Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 April 2012

Mie Gila vs Mie Setan

Saat ini di Jember sedang booming depot yang menawarkan mie ayam dengan beberapa tingkat kepedasan, layaknya keripik singkong dari Bandung. Ditambah dengan nama yang eye catching seperti “Mie Setan” ataupun “Mie Gila” membuat siapa saja yang melintas penasaran dengan bentuk dan rasa yang ditawarkan, tak terkecuali saya. Banyak yang bilang Mie Setan lebih enak, namun sebagian orang berkata Mie Gila lebih sedap. Nah lo, karena begitu penasaran ingin membandingkan antara kedua mie fenomenal tersebut, akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba keduanya dalam satu malam.

Mie Gila
Pertama-tama saya berkunjung ke Kedai Mie Gila yang berlokasi di pertokoan Jl. Kalimantan, sederet dengan warnet Maxima. Malam itu tidak nampak antrean panjang sebagaimana malam-malam ketika saya lewat. Ruangannya tidak begitu besar, namun mampu menampung hingga 20-an orang menurut saya. Di menu yang terpampang di atas, selain mie gila, pengelola juga menyediakan berbagai olahan mie lainnya dan bakso. Sebut saja cui mie mangkok, mie pangsit ayam, mie ayam, mie jamur dan mie bakso. Mie gilanya sendiri ada 3 level kepedasan. Dengan masing-masing level mewakili jumlah sendok sambal yang dituangkan ke dalam mie.

Okey, saya memesan seporsi mie gila level 3 seharga IDR 8,000 dan segelas es teh, cuma ingin tahu seberapa pedas mie gila ini. Gak lebih dari 10 menit, mie pesanan saya sudah terhidang di atas meja. Seperti kebanyakan mie ayam lain, di atas mie diberi taburan ayam cincang, bawang goreng, daun bawang, 4 iris acar mentimun, kerupuk pangsit dan pangsitnya sendiri. Mungkin yang membedakan adalah mereka menambahkan sepotong daging asap tanpa digoreng. Porsinya juga pas. Bagaimana dengan rasanya?! Tekstur mie nya kenyal, namun masih over cooked menurut saya. Rasanya sendiri didominasi rasa pedas sambal, rasa ayamnya kurang berasa. Nothing special sih kalo menurut saya. Tapi jangan ditanya tentang pedesnya. Saya dibuat berkeringat dan mulut saya sempat kesemutan, hahaha... Acarnya seger, tapi sayang sedikit banget, jumlahnya kayak diitung! Hehehe... Dan daging asapnya lebih essip digoreng sih sebenernya...

Mie Setan
Setelah perut “agak” panas, saya melanjutkan perjalanan kuliner “hot” saya kali ini. Motorpun saya arahkan ke pertokoan di bundaran DPRD Jember, lokasi Mie Setan yang baru. Seperti namanya, depot ini punya andalan mie super pedas. Ukuran depot nya juga gak berbeda jauh dengan Mie Gila. Jumlah pengunjung saat itu, jauh lebih rame dibandingkan dengan Depot Mie Gila. Menu disini sedikit lebih bervariasi. Selain olahan mie yang sama dengan Mie Gila dan bakso, disini saya menjumpai ada mie anggel (mie setan, tapi gak pedes?!) dan mie jerohan. Kalau harga sih relatif sama, Mie Setan mereka bandrol dengan harga IDR 8,000. Kalau di Depot Mie Gila ada 3 tingkatan level pedas, disini ada 5 tingkatan, dan tampaknya pengunjung bisa memesan level yang diinginkan. Seperti beberapa pengunjung yang saya dapati memesan Mie Setan level 15!! Buseeetttt...! Karena ingin membandingkan, saya memesan Mie Setan level 3.

Ketika duduk, entah mengapa saya kurang nyaman dengan posisi bangku dan mejanya. Seolah-olah pemilik depot ingin memaksimalkan kapasitas pengunjung, tanpa memperhatikan kenyamanan pengunjungnya sendiri. Bayangkan, saya harus bersusah payah keluar masuk meja dan ketika menikmati minuman, punggung saya berhimpitan dengan punggung pengunjung belakang saya, pfiuh... Pelayanan juga lamaaa, mungkin setelah 30 menitan, mie pesanan saya baru diantar. Rame sih oke, tapi dengan jumlah karyawan sekitar 10 orang tampak hilir mudik di dapur, seharusnya membuat kinerja mereka lebih cepat bukan?! Jadi ribet sendiri melihat dapur yang lumayan kecil itu diisi hingga 10 orang, hehehe...

