Tampilkan postingan dengan label pantai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pantai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2011

KETERPAKSAAN KE PULAU NUSA BARONG

Nusa Barong di Kejauhan
Trip kali ini berawal dari keterpaksaan. Kenapa? Alasan pertama, hari sebelumnya saya dari perjalanan ke Pantai Bandealit yang sangat-sangat melelahkan, suer!! Kedua, dana saya di bank menipis, karena banyaknya undangan kawinan di bulan ini dan biaya wisuda, huhuhu... Memang sih saya dan beberapa teman berencana mengunjungi Pulau Nusa Barong yang terletak di sebelah selatan Jember ini, tapi tidak menyangka harus mendadak seperti ini. Gimana gak mendadak, saya ditelpon hari Sabtu sore menjelang maghrib, setelah baru saja merebahkan diri di kasur sepulang dari perjalanan berat ke Bandealit. Daaannnn, bisa ditebak, dengan mudahnya saya terbujuk oleh perkataan Mas Faisol dan Mbak Eja, dua temen yang menelpon saya. Wuft, sepertinya kesaktian mereka untuk menghipnotis orang sudah selevel dengan Romy Raffael, hahaha...
 
Esok paginya, hari Minggu tanggal 13 November 2011, saya harus bangun pagi sekali, sekitar jam 04.00 WIB. Huft, mata sepertinya masih tidak mau dibuka, setelah semalam baru bisa tidur jam 24.00 WIB. Hadaaahh, seperti biasa, saya susah bangun subuh! Akhirnya, dengan sedikit paksaan, saya mandi dan mempersiapkan segala sesuatunya. Air minum (DONE), jas hujan (DONE), baju dan celana ganti (DONE). Oke, saya siap! Dan berangkatlah saya ke rumah Mas Faisol, meeting point kami di Jember. Seperti biasa, karakter orang Indonesia memang sulit diubah. Dari perjanjian awal berkumpul jam 05.00 WIB, molor sampai jam 06.00 WIB, menunggu beberapa temen lainnya.


Jam 06.00 WIB, kita memulai perjalanan. Setelah mengisi BBM di pom bensin Mangli, rombongan berangkat menuju Pantai Papuma. Lho, bukannya jika ingin ke Nusa Barong lewat Pantai Puger yak?! Setelah membaca salah satu postingan di KasKus, ternyata untuk menuju ke Nusa Barong juga bisa melalui Papuma. Selain itu, untuk menghindari Plawangan Puger, dimana sering saya dengar berita perahu terbalik dan sebagainya, membuat paranoid. Finally, setelah berjalan "santai" sekitar 60 km/jam, kita tiba di Papuma jam 07.00 WIB tepat. Parkir motor, sewa beberapa life vest, poto-poto (tetep) setelah itu kita naik perahu yang sudah menunggu. Ayeeee!! Perahu sewaan seharga IDR 1.200.000 - IDR 1.500.000 ini mampu menampung banyak penumpang. Dinaiki rombongan saya yang berjumlah 15 orang saja masih banyak tempat yang lowong. Mungkin taksiran saya sih, perahu ini bisa menampung sekitar 30 orang dan bobot maksimal kurang lebih tiga ton (kata si empunya perahu).


Ahay! Saya bener-bener antusias dengan perjalanan ini. Menyusuri Samudra Indonesia demi menuntaskan rasa penasaran akan keindahan Nusa Barong. Selain itu, menembus samudra dengan perahu motor tradisional juga menimbulkan keseruan tersendiri. Memang, tidak dipungkiri ada sedikit rasa khawatir di awal. "Amankah perjalanan kali ini??!" Saya hanya bisa berdoa dalam hati, hahaha... Berharap gelombang bersahabat dan cuaca cerah. Si bapak nelayan juga pasti menolak untuk berangkat kalau gelombang sedang jelek. Syukurlah, walaupun memang bergelombang, tapi masih dalam kadar aman. Seru!! Badan terombang-ambing. Tidak sedikit pula temen perjalanan saya yang mabok laut! Ciri-cirinya gampang, duduk diam, minim ekspresi, keringat mulai membanjiri wajah daaaannn... JACKPOT! Hahaha... Saya juga ikut-ikutan pusing melihat banyak orang bermabok ria, akhirnya saya ambil posisi duduk di depan perahu dan melihat jauh ke depan. Daripada saya ikut-ikutan dapet jackpot, hehehe... Karena pengalaman ini, saya sarankan jangan lupa minum obat anti mabok, buat jaga-jaga. Di perahu panas gak??! YA JELAS!! Jadi, buat kalian yang gak pengen hitam, jangan lupa memakai sunblock, topi, kacamata hitam, jaket, celana panjang, kaos kaki dan sarung tangan! Wkwkwk.... Kalo saya seh, "Gak ke pantai namanya kalo kulit gak terbakar matahari!", hehehe... Tapi, jangan khawatir kok, masih ada beberapa bagian kapal yang terlindungi dari sinar matahari, jadi bisa buat tempat berteduh.


