitia mengenai dimana saya akan menginap di Kuala Lumpur dan kapan bisa bebas berkeliaran seorang diri tanpa rombongan, saya langsung mencari CouchSurfer Kuala Lumpur untuk menjadi host saya, sekedar untuk menemani jalan dan menunjukkan tempat-tempat yang oke di sekitaran Bukit Bintang. Beberapa email saya sebar dan akhirnya ada satu orang yang berminat menunjukkan lebih dalam kawasan Bukit Bintang. Andreas Richterich namanya, seorang warga Jerman yang sudah dua tahun hidup dan bekerja di Kuala Lumpur. Dia bersedia mengantar saya berkeliling daerah Bukit Bintang. Kita juga sudah bertukar nomor telepon, sehingga pas saya di KL nanti, lebih mudah untuk saling menghubungi.

Malam pertama setelah tiba di KL, rombongan saya baru masuk hotel sekitar jam 11 malam waktu setempat. Sudah terlalu malam untuk menghubungi Andy, nama panggilan host saya. Sungkan, hehehe… Gak tahu diri banget kalo saya tetap ngotot ingin ditemani jalan, yah, walaupun dia oke-oke saja. Akhirnya, saya memutuskan untuk berkeliling sekitaran hotel seorang diri. Sayang jika waktu yang saya punya hanya untuk dihabiskan di dalam kamar hotel. Walaupun badan capek, tapi semangat dan keantusiasan mengalahkan segalanya, hehehe… 

Suasana di Depan Hotel

Sebuah Club Malam di Bukit Bintang


Setelah cuci muka dan meletakkan barang bawaan, saya langsung bergegas menuju pintu keluar hotel. Tengak-tengok ke kanan dan kiri, sama ramenya! Hahaha… So, saya cuma mengikuti kata hati dan melangkahkan kaki tanpa tujuan. Di jalan Bukit Bintang ini banyak ditemui tukang massage. Mereka menawarkan jasa layaknya menawarkan makanan. Rame! Merayu setiap pejalan kaki untuk mampir ke kedai massage-nya. Hemm, oke, skip this option… Walaupun kaki pegel, tapi saya sayang untuk membuang uang hanya untuk dipijat, hehehe… Saya teruuuusss jalan, sambil melihat-lihat beberapa toko yang saya lewati. Dan, sampai akhirnya, saya memutuskan untuk ke Jalan Alor. Sempat bertanya dimana letaknya pada seorang penjaja kaki lima, akhirnya saya menemukannya.


Menurut data yang sudah saya dapat ketika masih di Indonesia, jika di kawasan Bukit Bintang, kamu harus mampir ke Jalan Alor ini. Kenapa?! Karena disini pusatnya jajanan murah pinggir jalan. Uyeee….!! Tempatnya seperti Kya-Kya di Surabaya, hanya saja tidak menggunakan seluruh badan jalan, hanya setengahnya. Jadi, setengah badan jalan lainnya masih bisa dilalui kendaraan satu arah. Begitu sampai di mulut jalan, waahhhm berbagai macam kedai berjejeran dan meja-mejapun dipenuhi oleh para pecinta kuliner. Sepenglihatan saya, kebanyakan disini adalah chinesse food, tapi ada juga beberapa penjual seafood dan masakan khas melayu. Hemm, aroma masakan menusuk hidung. Saya hanya berjalan saja, sambil mencari-cari makanan yang aneh menurut saya. Dan akhirnya, saya menemukan sebuah mobil penjual aneka sate seafood. Setelah melihat apa saja yang disediakan, saya memilih sate ubur-ubur dan sotong (cumi raksasa). Ada dua pilihan cara memasaknya, direbus atau digoreng. Saya memilih direbus. Setelah matang, dua sate itu disiram dengan sejenis kuah yang rasanya asem pedas. Rasanya gimana?! Untuk sotong, seperti makan cumi pada umumnya, tapi ini lebih sedikit liat dan kenyal. Kalau ubur-uburnya, hemm, kres-kres gimanaaa gitu, hahaha… Harganya?! Sekitar RM 8,3. 

Kawasan Jalan Alor

Sate Ubur-Ubur dan Sotong
Setelah menghabiskan dua tusuk sate, saya berjalan lagi sampai akhirnya bertemu dengan penjual Tau Foo. Setelah saya amati, ternyata mirip tauhwa kalo disini. Itu lho, makanan dari sari tahu yang lembut lalu disiram dengan air jahe. Nah, bedanya kalau yang ini bukan menggunakan air jahe, tetapi dengan menggunakan air gula dan dapat dinikmati dingin. Segerrr banget, hemm… enak! Hehehe… Setelah menghabiskan semangkuk Tau Foo seharga RM 5, waktu sudah menunjukkan pukul 00.30. Mata sudah sedikit ngantuk dan kaki sudah teramat pegal. Akhirnya saya memutuskan ke hotel dan tidur….



