Tampilkan postingan dengan label Madura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madura. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Oktober 2011

KEMBALI KE MADURA

Foto dan Ide Cerita : Aaron Setiawan

Kembali ke Madura. Ya, sepertinya touring ke pulau garam di minggu kedua bulan September kemarin belum cukup bagi saya untuk mengunjungi tempat-tempat menarik di pulau itu. So, ketika ada tawaran untuk mengunjunginya lagi, saya langsung berkata, “Oke, I’m in…!”. Tujuan awal saya kali ini adalah berkunjung ke kampung pasir, pantai Slopeng dan bukit kapur, karena saat kunjungan pertama belum sempat kesana. Kebetulan, hari dimana saya akan berada di Madura, tanggal 08-09 Oktober 2011 ini bertepatan dengan lomba karapan sapi. Yey!! Bonus tambahan neh, hehehe…

Perjalanan kali ini, saya tidak lagi menggunakan sepeda motor seperti pengalaman pertama, CAPEK soalnya! Hahaha… Kali ini saya menggunakan jasa bus dan berangkat seorang diri, kemudian sesampainya disana akan dijemput Hari, temen kantor yang sudah lebih dulu sampai di Sumenep.  Berangkat dari Terminal Tawang Alun Jember, tanggal 07 Oktober 2011, jam 19.32 WIB, Bus Akas Asri yang saya tumpangi melaju ke Sumenep. Dengan harga tiket IDR 60K, saya bisa menikmati perjalanan tanpa bersusah payah melawan dingin dan kantuk yang kadang menghinggapi saat bersepeda. Hemm, kali ini saya hanya duduk santai dan tinggal merem kalo kantuk datang, hehehe… Butuh sekitar sembilan jam perjalanan untuk sampai ke Sumenep. Tepat jam 04.50 WIB saya menginjakkan kaki di Terminal Arya Wiraraja. Hadaaah, disaat mau menghubungi Hari, baterai bebe saya habis. Terpaksa dengan wajah memelas, minta ijin numpang nge-charge di pos satpam terminal, hehehe… Setelah, cukup terisi, saya langsung menghubungi Hari, pengen cepat-cepat istirahat di rumahnya di Kecamatan Lenteng sana, sekedar merebahkan diri dan meluruskan otot yang tertekuk selama sembilan jam! Hahaha…

Jam 09.15 WIB, setelah tidur dan mandi, saya membeli sarapan. Lagi-lagi rujak campur yang menjadi pilihan saya, hanya dengan IDR 2.500 saya sudah mendapatkan sepiring rujak campur dan segelas air mineral. Murah kan ya??! Jam 11.00 WIB, tanpa membuang waktu, saya, Hari dan seorang temannya, Arif berangkat ke Pantai Slopeng dengan mengendarai motor. Jam 11.45 WIB, kami sampai di Pantai Slopeng yang berada di Kecamatan Dasuk, Sumenep. Pantai ini ternyata lebih ramai daripada Pantai Lombang yang pernah saya datangi sebelumnya. Disini sudah ada beberapa fasilitas, seperti arena bermain anak, gazebo dan persewaan kuda. Pasir di pantai ini tidak kalah halus dengan pasir Lombang. Yang membedakannya dengan Lombang mungkin, disini ada perkampungan nelayan. Tetapi, walaupun lebih “lengkap”, menurut saya Lombang tetap lebih indah, dengan pasir putihnya yang begitu lembut dan vegetasi yang lebih unik daripada pantai ini. Puas berkeliling, kami mencoba menikmati kuliner yang bisa ditemui disini. Kami membeli rujak khas Slopeng dan es degan. Sekitar IDR 8K, lumayan murahlah untuk harga makanan di kawasan wisata seperti ini. Oya, tidak lupa saya memasukkan pasir ke dalam botol bekas untuk oleh-oleh si Andre, karena tidak bisa ikut di perjalanan kali ini, hahaha…