Pemandangan di perjalanan, selain dimana-mana nampak air laut yang biru (iyalah, namanya juga samudra! -__-a), kita juga bisa menikmati batu karang dan tebing. Bukit kapur di Puger juga nampak putih di kejauhan. Yah, untuk menghilangkan kejenuhan di perjalanan yang hampir memakan waktu dua jam, saya dan beberapa teman yang bertahan asik mengabadikan momen. Sebagian lainnya yang mabok laut, memilih tidur di bawah pelindung seadanya. Jaket dan terpal menjadi pelindung dari sengatan matahari, tas dan gulungan celana atau semacamnya menjadi bantal sementara. Tidak peduli kalo kayu perahu ini sering bersinggungan dengan ikan, yang penting dapet posisi yang nyaman.





Jam 08.45, perahu kita mendarat di sebuah teluk. Teluk Jeruk orang menyebutnya. Widddiihh, pemandangannya ajiiibbb meeennnn!!! Ini dia tipe pantai yang saya suka. Ombak yang tenang, air yang jernih, gradasi warna air yang oke, pasir putih yang lembut dan pemandangan sekitar yang hijau membuat tempat ini LAYAK untuk dijadikan tujuan wisata jika kamu berkunjung ke Jember. Pulau ini tidak berpenghuni. Oleh karena itu, berada disini layaknya kita sedang berada di private beach! Bener-bener masih alami yang jauh dari jangkauan tangan jahil manusia. Kita bisa berenang bebas disini. Kadar garam yang lumayan tinggi, membuat tubuh kita mengapung walau hanya dalam keadaan diam. Ajib bukan kondisi seperti ini??! Dua jam an kita bermain disini. Berenang, makan siang, berjemur dan poto-poto tentunya. Sayang banget jika tidak mengabadikan diri di tempat ini! Temen saya yang sudah pernah ke Pulau Sempu dan Phi-Phi Island saja juga berdecak kagum dengan keindahan yang disuguhkan pantai ini, “Wah, seperti bukan di Jawa yah?”. Hemm, sebuah compliment yang cukup beralasan untuk menggambarkan keindahan Teluk Jeruk ini.





Sekitar jam 11.00 WIB lebih, setelah puas di tempat ini, kita diajak mengunjungi spot lainnya oleh si bapak nelayan. Katanya ada pantai yang lebih bagus lagi. Jaraknya? Sekitar 45 menit berlayar dari Teluk Jeruk ini. Dan, setelah 45 menit berpanas-panas ria di dek kapal, kita sampai di sebuah pantai. Bedanya, garis pantai disini lebih panjang dan pasirnya jauuuhhhh lebih halus! Setelah dibandingkan dengan koleksi pasir pantai saya (Balekambang, Pulau Sempu, Papuma, Slopeng dan Lombang) ini yang paling putih dan halusss… Kebayang gak?! Jadilah waktu itu, kita kembali menceburkan diri di birunya air laut walau tidak selama di Teluk Jeruk.



Jam 13.30, kita kembali pulang. Yah, liburan kali ini harus berakhir. Saking panas dan capeknya, saya rebahan dan tertidur di bawah terpal dengan beralaskan gulungan celana temen saya, hehehe… Gelombang pulang tidak seheboh pas perjalanan di pagi hari. Kali ini lebih smooth. Dan bisa dipastikan, tidak ada temen saya yang dapet jackpot! Ketika terbangun dan bercengkerama dengan beberapa temen, saya mendapat sebuah kejutan pamungkas. Seekor ikan paus menampakkan dirinya, menyemburkan air ke permukaan! Ya, paus seukuran perahu kami! Hahaha… Kejutan yang menarik, membuat temen-temen yang tertidur langsung terbangun karena teriakan kaget kami melihat paus!! Setibanya di Papuma, karena perut lapar, kita melanjutkan makan ikan bakar di warung Pak Yet. Seekor ikan putihan besar menjadi penutup trip kita hari itu.