Penampilan Mie Setan ini juga tidak berbeda jauh dengan Mie Gila. Ada taburan ayam cincang, bawang goreng, daun bawang, kerupuk pangsit, pangsit, taburan merica, acar yang lebih banyak dan sepotong sosis. Rasanya bagaimana?! Saya lebih suka tekstur mie disini, kematangannya pas, kenyal-kenyal gimanaaa gitu. Rasa mie ayamnya juga jauh lebih terasa. Sedangkan tingkat kepedasannya menurut saya sih biasa. Levelnya ada di bawah Mie Gila. Saya yang memesan level 3 saja tidak dibuat kepedasan ketika melahap semangkuk mie ayam ini. Cuma untuk rasa, saya lebih suka Mie Setan ini, lebih sedap dengan bumbu yang terasa...

So, setelah membandingkan antara kedua mie fenomenal ini saya pribadi lebih memilih Mie Setan, dengan alasan rasa yang lebih sedap dan “berasa”...

Kesimpulan :

                    Mie Gila  VS  Mie Setan

  • tempat            7/10          7/10
  • varian menu       7/10          8/10
  • pelayanan         7/10          6/10
  • harga             8/10          8/10
  • rasa              7/10          8/10

Rabu, 29 Februari 2012

AYO KITA NONGKRONG (di JEMBER)

Jember memang hanyalah sebuah kota kecil di ujung timur Pulau Jawa dan tidak banyak yang bisa dieksplor di kabupaten yang juga dikenal sebagai penghasil tembakau ini. Mungkin hanya dibutuhkan waktu 1 sampai 2 hari saja untuk menikmati segala pesona yang ditawarkan. Bagaimana dengan tempat hiburan dan nongkrong?! Hmm, banyak sih. Ada karaoke house, lounge bahkan club. Jangan bayangkan Jember itu sebagai kota yang benar-benar mati dan tidak cocok untuk dijadikan kota tinggal, hahaha... Nah, setelah "cukup" lama tinggal di Jember, saya mempunyai beberapa tempat nongkrong favorit yang bisa dijadikan alternatif ketika kamu berkunjung ke kota terbesar ketiga di Jawa Timur ini. Inilah beberapa rekomendasi saya :

1. Pujasera Citarum


Pujasera ini berlokasi di jalan kecil antara BRI dan Bank Mandiri Alun-alun Jember. Disini terdapat banyak sekali food stalls atau penjual makanan kaki lima. Walaupun hanya berlabel "kaki lima" namun makanan yang mereka jual tidak murahan. Banyak makanan enak disini. Menurut saya sih pujasera ini yang paling essip makanannya. Mulai dari jagung bakar, ayam goreng, kupang sampai seafood. Dari sekian banyak stand, kalau untuk sekedar nongkrong, saya memilih "Es Bogel" yang berada di ujung jalan. Kenapa?! Karena lokasinya memungkinkan saya untuk menikmati suasana lalu lintas alun-alun di malam hari. Biasanya sih saya juga membeli jagung bakar. Selain itu, disini kita bisa mendengar musik dangdut dengan suara keras dari kios VCD di sebelah penjual jagung bakar, rame oy! Tidak jarang kita dikagetkan dengan lagu yang lirik ataupun nadanya mengundang tawa, hahaha...


2. Wedang Cor Perhutani


Sisi menarik dari tempat ini menurut saya adalah "kesunyian" dan "kesederhanaannya". Berlokasi di gang sebelah kantor Perhutani Jember di daerah Sumbersari, kita bisa ngobrol santai dengan kerabat sambil menikmati gorengan dan wedang cor, sebuah minuman khas dari kota Jember. Karena lokasinya ada di dalam gang, maka jauh dari kebisingan kendaraan bermotor yang melintas. Warung ini beroperasi setiap hari, mulai pukul 17.00 sampai dini hari. 


3. Ketan Cethol Jompo


Berlokasi di "bawah" Jembatan Jompo, kita bisa menghabiskan malam dengan menikmati ketan bubuk, sate usus, gorengan, STMJ ataupun minuman hangat lainnya. Ketan ini buka sekitar jam 9 malam sampai dini hari.. Ya, semacam angkringan lah kalau di Jogja. Tempat ini juga asyik dijadikan "arena" ngobrol santai sambil sesekali melihat kendaraan yang sedang melintas di jalan raya.


4. Warung Tera'


"Warung" yang terletak di Jl. Hayam Wuruk ini menyajikan berbagai makanan khas Timur Tengah. Antara lain : kebab, nasi kebuli, roti maryam dan lain-lain. Kita bisa santai duduk lesehan menikmati makanan dan minuman sambil diiringi dengan alunan musik padang pasir. Disini kita juga bisa menikmati sisha sambil bercengkerama dengan kerabat. Warung ini buka mulai pukul 5 sore sampai dini hari. 


5. Restoran Hotel Royal


Kalau yang ini sedikit naik tingkatan teman, hehehe... Di restoran hotel yang baru saja beroperasi di Jalan Karimata ini kita dapat menjumpai berbagai makanan enak dengan harga yang masih rasional. Jangan tertipu dengan kemewahan tempat. Kamu bisa mendapati masakan Indonesia, Chinesse sampai Eropa seperti steak di kisaran IDR 8 ribu sampai IDR 50 ribu lah. Yang paling saya suka dari tempat ini adalah sofanya!! Ya, sofa yang bener-bener empuk dan amat sangat nyaman untuk dijadikan peraduan berleyeh-leyeh, sehingga kita bisa betah ngobrol berlama-lama di tempat ini. Hal itu juga ditunjang dengan suasana yang temaram dan cozy. Selain itu, disini juga terdapat LCD dan mereka mempunyai saluran TV kabel. Jadi kita bisa menonton film dari channel luar bersama teman-teman.