Jam 13.30 WIB, kami meninggalkan Pantai Slopeng dan melanjutkan perjalanan ke tambang batu kapur yang berada di Kecamatan Batuputih, Sumenep. Butuh waktu 45 menit untuk sampai ke lokasi ini dari Slopeng. Ternyata, saya baru tahu kalau batu bata putih yang digunakan untuk membangun rumah di daerah Madura berasal dari kawasan ini. Disini terdapat beberapa area penambangan dan ketika saya sampai, sudah ada beberapa truk yang sudah siap mengangkut batu bata ini. Berkunjung kesini juga memberikan saya pengetahuan baru. Kenapa?! Karena saya bisa melihat proses pembuatan batu bata putih ini. Pada awalnya, batu kapur diratakan dengan gergaji mesin. Setelah rata, kemudian digergaji lagi sedalam 10 cm sehingga membentu persegi panjang. Setelah itu, para penambang mencangkul cetakan tersebut sehingga batu bata tersebut siap didistribusikan. Pemandangan disini?! Uwwooooww, luar biasa!! Saya serasa berada di GWK Bali sana, bukit kapur sisa penambangan disini menyuguhkan background foto yang ciamik!! Hahaha… FYI, ternyata penambangan disini sudah berusia ratusan tahun, sehingga membentuk bukit-bukit kapur yang “persis” seperti GWK Bali. Semoga pemerintah setempat bisa mengelola tempat ini dengan bijak yak, agar generasi mendatang masih bisa melihat keindahan bukit kapur ini, cieee…




Puas di bukit kapur, jam 14.45 WIB kami berangkat ke daerah Pantai Lombang untuk mencari kawasan kampung pasir. Jarak tempat ini 39 Km dari Pantai Slopeng, cukup jauh memang. Jam 16.00 WIB kami sampai juga di kampung pasir Dusun Jabau, Kecamatan Batang-batang. Setelah sempat kesasar beberapa kali, hahaha… Tidak mudah untuk dapat masuk di kawasan kampung pasir ini, entah kenapa masyarakat sekitar seolah-olah menutup diri. Gak kehilangan akal, kita mengaku sebagai mahasiswa dari Jember yang ingin belajar budaya di tempat itu, ahay! Sebenarnya ini adalah kampung nelayan. Pada awalnya saya sedikit kecewa melihat kampung pasir tersebut karena tidak sesuai dengan apa yang saya bayangkan sebelumnya, rumah-rumah di kawasan ini sudah modern dan beralaskan keramik. Setelah mendapat akses masuk, kami diantar ke rumah kepala desa yang bernama Haji Ansari. Setelah bertanya-tanya dengan beliau, ternyata penduduk di sana kadang tidur di halaman pasir mereka. Saya melihat sendiri beberapa keluarga sedang asyik bersenda gurau di halaman pasir. Sangat unik dan baru kali ini saya melihat ada budaya seperti itu. Akhirnya Pak Haji menunjukkan kamar tidur mereka yang beralaskan pasir. Waaaaaaahhhhhhhhhhh, unyu banget! Wkwkwk…. Saya langsung melompat dan mencoba tidur-tiduran di alas pasir tersebut. Mereka biasanya tidur di atas pasir ketika udara di rumah panas. Wah seru juga ternyata. Setelah mini tour di dalam rumahnya, Pak Haji mengajak kita ke pantai di dekat rumahnya. Di sana banyak orang duduk di pasir pantai, tampak anak-anak dengan riangnya bermain sepakbola, mendayung perahu dan beberapa bermain layang-layang. Kebetulan ketika saya ke pantai bersamaan dengan para nelayan yang sedang berangkat melaut. Sebenarnya kita disarankan untuk menginap di sana menunggu pagi hari saat nelayan kembali ke pantai membawa hasil tangkapan mereka. Namun kita tidak bisa menginap karena masih ada daftar kunjungan lainnya. Mungkin lain kali ya Pak Haji… :)



