Minggu, 30 Oktober 2011

MOTO GP SEPANG 2011 : KEPRIHATINAN DALAM KESERUAN


Waaahhhh, ngimpi apa saya ya?! Bisa dapet hadiah nonton MotoGP langsung di Sepang, Malaysia GRATIS!!! Cuma modal bikin passpor dan uang saku doank! Hehehe… Pagi itu, Minggu, 23 Oktober 2011, setelah sarapan di hotel, saya beserta rombongan digiring menuju ke Sepang International Circuit. Jaraknya sekitar 45 menit dari pusat kota KL, itupun kalok gak macet. Beruntung kita berangkat “lumayan” pagi, sekitar jam 9 waktu setempat (setara WITA), so jalan masih gak begitu padat, sampai 2 km dari sirkuit, mulai nampak antrean panjang mobil dari berbagai arah. Hemm… kondisi jalan pada saat itu padat merayap, persis ketika bepergiaan menjelang hari raya. Bus, mobil pribadi, motor semuanya menuju ke satu titik, Sirkuit Sepang, untuk menyaksikan kejuaraan dunia motor ini. Sekitar 1 jam terjebak macet, akhirnya rombongan kami tiba di parkiran bus. Begitu keluar dari bus dan menginjakkan kaki di lapangan parkir, widddiiihhh, terik matahari langsung menyengat! Pfiuh, bener-bener bikin kulit gosong! Hahaha…

Traffic Jam Menuju Sepang International Circuit
Information Center
Kita masih perlu berjalan sekitar 5 menit untuk menuju halaman depan sirkuit. Sesampainya disana, waahh, bener-bener rame dan meriah! Dentuman musik, stan-stan sponsor dan SPG-SPG menyambut setiap tamu yang hadir, hehehe… Satu tips untuk kamu yang tahun depan mau nonton langsung, jangan cepat-cepat masuk ke dalam sirkuit dan duduk manis, tapi cobalah berkeliling dan masuk ke setiap stan sponsor yang ada. Kenapa? Selain bisa berfoto bersama SPG yang bening-bening, hahaha, kamu juga bisa mendapatkan berbagai merchandise GRATIS! Ya, seperti yang saya lakukan. Saat itu, saya melihat antrean di salah satu stan, SHELL Advance. Setelah nanya ke orang yang juga ikut ngantri, ternyata pihak Sheell memberikan botol minum gratis buat setiap pengunjung yang mencoba permainan mereka. Permainannya juga gampang kok, anak kecil juga bisa, tenang aja, hehehe… Lumayan, botol minumannya keren. Saya juga mendapatkan kipas (sangat perlu ketika nonton di tempat ini), stiker, gantungan kunci dan sepaket sunblock! Hahaha… Seruuu!

Suasana di Gerbang Masuk
Langsung Disambut Dengan Yang Seger-Seger
Salah Seorang SPG
Setelah puas mondar-mandir di arena pameran, masuklah saya ke arena sirkuit. Beruntung, saya punya tiket di grandstand, so gak perlu kepanasan untuk melihat serunya balapan. Harga tiketnya sekitar RM 130 atau kalau di kurskan ke Rupiah sekitar IDR 377K dengan asumsi RM 1 = IDR 2.900. Tiket ini bisa buat dua hari, pas babak kualifikasi dan hari perlombaan. Oiya, satu hal yang perlu diingat, disini tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman dari luar arena. Gimana kalau lapar dan haus? Di dalam banyak dijumpai stand-stand makanan dan minuman, seperti Pizza Hut, McDonald, minuman isotonik dan sebagainya. Harganya?! Sedikit lebih mahal memang. Saya membeli air mineral botol ukuran 500ml dihargai sekitar RM 5 atau sekitar IDR 14.500. Oke, gak papalah, daripada di dalam saya pingsan gara-gara dehidrasi, hehehe… 

Gerbang Pemeriksaan Tiket
Suasana di Belakang Grandstand Area
Berhubung, perlombaan yang digelar masih kelas 125cc, saya jalan-jalan aja di dalam kawasan itu, sambil nyari spot-spot yang bagus buat difoto. Setelah itu, saya mencari tempat duduk. Wah, sepertinya terlambat, pas itu saya berada di tribun penonton yang berdekatan dengan garis start, maksud hati ingin melihat fase awal lomba. Tapi ternyata sudah banyak penonton lain yang mempunyai pola pikir yang sama dengan saya. So, akhirnya saya hanya bisa duduk di tangga, bukan di kursi yang disediakan, huhuhu… Kok bisa, katanya sudah punya tiket?! Bener, tapi tiket ini tidak ada nomor kursi, so, semua orang terserah mau duduk dimana asalkan di grandstand area.