6. The Coffee Shop

Terpaksa upload yang ini guys, gak punya stok yang lain (harap maklum) ;p

Bisa dibilang kafe yang ada di Ruko Gajah Mada Square, Jl. Gajah Mada ini adalah salah satu kafe elit di Jember. Design interiornya sih keren. Pencahayaan yang temaram, tidak terlalu bising dan ada electone. Membuat siapa saja betah berlama-lama. Makanan dan minumannya juga enak kok. Nah, buat kamu yang narsis, cafe ini cocok dijadikan tempat unjuk gigi, hehehe... Meskipun tempatnya oke dan saya suka, namun saya jarang kesini, ya gara-gara harganya itu lho, terlalu menohok bagi orang seperti saya, hahaha... Sebagai gambaran, saya pernah makan spaghetti dan segelas chocolate ice (kalo gak salah), butuh duit sekitar IDR 40K. Bisa bangkrut kalo tiap weekend mengunjungi tempat ini. Tapi tidak ada salahnya sesekali kesini setelah gajian, wkwkwk...

Sebenarnya ada satu lagi tempat nongkrong favorit saya, yaitu ronde di depan Gedung Flexi Alun-alun Jember. Disana hanya dengan uang IDR 3.000, kita bisa menikmati semangkuk ronde dan FREE WIFI dengan kecepatan tinggi, plus bebas mau nongkrong sampai jam berapa, walaupun kita hanya pesan 1 mangkuk, wkwkwk... Ya, karena lokasinya yang berhimpitan tembok dengan Flexi Center (berada di trotoar), maka sinyal WIFI mereka masih bisa kita manfaatkan, walaupun hanya sampai Cafe Flexi tutup sekitar jam setengah sebelas malam. Namun sayang, sebelum tulisan ini saya posting, pemerintah daerah merelokasi para penjaja makanan kaki lima ini. Tidak lagi di depan Gedung Flexi, melainkan di sepanjang Jl. Kartini. Yah, agak bergeser dikit lah dari lokasi semula.

In memories
So, bagi kamu yang sedang berkunjung ke Jember dan bingung mau kemana, tidak ada salahnya mencoba tempat-tempat favorit saya di atas... :D

Minggu, 22 Januari 2012

KULINER NYENTRIK : NASI GORENG JANCUK

Billboard yang membuat "penasaran"
Apa yang pertama kali terlintas di pikiran kamu ketika mendengar kata JANCUK?! Saru? Vulgar? Kasar? Ya, sayapun demikian. Anehnya, ada satu hotel di Surabaya yang memberi nama masakannya dengan nama “jancuk”. Bisa dibilang inilah masakan dengan nama ternyentrik yang pernah saya cicipi, hahaha... Bagi kamu yang belum mengerti maksud saya, “jancuk” adalah sebuah umpatan kasar yang biasa dilontarkan oleh arek Suroboyo. Yah, seperti kata “f*uck” yang biasa dilontarkan orang barat sana dan orang yang kebarat-baratan, atau “as*” bagi orang Jogja ketika mereka sedang kesal. Namun, seiring berjalannya waktu, orang Surabaya dan sebagian Jawa Timur tidak jarang menggunakan kata “jancuk” sebagai panggilan “akrab” ketika sedang berjumpa dan ngobrol dengan sahabat mereka, hehehe... Seperti ini, “Heh cuk!! Yaopo kabare?!” (Heh cuk!! Bagaimana kabarnya?!).

Itulah sekilas informasi mengenai kata “jancuk”, nah sekarang kembali ke topik “permasalahan”, hehehe... Saya mendengar NASI GORENG JANCUK ini pertengahan tahun lalu. Namun, baru kesampaian makan hari Sabtu kemarin, tanggal 21 Januari 2012. Hal yang membuat saya panasaran, selain kata-kata kasarnya, juga karena kalimat promosi mereka di sebuah mini billboard. “Anda belum sampai di Surabaya jika belum mencoba Nasi Goreng Jancuk...”. Sebuah bentuk marketing yang sangat sukses menarik minat konsumen, apalagi kalangan muda, menurut saya. “Dimana saya bisa menemukan Nasi Goreng Jancuk ini?!” Kamu bisa menemukan masakan nyentrik ini di Kartini Resto, restoran Surabaya Plaza Hotel yang  berlokasi di Plaza Boulevard, Jl. Pemuda 31-37 Surabaya, belakang Mall Surabaya Plaza persis. 