Wuhh, bener-bener suatu pengalaman trip yang luar biasa! Walaupun kulit terbakar dan menghasilkan efek seperti kepiting rebus, saya puaaasss!!! Setelah hidup dan tinggal di Jember selama 24 tahun, akhirnya saya menemukan the best spot in town!! PULAU NUSABARONG! Setelah sekian lama memendam keinginan dan berawal dari keterpaksaan, akhirnya saya terpuaskan. Terima kasih buat Mas Faisol dan Mbak Eja yang telah memaksa saya untuk joint di trip kali ini, hehehe… Lain kali saya PASTI berlibur ke pulau ini! So, buat kalian yang berencana ke Jember, jangan lewatkan untuk berkunjung ke pulau ini. Gak perlu khawatir akan kedahsyatan ombak Samudera Indonesia, karena nelayan disana juga bakal nolak kalau insting mereka mengatakan ombak terlalu bahaya. Selamat menjelajahi Pulau Nusa Barong kawan…!!



Jumat, 01 Juli 2011

Alas Purwo Yang Misterius


Banyuwangi, 29 Juni 2011

Entah kenapa, akhir-akhir ini dalam otak saya hanya terpikir "setiap hari libur harus saya maksimalkan untuk mengunjungi tempat-tempat baru". Mungkin dikarenakan kejenuhan kerja, atau target wisuda yang meleset dari perkiraan awal.... Hmpft, nasib-nasib... -__-a
 
Sore hari sebelum tanggal 29, saya sudah ancang-ancang dengan teman kantor saya, Aaron, untuk mengunjungi Pantai Plengkung, yang membuat saya penasaran karena banyak teman dan kerabat yang mengatakan kalau pantai yang satu ini begitu indah.... Tetapi dari beberapa kesan positif itu, ada juga berita yang kurang mengenakkan. Pantai Plengkung berada di dalam kawasan Taman Nasional Alas Puwo, yang seperti saya dengar merupakan kerajaan mahkluk halus terbesar, atau entah apalah, pokoknya kesan yang saya tangkap hutan ini begitu angker. Selain itu akses jalan menuju ke pantai ini rusak berat... Pikiran saya langsung menerawang ketika saya harus bermotor ke Sukamade,  akses jalannya begitu terjal dan berbatu sebesar kepalan tangan orang dewasa, yang membuat saya kapok kesana kecuali dengan menggunakan kendaraan 4 wheel drive. Mungkin hal-hal tersebut yang membuat beberapa teman yang biasa ikut travelling "keder" duluan, sehingga memutuskan untuk tidak ikut dalam perjalanan kali ini.




Untuk mencapai Pantai Plengkung atau yang dikenal dengan sebutan G-Land ini (kepanjangan dari Grajakan Land) kita menuju ke daerah Purwoharjo terlebih dahulu. Disana sudah ada papan arah menuju pantai ini. Perjalanan dari Jember dapat ditempuh sekitar 4 jam an. Akses jalan dari gerbang TN Alas Purwo sampai di daerah Pancur, lumayan bisa dilewati oleh kendaraan bermotor, kondisi jalannya tanah berbatu. Menurut saya, lebih baik menggunakan sepeda motor daripada mobil, karena jarak tempuhnya semakin cepat.

Karena berlokasi di dalam taman nasional, mau tidak mau kita harus berkendara menembus hutan, tapi tenang saja, sudah terbentuk akses jalan dan papan penunjuk arah, sehingga tidak kuatir tersesat :D. Memasuki area hutan, kondisi begitu sunyi, pohon besar di kanan kiri, jalanan berliku dan berbagai bunyi-bunyian mahkluk penghuni hutan ini menemani suara motor yang menderu. Benar-benar serasa di dunia lain... heheh... Banyak hewan yang bisa kita jumpai selama perjalanan, mulai dari segerombolan kupu-kupu, burung merpati, monyet ekor panjang, biawak sampai burung merak! Ya, saya juga kaget, bisa menjumpai burung merak langsung di habitatnya... Benar-benar pengalaman yang baru.... Di dalam TN Alas Purwo ini sendiri juga terdapat beberapa lokasi pantai, tidak hanya Plengkung, seperti Pantai Trianggulasi dan Pantai Pancur yang tidak kalah menarik, serta juga terdapat beberapa gua dan menara pengamatan satwa. Jadi seharian kita bisa menjelajah ke beberapa tempat yang berbeda...