Kolam pasir di dalam rumah

Di hari terakhir, 09 Oktober 2011, jam 11.30 WIB, saya dan Hari berangkat ke Alun-alun Sumenep untuk melihat lomba karapan sapi. Jam 12.00 WIB sampai di lokasi dan langsung membayar tiket IDR 5K untuk masuk ke arena pertandingan. Saya sempatkan berkeliling sebentar untuk melihat persiapan peserta lomba. Ternyata, sebelum berlomba, sapi-sapi tersebut disiram air jamu dan didoakan terlebih dahulu oleh dukun, kemudian sapi tersebut diantar jalan memutar sejauh 5 meter dari garis start. Sebagai warming up mungkin, hehehe… Begitulah garis besar ritual menyiapkan sapi sebelum lomba dimulai. Widiiihhh, harus siap-siap stamina untuk melihat lomba karapan sapi ini, debu dan terik matahari menghadang setiap peserta dan penonton, huft… Jam 13.30 WIB, kami memutuskan pulang walaupun perlombaan belum selesai, gak kuat dengan panaaassnya arena, hahaha…





Setelah packing, jam 18.00 WIB saya dan Hari kembali ke Jember dengan menumpang bus Damri seharga IDR 60K dan tiba di Jember jam 02.30 WIB!! Hemmm, terbayarkan sudah rasa penasaran saya terhadap tempat-tempat tersebut. Selanjutnya? Mencari tempat-tempat tujuan menarik lainnya…

Minggu, 02 Oktober 2011

BEBEK SINJAY YANG FENOMENAL

Nih, bagian luar restorannya...

Olahan bebek yang terkenal itu dari daerah Surabaya atau Madura ya?! Gak penting lah darimana, yang penting saya pernah mencoba makan bebek goreng yang maknyus, bukan di Surabaya, tapi di Bangkalan Madura. Namanya “WARUNG BEBEK SINJAY”, lokasi tepatnya di Jl. Raya Ketengan No. 45 Burneh, Bangkalan. Kalau Anda dari arah Jembatan Suramadu, lurrrrruuuuuss saja sampai nemu pertigaan, kemudian pilih arah ke kiri. Di sepanjang jalan banyak dijumpai restoran yang menawarkan olahan bebek sebagai menu andalan. Terus saja, sekitar 2 km dari pertigaan, di sebelah kanan bisa dilihat restoran yang beda karena paling rame daripada yang lain. Di depannya juga terpampang nama “Warung Bebek Sinjay” yang berukuran besar. Jadi pasti mudah dilihat dan dibaca…

Meski namanya warung, tapi bangunannya besar dan luas, memungkinkan untuk diisi 100 orang lebih sepertinya. Saya nyampe disini sekitar jam 13.30 WIB. Panas-panas setelah pejalanan dari Sumenep, parkir motor dan melihat tulisan “MASIH ADA” di sebuah potongan kardus yang tergantung di parkiran. Legaaaaa… Karena saya dapat info dari temen yang sudah pernah kesini kalau bebek disini cepet ludes diserbu pembeli. Dan benar saja, setelah naruh helm di spion, saya nengok ke dalam. Wooooooooooo, antrian pengunjung sudah mengular di depan kasir. Seperti orang lagi ngantri pembagian iPhone gratis!! ckakaka… Bener-bener panjang! Baru kali ini saya melihat orang mau makan, harus ngantri dulu segitu panjangnya. Buseeet, ajian apa yang dipake sama pemilik ya?! Sampe bisa mendatangkan pengunjung segitu banyaknya, hahaha… Semakin penasaran donk, bebek seperti apa sih yang digandrungi orang-rang ini. Pembagian tugaspun dilakukan secara kilat, Aaron bagian ngantri, saya dan Hari bagian nyari tempat duduk dan telpon kesana kemari tanya pesanan temen-temen di kampung. Meskipun meja dan tempat duduk ada begitu banyak, tapi saya masih “agak” kesulitan menemukan meja yang bener-bener kosong. Beruntunglah ada satu meja yang baru saja ditinggal berdiri pengunjung lain, langsung saja kita “amankan”, hehehe…