Interior restoran
Begitu sampai dan duduk manis di salah satu meja, seorang waitress menghampiri saya dan beberapa sahabat. Belum menyerahkan buku menu, dia sudah menawari kami begini, “Selamat siang, mau pesan nasi goreng Paket Mbledhoz atau Mbledhoz Plaz?!” Nah lo! Darimana dia tahu kalau kita mau makan nasi goreng?! Cenayang ya?! Hahaha... Bukan, ternyata selidik punya selidik, sebagian besar orang yang berkunjung ke restoran ini ya karena ingin menuntaskan rasa penasaran mereka akan nasi goreng jancuk. Langsunglah kita memesan satu “Paket Mbledhoz”, yang terdiri dari satu porsi Nasi Goreng Jancuk dan satu pitcher es teh. Berapa harganya?! IDR 99.500 (incl. Tax). Mahal amaaattt??! Nggak kok, satu porsi nasi goreng ini diperuntukkan bagi 5 orang.

Mbaknya malu-malu buat dipoto ;p
Gak lama menunggu, menu pesanan kita terhidang di atas meja. Pertama satu pitcher besar berisi es teh manis dan ini, yang ditunggu-tunggu, satu buah wajan ukuran sedang berisi nasi goreng. Woohoooo, porsinya bener-bener banyak mennnn...!! Hahaha... Dengan aroma terasi yang langsung tercium, taburan bawang goreng, irisan telur dadar, acar, timun, tomat, cabe rawit dan satu buah kerupuk udang sudah membuat saya ngiler. Di dalamnya sendiri ada irisan daging ayam, udang dan kepiting. Begitu suapan pertama masuk ke mulut, “Jannnnccc***kkk!!” nasi goreng ini bener-bener pedas!! Wuww, rasa pedas langsung menyebar ke seluruh mulut. Gak salah nih, ngasih nama jancuk, hahaha... Tetapi, meskipun demikian, suapan demi suapan terus masuk ke mulut saya. Enak soalnya, hehehe... Pantes saja, begitu diteliti lebih mendalam (ceilee...), saya menemukan bannyyyaaakk sekali irisan cabe rawit oranye diantara tumpukan nasi. Menurut rumor yang beredar, mereka menggunakan 100 gram cabe di dalam bumbunya. Gile benerrr...!! Setelah mencapai sekitar 20 suapan, gejala “kepedesan” sudah mulai nampak. Hidung, lidah, pangkal tenggorokan dan perut terasa panas, saya juga banjir keringat, padahal restoran ini sudah ber-AC, huft... 

Ini nih, penampakan Nasi Goreng Jancuk
Untuk menetralisir rasa pedas yang ditimbulkan, es teh manis yang ada dalam satu paket cukup untuk meredakannya. Rasanya sendiri pas, tidak begitu manis dan pekat. Selain itu, kami juga sempat memesan satu porsi fruit salad, yang lagi-lagi diperuntukkan bagi 5 orang seharga IDR 57.500 (exc. Tax). Di dalamnya ada nanas, melon, semangka, pepaya, strawberry, anggur dan irisan jeruk di pinggiran piring. Rasanya?! Hmmm... lumayan, walaupun menurut saya dressing-nya sedikit hambar, kurang asam.

Fruit Salad
Saat membayar tagihan, iseng-iseng saya bertanya asal mula ide menciptakan nasi goreng yang bener-bener njancuki (istilah Jawa) ini kepada mbak kasir. Ternyata menurut dia, setahunan lalu sang koki menyiapkan makan siang untuk beberapa manager di hotel tersebut dan memasaknya dalam sekali proses. Jadi porsi besar saat ini yang dihidangkan ke pengunjung ya gara-gara hal tersebut. Lalu kata “jancuk” darimana?! Dari komentar salah seorang manager yang sempat nyelethuk, “Jancuk! Cek pedese!!” (Jancuk! Terlalu pedas!!). Sayapun dibuat tertawa mendengar penjelasan tersebut, hahaha...

So, untuk kalian yang sedang berkunjung ke Surabaya, tidak ada salahnya mencicipi kuliner “heboh” yang menggunakan bahan alami (tanpa saos) ini dan ujilah tingkat kepedasan kamu serta bagaimana daya tahan mulutmu untuk tidak mengucap kata “jancuuukkk...!”, hahaha...