Untuk mencapai ke Plengkung, dari pos Pancur, jalanan rusak berat apalagi di musim penghujan, jalannya licin, berbatu dan banyak genangan air. Hal ini yang membuat pengunjung harus jalan kaki sejauh 9 KM jika ingin ke Plengkung, karena petugas tidak memperbolehkan membawa kendaraan apapun, kecuali sudah mendapat ijin. Salah satu cara yang bisa ditempuh jika tidak ingin kaki gempor, ya dengan menumpang mobil logistik hotel atau mobil yang menjemput bule dari Plengkung. Seperti yang saya alami. Tetapi itu semua juga tergantung keberuntungan kita, karena tidak ada jam pasti kapan mobil-mobil tersebut lewat.



Pantai Plengkung sendiri sudah terkenal di dunia surfing. Banyak bule yang datang hanya sekedar untuk merasakan dahsyatnya ombak pantai selatan ini. Tetapi bagi saya, yang bukan peselancar, merasa biasa saja... hehehe... Karena tidak bisa menikmati ombak yang katanya tertinggi ke-2 di dunia setelah Hawaii ini. Saya hanya menikmati pesona yang disuguhkan. 





Senin, 13 Juni 2011

Memorable Sempu



Malang, 05 Juni 2011

Pagi itu, Minggu, 5 Juni 2011, saya merasakan keantusiasan yang begitu besar dalam diri. Ingin rasanya cepat meninggalkan homestay di Jl. Gresik Malang ini. Ingin cepat bangun, membangunkan genk seperjalanan, mandi dan sarapan. Yah, walaupun malam sebelumnya merasa begitu capek, setelah teriak-teriak dan memacu adrenalin di beberapa wahana edan di Batu Night Spectacular… Mengapa?? Karena hari ini adalah hari yang sudah saya nanti-nantikan selama 1 tahun lebih, saya dan 5 orang teman akan mengunjungi Pulau Sempu!!! Ya, pulau yang di dalamnya terdapat sebuah laguna yang disebut Segara Anakan, yang beberapa minggu terakhir sering muncul di layar televisi, di berbagai tayangan travelling….

Mr. Guide



Meskipun saya sudah bertanya dari beberapa teman yang menyarankan sebaiknya berangkat dari Malang kota jam 6 pagi,, tapi karena satu dan lain hal saya dan rombongan baru berangkat sekitar jam 9 pagi!!! TOOEEEENNGGG!!!!!!!! “Yah, semoga masih ada perahu yang mau nganter saya ke sempu ya Tuhan….” #batin saya dalam hati. Karena saya mendengar slentingan bahwa perahu hanya bisa menjemput sebelum jam 3 sore.
Setelah sarapan pecel murah meriah di Pasar Pagi Tugu, mobil sewaan kami mulai meluncur. Sebelumnya, kami masih harus menjemput salah satu teman lama, Basyar, yang “tahu” arah untuk menuju ke Sendang Biru, gerbang menuju Pulau Sempu. Satu jam berlalu menghampiri si guide ini di rumahnya dan tanpa buang waktu, mobil langsung meluncur ke arah selatan…
Disana ada gerbang menuju "surga"...


Perjalanan awal dilewati tanpa hambatan berarti. Obrolan, canda tawa sampai keheningan kami lewati. Kata si guide, “oh, kalo’ ke sempu gampang, tinggal cari jalan ke arah Bale Kambang…”. FYI, Bale Kambang juga salah satu objek wisata pantai di daerah Malang Selatan. Mobil kita melaju mengikuti papan petunjuk arah ke Bale Kambang, sekitar 2 jam an, setelah bokong mulai tepos, kami sampai di Pantai Bale Kambang…. Bayar tiket masuk sebesar IDR 57K, kami langsung menuju parkiran, bisa dibayangkan, betapa sumringahnya saya ketika sampai di bibir pantai. Ihiiiirrr….“SEMPUUU I’M COMMIINGGG…!!”
Gak tau ada feeling apa, saya mendekati salah satu jukir disana, dan mulai tanya pertanyaan-pertanyaan yang menyiratkan keantusiasan saya. Daaannnn, apa jabawan yang saya terima??! “WAH, KALAU SEMPU BUKAN DARI SINI NYEBRANGNYA MAS, TAPI DARI SENDANG BIRU, JAUH DARI SINI!!!!!!” Uwwoooowww, kalian pasti tau gimana perasaan saya, persis seperti salah satu kontestan Master Chef cewek, gak tau siapa namanya, yang dihina “halus” oleh Master Chef Juna, dibumbung ke langit, terus dijatuhkan!! Widih, sepertinya sudah tertutup kesempatan buat berenang di laguna itu. Mau menyalahkan si guide juga kasian, yang akhirnya kita tahu kalau si guide ini belum pernah ke pantai di daerah Malang Selatan sama sekali!! WTF! Sudah berjam-jam perjalanan, berakhir sia-sia…
Yang bersih, jalannya melayang....