***

Malam kedua, setelah makan malam bersama rombongan, saya menghubungi Andy. Ternyata, dia sudah menunggu saya di lobby hotel, padahal saya belum sampai di hotel, mungkin berjarak sekitar 10 menit. Wah, gilak, baik banget nih orang mau nunggu. Setelah sampai hotel, saya langsung mengenali wajahnya. Pria bule, kurus, berambut putih. Ya, Andy sudah berumur 51 tahun, tapi tau gak?! Outfit-nya persis seperti orang yang berumur 30 tahunan. Kemeja kotak-kotak, celana jeans, tas selempang dan sepasang sepatu kets. Biarpun usia sudah senja, tapi penampilan harus tetap muda, hehehe… Bercengkerama sebentar di lobby, kemudian kita langsung jalan-jalan. Ya, kali ini jalan yang sebenar-benarnya, tanpa menggunakan kendaraan dan alat transportasi apapun, hehehe…

Andy bertanya saya ingin jalan-jalan kemana dan saya mengatakan ingin beli oleh-oleh, makan makanan lokal serta pergi ke tempat yang oke. Maka, dia langsung mengantar saya ke kawasan China Town, sebuah kawasan pecinan yang banyak terdapat penjual souvenir khas KL. Berjarak sekitar 20 menit berjalan kaki dari hotel Federal, tempat saya menginap. Setelah oleh-oleh ada di tangan, dia mengantar saya ke Merdeka Square. Seperti alun-alun lah, disekelilingnya terdapat gedung pemerintahan, yang bangunannya kuno buatan Inggris. Cantik! Dengan lampu LED yang berwarna-warni, semakin meperlihatkan keanggunan bangunan. 

Salah Satu Sudut China Town
Bangunan di Depan Merdeka Square
Di lapangan ini saya bertemu dengan segerombolan warga negara Libya yang tinggal di KL. Mereka menari dan memainkan musik layaknya orang berpesta. Tahu kenapa?! Ya, mereka merayakan kematian pemimpin diktator mereka, Muammar Gaddafi. Dengan bendera baru mereka meluapkan rasa kegembiraannya. Sesuatu yang unik menurut saya. Kata Andy, pemerintah Malaysia tidak melarang setiap warganya berkumpul dan melakukan kegiatan semacam ini, asalkan tidak mengganggu ketertiban. Hemm, nice… Saya dan Andy juga diajak berfoto bersama mereka! Hahaha… sudah kayak turis beneran kalo begini, hehehe…

They're all Libyan
Saya, Andy dan The Libyans


Setelah dari Merdeka Square, kembali saya diajak berjalan ke salah satu masjid tertua di Kuala Lumpur. Saya lupa nama masjidnya, yang saya ingat adalah letak masjid ini di muara sungai dengan arsitektur yang cantik pula. Kemudian, kita berjalan (lagi) menuju ke kampung India. Disini kawasan etnis India bermukim di KL. Toko-toko, restoran dan kedai-kedai semua menawarkan hal-hal serba India, mulai kain sari, bunga-bungaan sampai roti canai. Yah, untuk melepas lelah, saya diajak nongkrong di salah satu kedai. Kecil memang, tapi ini yang paling ramai saat itu. Makannya juga di pinggir jalan. Saya memesan seporsi roti canai dan segelas teh tarik. Cukup lah ya untuk mewakili kuliner khas Malaysia, hehehe… Saya cukup menghabiskan RM 7 untuk tiga porsi roti canai, dua gelas lemon tea dan segelas teh tarik. Murah ya???



Roti Canai dan Teh Tarik
Setelah sedikit kenyang, sebenernya saya masih ingin ke Twin Tower. Tapi berhubung waktu sudah terlalu malam, sekitar 01.30 waktu setempat, tidak memungkinkan bagi saya untuk terus kelayapan. Alasannya, Petronas agak jauh dari posisi saya sekarang, tidak ada LRT yang beroperasi, lampu Petronas sudah dimatikan, besok saya harus bangung sekitar jam 06.00 waktu setempat dan yang terakhir kasihan host saya, hehehe… Akhirnya saya memutuskan untuk mengakhiri petualangan saya hari itu. Andy memberitahu jika jalan kaki, saya butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di hotel. WHATTT?! Jauh amaaattt!!! Hahaha… So, dengan alasan keamanan dan kesehatan (kaki), saya memilih untuk naik taksi. Gak mahal?! Setelah nego, saya hanya kena RM 10. Gapapalah, daripada kaki saya gempor! Hahaha…

Sisa-sisa Ringgit
So, itulah akhir perjalanan saya “ngeluyur” tanpa rombongan, ditemani oleh seseorang yang tahu akan KL. Senang rasanya. Saya dan Andy berpisah di sebuah lampu merah dan masing-masing menuju ke arah yang berlawanan. Sungguh tidak menyesal saya gabung dengan komunitas ini (CouchSurfing). Mengapa? Karena saya merasa memiliki saudara di setiap kota, tidak hanya di Indonesia saja, tetapi di seluruh dunia!! :D


Sumber gambar peta : google