ps : semoga artikel saya ini layak tayang dan tidak disensor 

Kamis, 29 Desember 2011

BERKENDARA JAUH DEMI AYAM PEDAS GUMUKMAS

Ini dia warungnya, seperti rumah biasa, jangan sampai terlewat...
Ternyata Jember itu kaya akan berbagai jenis kuliner yang tidak kalah dengan kota-kota lainnya di Indonesia. Tidak hanya di daerah perkotaan, tetapi juga di daerah pedesaan yang jauh dari keramaian kita bisa mendapatkan kuliner yang mantab. Salah satunya seperti warung makan yang sempat saya singgahi di hari Senin kemarin, tanggal 26 Desember 2011. Warung yang menyediakan menu andalan ayam pedas dan terletak di Dusun Menampu, Kecamatan Gumukmas ini sebenarnya sudah lama saya dengar. Ternyata dari sekian banyak referensi yang mampir di telinga saya, hampir semuanya mengatakan jika ayam pedas di warung ini maknyus, meminjam istilah Pak Bondan, hehehe... "AYAM PEDAS PULOREJO BAPAK H. HASAN BASRI" namanya. FYI, warung ini merupakan cikal bakal ayam pedas di daerah Gumukmas dan telah berdiri sejak tahun 1980. Lho, bukannya ayam pedas yang fenomenal disana adalah "Ayam Pedas Hj. Rupini"?! Memang, namun semenjak Hj. Rupini meninggal, sang suami membuka warung dengan namanya sendiri, sedangkan trademark "Hj. Rupini" dipakai oleh anak mereka yang membuka warung di daerah Dusun Menampu juga tetapi berada di pinggir jalan utama, tidak seperti sang Bapak yang berada di daerah perkampungan.

Si pengelola warung
Penasaran?! Langsung saja meluncur ke TKP. Jika kamu kesulitan menemukan warung makan ini, langsung kontak saya dan saya akan menanyakannya ke teman yang jago dalam urusan hafal-menghafal letak suatu lokasi. Karena saya sangat bermasalah dengan menghafal lokasi, yang ada malah bikin nyasar, hahaha... Yang saya ingat hanyalah waktu tempuh Gumukmas dari Jember kota sekitar satu jam berkendara motor. Perlu diingat, warung ini beroperasi mulai jam 6 pagi sampai sekitar jam 6 sore.

Sesampainya di lokasi, saya melihat hamparan sawah dan ladang jagung. Ya, warung ini terletak di pedesaan dengan pemandangan ladang jagung di seberangnya. Pengunjungpun bebas memilih dimana mereka akan menyantap hidangan. Ada dua pilihan, di dalam warung dengan meja dan kursi "modern" atau bisa duduk santai di bale-bale di samping ladang dengan cara lesehan. Tentunya, saya dan beberapa teman lebih memilih lesehan agar bebas bercengkerama dan menikmati hijuanya pemandangan yang ada, lebih santai pula.

Area "formal"
Area "nyantai abeezzz..."
Warung ini menyediakan dua olahan ayam pedas, panggang dan kuah. Dengan porsi satu ekor ayam utuh, tidak dipotong per bagian. So, kamu mau tidak mau harus memesan satu ekor ayam untuk mencoba kelezatannya. Walaupun harus membeli satu ekor penuh, warung ini bisa menjual hingga 60 ekor per hari lho, bayangkan bagaimana tersohornya warung ini, hehehe... Karena penasaran, jadilah kita memesan dua-duanya. Tidak lama kok menunggu masakan siap disajikan, mungkin sekitar 15 menit.

Begitu dihidangkan, hemmm... ayam panggang pedas begitu menggoda selera. Di atasnya terdapat sambal yang membuat air liur siapapun mengalir deras, hehehe... Rasanya?! Mantab! Daging ayam kampungnya lumayan empuk dengan bumbu yang meresap dan aroma asap masih terasa. Ya, ketika saya masuk ke dapurnya, pemilik warung makan ini masih menggunakan tungku tradisional serta kayu sebagai sumber api. Pedas gak?! Hemm... Relatif ya. Kalau saya menilai, pedasnya dalam taraf "aman", sedang-sedang lah... Tapi bagi beberapa teman saya yang juga ikut dalam kesempatan itu, mereka makan sambil meneteskan air mata dan ingus mengalir keluar, hahaha....

Nih, cara masaknya, masih tradisional...

Ayam panggang pedas
Bagaimana dengan ayam pedas kuahnya?! Cukup sedaplah dengan kuah bersantan dan cabe rawit utuh yang banyak mengambang di permukaan kuah. Namun demikian, rasanya tidak mampu mengalahkan "Ayam Pedas Raminten" yang ada di Terminal Genteng Banyuwangi, menurut saya. Pedas dan kental kuah santan berbumbunya masih kalah jauh dengan Raminten. Satu-satunya jalan kalau Anda merasa kurang pedas, ya tinggal menggerus cabe yang ada...

Ayam pedas kuah
Dari kedua menu masakan yang sudah saya cicipi, saya lebih menyukai ayam panggang pedasnya karena rasa yang lebih nendang, baik bumbu maupun sambalnya. Jadi, bagi kamu yang sedang menungunjungi Puger atau kecamatan lain yang berada di dekat Gumukmas, tidak ada salahnya untuk mencari lokasi makan ini dan mencoba menikmati ayam pedas khas Gumukmas seharga IDR 60rb ini.