Dengan ekspresi yang datar, seperti tanpa dikomando, semua anak masuk ke mobil, dan langsung tancap gas ke Sendang Biru, berharap masih ada waktu untuk nyebrang ke Pulau Sempu. Mungkin memakan waktu sekitar 2 jam an juga dari Bale Kambang ke Sendang Biru, setelah berkali-kali nyasar, tanya-tanya ke orang dan melewati jalan yang berkelok-kelok dengan suasana pegunungan, akhirnya kita benar-benar sampai di Sendang Biru, yang pada saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Dengan sisa semangat yang ada, langsung saja kita tanya ke salah satu nelayan pemilik perahu, berapa harga sewa perahu untuk nyebrang ke Pulau Sempu. Eh, si bapak nelayan bilang kalau kita sudah kesiangan, dan dia gak berani untuk mengantar kita, karena takut matahari tenggelam, karena untuk menuju ke Segara Anakan diwajibkan untuk tracking menyusuri hutan lindung. Kecewa kuadrat!! Tetapi, untunglah datang seorang bapak yang juga menyediakan jasa penyewaan perahu, dan dia bilang bersedia mengantar kami, asalkan kami harus semangat jalan dan usahakan jangan banyak berhenti. Mungkin si bapak iba melihat tampang layu dari kita bertujuh… Hahaha… Karena dikejar waktu,  tidak mau tersesat dan membayar tambahan IDR 50K lagi kalau dijemput perahu lebih dari jam 5 sore, kami memutuskan menyewa jasa guide seharga IDR 100K, jadi kita mengeluarkan duit sejumlah IDR 200K untuk sewa perahu dan guide.
Penampakan salah satu sudut Segara Anakan

Jarak antara Sendang Biru dan Pulau Sempu tidak begitu jauh, mungkin hanya ditempuh sekitar 10-15 menit berperahu. Pemandangan alam sekitar begitu menyejukkan mata, rimbunnya hutan dan hijaunya air laut begitu mempesona. Setelah sampai di seberang, inilah tantangan terbesar kita. Tracking selama 1 jam an, kata si bapak guide. Awalnya sih biasa saja, tapi lama-kelamaan kaki jadi pegel-pegel, napas ngos-ngosan, mana becek, gak ada ojek, baju dan celana dipenuhi lumpur, semua jadi satu. Jalan yang harus kita lalui adalah jalanan yang naik turun, licin berlumpur, akar besar dimana-mana, pohon tumbang yang menghalangi jalan dan tidak adanya jalur khusus untuk pengunjung, mengingat ini adalah kawasan hutan lindung, sampai membuat beberapa teman saya berandai-andai alangkah mudahnya jika jalan di Sempu ini diaspal saja!! LOL. Jadi kita diharuskan berjalan menyusur hutan, untung saja tidak bertemu binatang buas, seperti ular yang bisa tiba-tiba jatuh ke kepala dan lain-lain.
Satu jam an berlalu, kita jalan tanpa istirahat sedikitpun, dengan harapan cepat sampai di Segara Anakan. Akhirnya, setelah perjalanan yang begitu berat, saya bisa melihat hijaunya air yang mengisi laguna itu… Saya pun memacu langkah kaki. Setelah sampai di bibir laguna, “WOOOOOWWWWW, IT’S TOTALLY AMAZING!!!!!!!” Alangkah indah dan menakjubkannya hasil karya Tuhan ini, putih dan halusnya pasir, tenang dan hijaunya air, rimbunnya pepohonan dan dinding karang yang berada di depan saya bagaikan pagar pembatas laguna ini dengan Samudera Indonesia di seberang sana. Segala capek dan penat yang saya rasakan buyar begitu saja, berganti dengan perasaan puas dan takjub akan keindahan tempat ini. Semoga lain kali saya bisa menikmati keindahan laguna ini lebih lama, tanpa dikejar waktu…
Team dari Jember