Tempatnya lapang

Cukup lama Aaron berdiri ngantre memesan makanan ini, mungkin sekitar 20 menitan. Karena saking ramenya, pengunjung diberi nomer antrean. Jadi sistemnya begini : setelah memesan, bayar, dikasih nomer, duduk dan pesanan kita diantar sesuai dengan nomer. Berhubung ada titipan temen, jadi Aaron mendapat dua nomer antrean sodara-sodara. Yang satu untuk makan di tempat dan yang satu (lagi-lagi) untuk mengantri mengambil pesanan. Yak, dua kali antre ceritanya!! Bener-bener perjuangan untuk menikmati kelezatan bebek ini. Huft…

Antrean #1 : di depan kasir
Antrean #2 : Ngambil pesanan

Setelah duduk manis, ada pelayan yang mendatangi meja kita. TAAARRRRAAAA….!!! Bebek yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Hemm, langsung ngiler saya pas melihat apa yang tersaji di depan mata. Sepotong bebek bagian dada yang digoreng, ditaburi kremesan dan sambel pencit. Sluurrpp, mantab nih kelihatannya. Apalagi siang-siang yang panasnya menyengat seperti di Madura ini memang pas makan yang seger-seger. Saya comot lah sedikit dagingnya, empuk. Begitu masuk ke mulut, hemmm… rempah-rempahnya kerasa dengan rasa ketumbar yang dominan. Gurih banget! Kremesnya sendiri sepertinya dicampur dengan sedikit cabe, jadi ada rasa clekit-clekit di lidah, tapi gak terlalu kok. Cuma sebagai penyedap. Sambel pencitnya?! Gak terlalu pedas menurut saya dan seger pastinya, sayang kurang banyak. Begitu saya coba makan bebek, sambel pencit dan nasi sekaligus, ajibbb…! Gurihnya bebek, crunchy-nya kremes dan asemnya mangga muda berbaur menjadi satu, menimbulkan rasa yang gimanaaa gitu di dalam mulut, hehehe… Gak rugilah menunggu lama. Apa yang temen saya katakan sebelumnya bener-bener terbukti, bebek ini enak menurut saya…  

Seporsi Bebek Sinjay

Jadi buat Anda yang sedang berkunjung ke Surabaya, cobalah nyebrang ke Madura untuk mencoba gimana serunya makan bebek disini, sekalian cuci mata pas lewat Jembatan Suramadu, hehehe… Ingat, restoran ini buka mulai jam 07.00 WIB dan tutup tidak tentu. Sesuai dengan persediaan bebek yang ada. Kata mbak penjual, sehari biasanya sampai beberapa kali memroses bebek, saya yang datang di jam 13.30 WIB sudah proses ketiga. Jangan sampai Anda jauh-jauh datang penasaran, eh, nyampe di lokasi bernasib sama seperti beberapa pengunjung yang saya temui, hanya bisa gigit jari dan berjalan gontai meninggalkan restoran…

Rabu, 21 September 2011

TOURING KE PULAU GARAM

Touring?! Merupakan hal yang baru bagi saya, menantang sekaligus membuat penasaran untuk mencobanya. Ketika salah satu temen kantor ngajak mudik ke kampung halamannya di Sumenep, Madura sana, saya langsung mantap mengatakan, “AYO! Kapan berangkat?!” hahaha… Coba-coba pengalaman baru lah mumpung masih muda, bener gak?! Plus pengen tau ada apa sih di Madura sana, yang katanya sepi dan gersang, apa ada yang bisa dilihat?! Gilak, sekalinya touring, langsung ke kota paling Timur Pulau Madura!! Anggaplah saya mengunjungi pulau Madura secara keseluruhan, karena harus melewati Bangkalan, Sampang, Pamekasan baru Sumenep. Hahay!