Tulisan ini juga dapat dibaca di sini

Senin, 31 Oktober 2011

MENGUKUR JALAN DI BUKIT BINTANG

Peta Kawasan bukit Bintang
Kebetulan selama berada di Kuala Lumpur, hotel saya ada di daerah Bukit Bintang. Sekedar info, Bukit Bintang adalah kawasan segitiga emas Kuala Lumpur. Disini merupakan pusat keramaian, mall, café, toko semuanya ada. Banyak juga yang mengatakan bahwa kawasan ini layaknya Orchard Road di Singapura. Wah, tentu mudah mencari hiburan di sekitaran hotel! Yippiieee…

Setelah ada pemberitahuan dari panitia mengenai dimana saya akan menginap di Kuala Lumpur dan kapan bisa bebas berkeliaran seorang diri tanpa rombongan, saya langsung mencari CouchSurfer Kuala Lumpur untuk menjadi host saya, sekedar untuk menemani jalan dan menunjukkan tempat-tempat yang oke di sekitaran Bukit Bintang. Beberapa email saya sebar dan akhirnya ada satu orang yang berminat menunjukkan lebih dalam kawasan Bukit Bintang. Andreas Richterich namanya, seorang warga Jerman yang sudah dua tahun hidup dan bekerja di Kuala Lumpur. Dia bersedia mengantar saya berkeliling daerah Bukit Bintang. Kita juga sudah bertukar nomor telepon, sehingga pas saya di KL nanti, lebih mudah untuk saling menghubungi.

Malam pertama setelah tiba di KL, rombongan saya baru masuk hotel sekitar jam 11 malam waktu setempat. Sudah terlalu malam untuk menghubungi Andy, nama panggilan host saya. Sungkan, hehehe… Gak tahu diri banget kalo saya tetap ngotot ingin ditemani jalan, yah, walaupun dia oke-oke saja. Akhirnya, saya memutuskan untuk berkeliling sekitaran hotel seorang diri. Sayang jika waktu yang saya punya hanya untuk dihabiskan di dalam kamar hotel. Walaupun badan capek, tapi semangat dan keantusiasan mengalahkan segalanya, hehehe… 

Suasana di Depan Hotel

Sebuah Club Malam di Bukit Bintang


Setelah cuci muka dan meletakkan barang bawaan, saya langsung bergegas menuju pintu keluar hotel. Tengak-tengok ke kanan dan kiri, sama ramenya! Hahaha… So, saya cuma mengikuti kata hati dan melangkahkan kaki tanpa tujuan. Di jalan Bukit Bintang ini banyak ditemui tukang massage. Mereka menawarkan jasa layaknya menawarkan makanan. Rame! Merayu setiap pejalan kaki untuk mampir ke kedai massage-nya. Hemm, oke, skip this option… Walaupun kaki pegel, tapi saya sayang untuk membuang uang hanya untuk dipijat, hehehe… Saya teruuuusss jalan, sambil melihat-lihat beberapa toko yang saya lewati. Dan, sampai akhirnya, saya memutuskan untuk ke Jalan Alor. Sempat bertanya dimana letaknya pada seorang penjaja kaki lima, akhirnya saya menemukannya.


Menurut data yang sudah saya dapat ketika masih di Indonesia, jika di kawasan Bukit Bintang, kamu harus mampir ke Jalan Alor ini. Kenapa?! Karena disini pusatnya jajanan murah pinggir jalan. Uyeee….!! Tempatnya seperti Kya-Kya di Surabaya, hanya saja tidak menggunakan seluruh badan jalan, hanya setengahnya. Jadi, setengah badan jalan lainnya masih bisa dilalui kendaraan satu arah. Begitu sampai di mulut jalan, waahhhm berbagai macam kedai berjejeran dan meja-mejapun dipenuhi oleh para pecinta kuliner. Sepenglihatan saya, kebanyakan disini adalah chinesse food, tapi ada juga beberapa penjual seafood dan masakan khas melayu. Hemm, aroma masakan menusuk hidung. Saya hanya berjalan saja, sambil mencari-cari makanan yang aneh menurut saya. Dan akhirnya, saya menemukan sebuah mobil penjual aneka sate seafood. Setelah melihat apa saja yang disediakan, saya memilih sate ubur-ubur dan sotong (cumi raksasa). Ada dua pilihan cara memasaknya, direbus atau digoreng. Saya memilih direbus. Setelah matang, dua sate itu disiram dengan sejenis kuah yang rasanya asem pedas. Rasanya gimana?! Untuk sotong, seperti makan cumi pada umumnya, tapi ini lebih sedikit liat dan kenyal. Kalau ubur-uburnya, hemm, kres-kres gimanaaa gitu, hahaha… Harganya?! Sekitar RM 8,3. 