Full Team + Guide

HAVE A NICE TRIP! Semoga kisah saya ini bisa membuat kawan-kawan iri dan ingin pergi ke Pulau Sempu, ternyata negara kita ini memang benar-benar kaya…
Saran saya :
1.   Karena memerlukan waktu sekitar 3 jam an dari Malang kota, sebaiknya teman-teman berangkat pagi sekali, agar bisa lebih puas berada di Segara Anakan.
2.   Bawalah air minum yang berlebih, karena perjalanan menyusuri hutan ini bisa bikin dehidrasi.
3.  Pakailah alas kaki berupa sepatu atau sepatu boot sekalian, untuk menghindari sandal putus dan terpeleset, karena kondisi jalan yang becek dan berlumpur, apalagi jika setelah hujan.
4. Jangan pakai baju dan celana berwarna putih, seperti yang saya lakukan, karena setelah dari Sempu, baju dan celana penuh lumpur… hehehe….
5. Bawalah tas kresek atau semacamnya untuk tempat sampah, jangan sekali-kali membuang sampah sembarangan, sayang sekali, tempat ini bisa dikatakan masih perawan dan masih bersih.
Salah satu sudut Pulau Sempu


Jumat, 17 September 2010

Papuma Part XXX

Script   : Andreas Dwi Setiawan, Photo   : Dwi Putri Ratnasari
Crew    : Arya Pradipta, Andina Rizka Ardiani

Senin, 13 September 2010


Perjalanan kali ini bermula dari ketidak relaan menghabiskan jatah libur Idul Fitri, yang begitu berharga bagi seorang pekerja kantoran seperti saya, hanya “bersemedi” di rumah saja. Bayangkan, libur 5 hari hanya dihabiskan dengan berdiam di kamar, utak-atik laptop (maklum, mainan baru ^^), nge-game, denger mp3, makan, ngemil, nonton tv dan tidur!!! Pekerjaan yang amat sangat klise dan monoton. Ditambah pula “iming-iming’ teman kantor yang pada mau mudik, bahkan ada yang berniat ke KARIMUNJAWA! Tiiidddaaakkkkk….!!!! Sungguh malang nasib saya…! :’(
Sebenarnya, rencana awal saya dan beberapa sohib saya bukan ke Papuma, melainkan ke Taman Nasional Baluran di Situbondo. Yah, karena pada waktu itu Jember diguyur hujan yang tidak menentu, kadang deras, kadang hanya rintik-rintik, kadang siang, kadang sore, akhirnya salah satu sohib saya menyarankan untuk ke Papuma saja. “Kenapa Papuma lagi??’ (tanya saya dalam hati). Tetapi, jawaban dari pertanyaan tersebut amat simpel, selain jarak yang tidak terlalu jauh dari pusat kota Jember, sekitar 1 jam bermobil kearah Selatan, tepatnya di daerah Wuluhan, juga karena di Jember tidak ada lagi tempat wisata yang layak mendapat “akreditasi A” selain Papuma (menurut saya). Kadang saya berpikir, kenapa pemimpin daerah hanya memperbanyak pusat pertokoan yang pada akhirnya tidak dapat dikelola dengan jenius (semisal Jember Trade Center, yang sekarang jadi “spooky building” di tengah kota), bukannya mengundang investor buat membangun Wartebom atau Jatim Park 3, atau Taman Safari 4, bla..bla..bla…
Hari-H, 13 September 2010, pkl. 07.30, saya beserta 3 sohib saya (Dipta, Putri, Gomez), berangkat ke Papuma. Seperti biasa, setiap kali akan bepergian jauh, terutama dalam rangka liburan, membuat saya begitu excited, walaupun saya sudah sering mendengar berita bahwa Papuma di waktu liburan, apalagi libur hari raya, pasti super duper rame, bahkan tahun lalu, akses jalan ke dan dari Papuma macet total!! Kenapa? Jawabannya ada di atas!
Sesampai di daerah Jenggawah, kecamatan sebelum Ambulu, kita berpapasan dengan banyak sekali anak-anak muda dan bapak-ibu-anak berboncengan sepeda motor yang searah dengan kita. Apakah yang saya khawatirkan tentang kondisi Papuma memang bener-bener terjadi?! Saya dan teman saya  hanya bisa berpositif thinking, “Ah, mungkin mereka bukan ke Papuma, tapi ke Niagara Waterpark, sebuah taman air mini yang tergolong baru, yang sama-sama berada di Ambulu, but we’ll see, hehehe…”. Eh, belum lama setelah itu, saya melihat di sebelah kiri, ada sebuah pickup yang bagian belakangnya telah terisi full oleh manusia, mungkin sekitar 10-15 orang!!! Tua-muda, pria-wanita, dempet-dempetan jadi satu. Damn! Pikiran saya menerawang jauh ke depan, gak kebayang gimana ramenya Papuma saat itu…
Pkl. 09.00 WIB, kita sampai di kawasan Watu Ulo, pantai yang sejajar dengan Papuma, yang dikelola oleh Pemkab Jember. Bukannya langsung ke Papuma, kita lebih memilih pantai yang berada di area perkampungan nelayan, tempat yang telah 2 kali saya kunjungi sebelumnya. Meskipun tidak berpasir putih halus layaknya Papuma, tapi saya melihat adanya keunikan suasana tersendiri disana, dengan adanya tebing batu karang dan gumuk. Tempat ini juga spot yang bagus buat penggila mancing. Orang kesini pasti tujuan utamanya ya mancing, bukan seperti kita, yang mencari tempat unik buat jadi background foto dan difoto! Hahaha…. Buat temen-temen yang “sealiran’ dengan kita, lokasi ini saya rekomendasikan. Arahnya lurus aja dari pertigaan arah ke Watu Ulo, masuk ke perkampungan penduduk yang ada, selain itu, yang membuat menarik adalah FREE TICKET a.k.a GRATIS,,, tidak ada tiket masuk, pemandangan oke, hanya dikenai ongkos parkir Rp 4.000,00, itupun hanya karena momen Lebaran. 