Jumat, 09 September 2011, saya bersama dua orang travelmates, Aaron dan Hari berangkat dari Jember jam 19.30 WIB. Hari mengendarai Mio, Aaron dengan Mio Soul nya dan saya bonceng! Hahaha… Gak masalah kan?! Toh nantinya saya gantian nyupir…! Widih, naik motor malem2, antar kota, baru kali pertama ini saya lakukan. Bus, truk dan tronton menjadi teman perjalanan yang “menyenangkan”. Dengan memacu motor di atas 60 km/h sampai nyaris 100 km/h menjadi sesuatu yang menggairahkan! Sueruuuu….! Hahaha… Di salah satu pom bensin Probolinggo, saya ganti menjadi joki Mio Soul si Aaron. Uhuy! Saya bisa merasakan juga njliut-njliut menyalip tronton-tronton puanjang, memacu adrenalin dengan ngegas poll dan berkejar-kejaran dengan mobil pribadi. Jarak Jember-Surabaya bisa kita tempuh dengan waktu kurang lebih 3,5 jam. 

Di Surabaya, saya sudah janjian dengan salah satu teman saya, Andi, untuk mencicipi ceker maknyus yang direkomendasikannya kepada saya. Setelah mengisi perut, kurang lebih 00.30 WIB, kita langsung melanjutkan perjalanan ke kota tujuan. Dingin dan sepi. Tenaga saya sebenernya sudah loyo, pantat panas dan kantuk mulai menyerang, tapi saya masih semangat untuk meneruskan perjalanan yang panjang ini. Sepanjang perjalanan, di hadapan saya bagaikan terhampar kasur yang empuk. Iri rasanya melihat penumpang bis yang berkali-kali kami salip, mereka bisa tidur pulas di dalam sana, sementara saya dan dua kawan saya masih berjibaku melawan segala rasa ini. Capek, ngantuk dan dingin. Huhuhu… Kapankah perjalanan ini berakhir?! Kita sempat dua kali istirahat, pertama merebahkan badan di bangku salah satu warung di kota Sampang dan yang kedua memejamkan mata sekitar satu jam di sebuah masjid di daerah Pamekasan. Sekitar jam 06.30 akhirnya kita SAMPAI di Sumenep, di rumah temen saya! Pfiuh… Butuh sekitar 8 jam an bekendara dari Jember ke Sumenep (sudah dipotong waktu istirahat)!! Setelah menyapa tuan rumah, tanpa dikomando saya dan Aaron langsung masuk ke kamar yang sudah disediakan dan langsung molorrrr…..!!!! Gak terasa, saya terbangun sekitar jam setengah sebelas siang!! HAH?! Rasa-rasanya cuma merem sebentar.

Ngemper
Sunrise At Pamekasan
Sunrise At Sumenep


Setelah mandi, ngemil dan sarapan rujak campur, kita langsung keluar rumah untuk sight seeing seputaran Sumenep, melihat “Ada apa saja sih di Sumenep ini?!”. Ditemani 3 kerabat Hari, kita bermobil ke Kraton Sumenep, tujuan pertama kita. Sebelum “menjelajah” kraton, saya diajak untuk mengunjungi museum Sumenep. Coba Anda tebak berapa harga tiket masuknya? Cuma IDR 1K/orang! Gile! Murah amat? Masuk ke dalam, ow, pantesan… Di dalamnya banyak disimpan peninggalan Kraton Sumenep, seperti Al-Quran kuno raksasa yang ditulis tangan, kereta kencana, beberapa arca, tembikar dan lain-lain. Gak terlalu banyak. Kesan saya sih, museum ini kurang mendapat perhatian, ruangan yang disediakan terkesan seadanya, agak kusam dan tanpa adanya pembatas antara barang koleksi dengan pengunjung. Bahkan di dekat peninggalan barang pecah belah seperti guci sekalipun! Wah bisa berabe nih kalau sampai nyenggol! Apa gara-gara tiket yang terlalu murah, sehingga tidak cukup untuk menambah prasarana yah?! Sayang sekali, seharusnya museum ini bisa dikelola lebih menarik lagi agar wisatawan yang berkunjung ke Sumenep khususnya bisa menemukan tempat yang layak untuk dikunjungi…