Kawasan Jalan Alor

Sate Ubur-Ubur dan Sotong
Setelah menghabiskan dua tusuk sate, saya berjalan lagi sampai akhirnya bertemu dengan penjual Tau Foo. Setelah saya amati, ternyata mirip tauhwa kalo disini. Itu lho, makanan dari sari tahu yang lembut lalu disiram dengan air jahe. Nah, bedanya kalau yang ini bukan menggunakan air jahe, tetapi dengan menggunakan air gula dan dapat dinikmati dingin. Segerrr banget, hemm… enak! Hehehe… Setelah menghabiskan semangkuk Tau Foo seharga RM 5, waktu sudah menunjukkan pukul 00.30. Mata sudah sedikit ngantuk dan kaki sudah teramat pegal. Akhirnya saya memutuskan ke hotel dan tidur….



***

Malam kedua, setelah makan malam bersama rombongan, saya menghubungi Andy. Ternyata, dia sudah menunggu saya di lobby hotel, padahal saya belum sampai di hotel, mungkin berjarak sekitar 10 menit. Wah, gilak, baik banget nih orang mau nunggu. Setelah sampai hotel, saya langsung mengenali wajahnya. Pria bule, kurus, berambut putih. Ya, Andy sudah berumur 51 tahun, tapi tau gak?! Outfit-nya persis seperti orang yang berumur 30 tahunan. Kemeja kotak-kotak, celana jeans, tas selempang dan sepasang sepatu kets. Biarpun usia sudah senja, tapi penampilan harus tetap muda, hehehe… Bercengkerama sebentar di lobby, kemudian kita langsung jalan-jalan. Ya, kali ini jalan yang sebenar-benarnya, tanpa menggunakan kendaraan dan alat transportasi apapun, hehehe…

Andy bertanya saya ingin jalan-jalan kemana dan saya mengatakan ingin beli oleh-oleh, makan makanan lokal serta pergi ke tempat yang oke. Maka, dia langsung mengantar saya ke kawasan China Town, sebuah kawasan pecinan yang banyak terdapat penjual souvenir khas KL. Berjarak sekitar 20 menit berjalan kaki dari hotel Federal, tempat saya menginap. Setelah oleh-oleh ada di tangan, dia mengantar saya ke Merdeka Square. Seperti alun-alun lah, disekelilingnya terdapat gedung pemerintahan, yang bangunannya kuno buatan Inggris. Cantik! Dengan lampu LED yang berwarna-warni, semakin meperlihatkan keanggunan bangunan. 

Salah Satu Sudut China Town
Bangunan di Depan Merdeka Square
Di lapangan ini saya bertemu dengan segerombolan warga negara Libya yang tinggal di KL. Mereka menari dan memainkan musik layaknya orang berpesta. Tahu kenapa?! Ya, mereka merayakan kematian pemimpin diktator mereka, Muammar Gaddafi. Dengan bendera baru mereka meluapkan rasa kegembiraannya. Sesuatu yang unik menurut saya. Kata Andy, pemerintah Malaysia tidak melarang setiap warganya berkumpul dan melakukan kegiatan semacam ini, asalkan tidak mengganggu ketertiban. Hemm, nice… Saya dan Andy juga diajak berfoto bersama mereka! Hahaha… sudah kayak turis beneran kalo begini, hehehe…

They're all Libyan
Saya, Andy dan The Libyans


Setelah dari Merdeka Square, kembali saya diajak berjalan ke salah satu masjid tertua di Kuala Lumpur. Saya lupa nama masjidnya, yang saya ingat adalah letak masjid ini di muara sungai dengan arsitektur yang cantik pula. Kemudian, kita berjalan (lagi) menuju ke kampung India. Disini kawasan etnis India bermukim di KL. Toko-toko, restoran dan kedai-kedai semua menawarkan hal-hal serba India, mulai kain sari, bunga-bungaan sampai roti canai. Yah, untuk melepas lelah, saya diajak nongkrong di salah satu kedai. Kecil memang, tapi ini yang paling ramai saat itu. Makannya juga di pinggir jalan. Saya memesan seporsi roti canai dan segelas teh tarik. Cukup lah ya untuk mewakili kuliner khas Malaysia, hehehe… Saya cukup menghabiskan RM 7 untuk tiga porsi roti canai, dua gelas lemon tea dan segelas teh tarik. Murah ya???



Roti Canai dan Teh Tarik
Setelah sedikit kenyang, sebenernya saya masih ingin ke Twin Tower. Tapi berhubung waktu sudah terlalu malam, sekitar 01.30 waktu setempat, tidak memungkinkan bagi saya untuk terus kelayapan. Alasannya, Petronas agak jauh dari posisi saya sekarang, tidak ada LRT yang beroperasi, lampu Petronas sudah dimatikan, besok saya harus bangung sekitar jam 06.00 waktu setempat dan yang terakhir kasihan host saya, hehehe… Akhirnya saya memutuskan untuk mengakhiri petualangan saya hari itu. Andy memberitahu jika jalan kaki, saya butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di hotel. WHATTT?! Jauh amaaattt!!! Hahaha… So, dengan alasan keamanan dan kesehatan (kaki), saya memilih untuk naik taksi. Gak mahal?! Setelah nego, saya hanya kena RM 10. Gapapalah, daripada kaki saya gempor! Hahaha…