Puas mengeksplor tempat tersebut (lagi), kita berempat melanjutkan ke Papuma, tujuan utama liburan kali ini. Kita melalui jalan tembusan, yang langsung menuju loket Papuma, tanpa harus melewati Watu Ulo, biar gak bayar tiket dobel! Hahaha… Wah, ternyata jalanan sudah diaspal dengan baik, terakhir kali saya melewati jalan ini, kondisinya masih tanah berbatu dan berdebu.


 Sekitar 10 menit perjalanan, antrian panjang sepeda motor terlihat mengular di depan loket. Papan pengumuman bertuliskan “harga tiket Rp 7.500,00/orang, Rp 2.000,00/mobil dan Rp 1.000,00/motor” terpampang jelas. Tapi saya heran kepada petugas yang menghampiri kami, 4 orang + 1 mobil bukannya ditarik 32rb, malah ditarik 34rb! Yah, saya ikhlaskan sajalah mengingat mumpung lebaran, walaupun ada sedikit rasa tidak rela (maklum mahasiswa akuntansi ^^). Sampai di pantai Papuma, wuiihhh,,,,, bener-bener, apa yang saya pikirkan terjadi. Manusia ada dimana-mana, bikin nyesek, gak pengunjung, gak penjual makanan, gak penjual asongan, gak orang pacaran, gak pelaku mesum, kumpul jadi satu! Pfiuh… (gimana caranya dapet background foto yang oke kalo gini! ;p). Tapi dengan segala pengalaman kita, tetep aja bisa mengatasi hambatan tersebut! AHAY!!!


Di sana waktu berjalan begitu cepat, kita bener-bener kalap, jepret sana, jepret sini. Dan sekitar jam 2 siang, kita chao dari Papuma. Yah walaupun lebaran bukan momen yang tepat buat ke Papuma, tapi saya tetap menikmatinya. Papuma gak kalah sama Dreamland di Bali, atau pantai-pantai di sekitar Gunung Kidul! Bahkan kalau pemkab bisa mengundang investor buat mengelola tempat ini jadi lebih baik, saya yakin, Papuma bakal jadi saingan Phuket atau Phi-phi Island di Thailand! Dengan segala spot yang unik, membuat saya begitu mencintai pantai kebanggaan warga Jember ini…

 "I LOVE PAPUMA, I LOVE JEMBER!!!"