Rujak Campur
Al-Quran Raksasa
Kereta Melor

Setelah itu, kita lanjut mengunjungi Kraton Sumenep yang ada di seberang museum. Gak perlu bayar untuk masuk kesini. Begitu masuk, masih tampak sisa-sisa kejayaan kraton ini. Tiang-tiang penyangga aula dihiasi oleh ukiran cantik, lampu-lampu hias kuno masih tetap tergantung, bekas meriam dan berbagai macam peninggalan lain tetap bisa kita temui disini. Di area kraton ini juga terdapat Taman Sari. Tempat pemandian yang biasa digunakan oleh anggota kerajaan. Tapi, jangan bayangkan seperti Taman Sari di Jogja sana ya, Taman Sari disini berbeda agak jauh! Hahaha… Kondisinya sama dengan museum, kurang terawat, kini malah jadi kolam ikan, yang airnya pun berwarna keruh… Huft! Cat temboknya juga banyak yang mengelupas. Tampaknya pemerintah setempat kurang perhatian terhadap peninggalan budaya seperti ini. Disini juga tidak ada pengawas, jadi pengunjung dengan bebas keluar masuk area kraton, padahal di dalamnya banyak terdapat peninggalan-peninggalan berharga khas kraton, mulai dari yang berukuran kecil sampai arca besar. Bagaimana kalau ada pengunjung “usil” yang membobol lemari dan mengambil barang yang disimpan di dalamnya?! Nobody knows

Gerbang Masuk

Kraton Sumenep
Aula Pertemuan
Taman Sari
Puas mengelilingi kraton, perjalanan dilanjutkan menuju ke pantai. Uyeee!!! Penasaran sebagus apa pantai di Madura sini. Pantai tujuan kita pertama adalah Pantai Lombang, terletak di Kecamatan Batang-Batang. Lumayan jauh untuk menuju ke pantai ini dari pusat kota Sumenep ke arah utara, mungkin sekitar 30 km-an dan ditempuh kurang lebih 1 jam bermobil. Untung saja sepanjang perjalanan saya bisa melihat persawahan, jadi gak terlalu bosan. 

Sampai di lokasi, kebetulan sepi, hanya terlihat beberapa mobil pribadi dan sepeda motor yang terparkir. Tiket masuk? FREE, tanpa penjaga loket. Gak tau kenapa kok bisa sampai gratis, mungkin karena tanah disini masih dalam kasus sengketa. Pantai Lombang ini sangat unik. Biasanya vegetasi di pinggiran pantai kan pohon kelapa, nah disini BEDA. Vegetasi yang tumbuh di sepanjang bibir pantai adalah pohon cemara udang. Mungkin gak banyak pantai yang seperti ini. Pasirnya putih kecoklatan dan berbulir haluuuuussss, sehalus buliran tepung dan lebih halus dari pasir Segara Anakan di Pulau Sempu sana. Saking halusnya, sapuan angin mampu membentuk motif yang indah di permukaan pasir ini. Air lautnya sendiri jernih, tenang dan berombak kecil, cocok digunakan untuk berenang atau sekedar berendam. Di sepanjang pantai juga mudah ditemui penjual es degan dan rujak madura, serta beberapa gazebo tempat berteduh dari sengatan matahari. Garis pantai yang panjang dan lebar bisa dimanfaatkan untuk jalan-jalan dan berjemur layaknya bule-bule, hehehe…. Sayang, fasilitas rekreasi disini masih minim, hanya ada persewaan ban dalam bekas untuk sekedar berenang, tanpa adanya water sports seperti banana boat, alat snoorkeling, jet ski dan sejenisnya. Coba kalau ada fasilitas itu, saya jamin pantai ini menjadi magnet wisatawan yang berkunjung ke Madura dan memajukan perekonomian masayarakat setempat, karena secara umum pantai Lombang ini tidak kalah dengan pantai Kuta yang ada di Bali sana.