Sisa-sisa Ringgit
So, itulah akhir perjalanan saya “ngeluyur” tanpa rombongan, ditemani oleh seseorang yang tahu akan KL. Senang rasanya. Saya dan Andy berpisah di sebuah lampu merah dan masing-masing menuju ke arah yang berlawanan. Sungguh tidak menyesal saya gabung dengan komunitas ini (CouchSurfing). Mengapa? Karena saya merasa memiliki saudara di setiap kota, tidak hanya di Indonesia saja, tetapi di seluruh dunia!! :D


Sumber gambar peta : google

Jumat, 28 Oktober 2011

MAKAN MALAM DI RESTORAN BERPUTAR


Bagaimana rasanya makan di restoran yang lantainya bisa berputar 360 derajat?! Hemm, penasaran kan?! Restoran semacam ini bisa kamu temui di KL Tower, Malaysia. Namanya ATMOSPHERE 360°, restoran ini juga merupakan restoran tertinggi di Malaysia. Berapa ketinggiannya?! Kalo gak salah lihat, ketika naik lift, restoran ini berada di ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut!! Saya harus dua kali naik lift untuk bisa mencapai entrance restoran ini. Di 200 meter awal, kita akan sampai pada suatu lantai yang terdapat banyak kios-kios penjual souvenir khas KL, melihat penjuru kota dan bisa menyewa headset yang berisi informasi mengenai kota dan KL Tower ini (mungkin), karena saya sendiri gak nyewa, cuma jalan memutar doank, hehehe… Setelah itu, kita bisa naik lift lagi ke restoran yang saya maksud, setelah petugas lift memastikan apakah kita sudah reservasi tempat sebelumnya. You know what?! Lift ini mampu bergerak 50 meter hanya dalam waktu 9 detik!! Widih, cepet banget! Efeknya?! Telinga bakal terganggu (sebentar). 




Restoran ini buka setiap hari, jam 12.00-15.00 WIB untuk makan siang dan 18.30-23.00 WIB untuk makan malam. Perlu diingat, kamu harus reservasi dulu jika ingin makan di restoran ini dan yang terpenting jangan pernah memakai sandal, celana pendek serta kaos tanpa kerah, atau kamu disuruh balik lagi! Okey, setelah crew mengecek buku list tamu, kita diantar ke meja yang telah dipersiapkan… Wah, suasana di dalam sungguh romantis, dengan pencahayaan yang temaram, interior yang oke, alunan love song dari live music dan yang paling dahsyat adalah pemandangan kota Kuala Lumpur! Kita dengan bebas bisa melihat sekeliling kota, lampu-lampu gedung dan sebagainya plus pemandangan the most famous city landmark, Petronas! Bener-bener santai makan di restoran ini. Oya, kita tidak perlu berkeliling untuk dapat menikmati pemandangan kota ini. Karena lantai restoran ini mampu berputar 360 derajat, sesuai dengan namanya. Ini yang jadi jualan mereka. City view dan lantai yang berputar. Mungkin dibutuhkan waktu sekitar 1 jam an untuk satu putaran. So, acara memutar ini gak bakal menghalangi acara makan kamu. Bener-bener gak kerasa kalo lantai ini sedang berputar. Paling efeknya, ketika kamu ngambil makanan dan mau balik ke meja, meja telah bergeser agak jauh, seperti saya yang sempat “sedikit” bingung menemukan dimana tempat duduk awal, hahaha…

Pintu Masuk
Interiornya
Ada Live Music Juga
Makanannya?! Disini banyyaak sekali makanan yang dihidangkan, mulai dari hidangan pembuka, main course sampai hidangan penutup. Dengan sistem buffet, kita bisa bebas bolak-balik ke meja hidangan untuk mencicipi makanan yang ada. Mulai dari Malaysian, Indian, Western sampai Japanesse foods lengkap tersedia. Berbagai macam salad juga ada. Tinggal pilih pokoknya. Hilangkan urat malu atau kamu hanya bisa mencicipi beberapa hidangan saja, hahaha… Rasa gimana?! Kalo ini relatif ya, ada yang oke, adapula yang rasanya standar, bahkan ada yang menurut saya masakan kaki lima di Indonesia lebih manteb, hehehe… Di bawah ini beberapa makanan yang sempat masuk ke perut saya…





Oke, bagi kamu yang berkunjung ke KL dan ingin merasakan sesuatu yang beda, restoran ini mungkin bisa dijadikan referensi. Lantai berputarnya dan city view yang bener-bener mempesona, yang jarang ditemui di tempat lain, bisa menjadi alasan kuat mengapa kamu harus mengunjungi restoran ini. Alasan lainnya adalah restoran ini telah banyak mendapat penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri, dibuktikan dengan banyaknya trophy yang saya lihat di salah satu sisi restoran. Bagaimana, tertarik??!

Ada dua lemari besar seperti ini yang digunakan untuk menyimpan trophy