Pasirnya lembut
Cemara Udang di Sepanjang Pantai
Bibir Pantainya Lebarrrr...

Puas menjelajah dan bermain air di Lombang, kita berencana ke Pantai Slopeng, berharap melihat sunset, karena setelah saya googling banyak yang mengatakan kalau Pantai Slopeng ini sangat pas untuk melihat sunset. Jam 16.00 WIB mobil kami menderu. Ternyata jarak antara Pantai Lombang dan Slopeng ini jaaauuuuuhhhh…. Tampaknya, kita sampai Slopeng setelah matahari benar-benar tenggelam. Selama perjalanan, mata saya dimanjakan oleh cantiknya langit sore Sumenep. Gradasi warna biru sampai ke jingga benar-benar istimewa! Baru kali ini saya melihat langit senja yang setara dengan langit-langit di lukisan, lebih dahsyat daripada langit sore yang pernah saya lihat di Pantai Lovina, medio 2009 lalu. Widih, benar-benar lukisan alam yang begitu mempesona! Berkali-kali saya mengabadikannya dengan kamera pocket, walau dalam keadaan mobil berjalan, berharap kita tiba di Slopeng sebelum matahari tenggelam. Karena jalanan yang kami lalui berbatu, rusak dan sempit, makadam lah istilahnya, ditambah sempat ada kejadian salah jalur, akhirnya kami sampai di TKP ketika langit gelap, sekitar pukul 17.45 WIB. Yaahh, saya tidak bisa melihat wujud Slopeng yang nyata, karena kurangnya penerangan, benar-benar gelap. 


Senja di Perjalanan Menuju Slopeng

Keesokan harinya, Minggu 11 September 2011, kita pulang ke Jember. Di Pamekasan, sempat mampir ke Api Yang Tak Kunjung Padam, sebuah objek wisata yang mengeksplor beberapa titik api yang muncul dari tanah dan tidak pernah padam, api abadi istilah kerennya. Cukup membayar sekitar IDR 1K, kita bisa melihat fenomena alam ini. Murah-murah yak tiket masuk objek wisata di Madura ini…?! :D Disini ada dua spot api abadi, tapi yang dijadikan tujuan dan dikelola layaknya tempat wisata hanya satu, yang terbesar. Disini bisa dijumpai banyak pedagang souvenir khas Madura, mulai makanan sampai kerajinan tangan. Masayarakat sekitar memanfaatkan api abadi ini untuk memasak, entah itu untuk keperluan rumah tangga mereka ataupun untuk merebus jagung yang nantinya akan dijual kembali. Gak lama saya berada di tempat ini, hanya berfoto dan melihat dari dekat, kemudian langsung melanjutkan perjalanan pulang, panasss soalanya! Ngeliat api di jam 12.30 WIB! Hahaha...

Api Wedhok (sebutan masyarakat setempat)
Api Lanang (juga sebutan masyarakat setempat)

Sesampainya di Bangkalan, sempat mampir di Bebek Sinjay yang terkenal untuk makan siang dan setelahnya langsung jos ke Jember.

Touring ke Madura ini benar-benar menguras tenaga, ada sedikit rasa kapok, mending naik angkutan umum daripada harus mengendarai motor sendiri, hahaha… Dan, kesan saya terhadap Madura, panas dan berdebu! Tapi, janganlah memandang sebelah mata terhadap pulau ini, di dalamnya ternyata ada objek wisata yang begitu indah dan lain daripada yang lain...

Saya bersama dua orang travelmates, Hari dan Aaron