Oke, minuman di tas, duduk sudah PW, kamera standby di tangan, saatnya menikmati balapan! Kelas Moto2 sudah siap digelar. Seluruh kru, umbrella girl dan pembalap sudah berada di garis start. Sekitar 15 menit, tersisa pembalap saja. Uyee… dan STAAARTT! Hemm, deruan mesin 600cc itu berhasil menggetarkan gendang telinga, sedikit cempreng dan memekakkan telinga, tapi saya berusaha menikmatinya. Earplug (alat penyumbat telinga) sih ada, tapi tidak saya gunakan. Begitu juga dengan penonton lainnya. Hanya beberapa orang saja tampak menggunakan earplug tersebut. Ini yang seru! Betul gak?! Merasakan raungan mesin di tempat asalnya, hehehe… Wuih, bener-bener beda menonton balapan seperti ini, antara live dengan menonton di TV. Ternyata pembalap-pembalap itu bener-bener kenceng memacu sepedanya!! Ini baru Moto2, belum MotoGP! Sepertinya tingkat adrenalin mereka sudah mati rasa! Hahaha…

Fans Valentino Rossi
"Hey, he's Rossi!!"
Setelah kelas Moto2 selesai, mulai nampak persiapan di garasi peserta MotoGP. Sepeda mulai dipersiapkan, deru motorpun mulai terdengar. Kebetulan, saya duduk di seberang garasi tim Ducati dan sebelah saya berkumpul fans Rossi, dengan dandanan heboh, wig kuning dan kaos bertuliskan huruf yang bisa dieja menjadi nama Valentino Rossi. Mereka teriak-teriak bersamaan, “VALENTINO…ROSSIIII…!!!”, berulang-ulang. Membuat Rossi yang duduk di dalam garasi melambaikan tangan ke arah mereka. Tahu nggak?! Saya bisa melihat Rossi lho, walaupun tampak sedikit kecil, karena terpisahkan lintasan! Hahaha… Okay, saatnya lomba dimulai! Begitu start, wuuuzzz, bunyi deru mesin itu bagaikan 500x auman singa! BRUMMM…! Dan melesat secepat The Flash! Hahaha… Cuma beberapa detik saja mereka melintas di hadapan saya! Selebihnya?! Kita duduk kembali dan melihat aksi mereka di lintasan lain melalui big screen. Jika sekiranya sudah mendekat dan berada di tikungan sebelah, semua orang berdiri dan bersiap dengan kamera masing-masing, hehehe…

Persiapan Sebelum Start
Daannn.... GOOOOO!!!!!



Sayang, setelah 2 lap, di big screen nampak ada insiden kecelakaan yang sepertinya parah. “OUUUCCCHHHH….!!”, tanpa dikomando penonton mengucap kata yang sama. Red flag pun dikibarkan. Ternyata yang terjatuh adalah Marco Simoncelli, pembalap tim Gresini Honda. Seluruh pembalap masuk ke pitstop. Saya heran, bukannya kalau red flag itu pembalap mengikuti safety car ya?! Tapi ini kok malah masuk ke pit stop semua. Cukup lama menantikan mereka bertarung lagi. Dalam waktu yang lama itu tidak ada aktifitas apapun di lintasan. Saya hanya melihat panitia lomba hilir mudik, tampak seperti orang yang gelisah. Penonton pun masih sabar menanti perlombaan dimulai lagi. Setelah setengah jam lebih, suara pengumuman panitia memecahkan keheningan. Mereka mengatakan jika lomba dibatalkan, tanpa ada keterangan lebih lanjut saat itu. Sontak penonton kecewa, “HUUUUU….”, terdengar koor panjang. Gak jauh beda dengan di Indonesia. Mereka kecewa karena sudah lama menunggu dan datang kemari ingin menyaksikan pembalap jagoannya berlaga, tapi yang didapat malah lomba yang di cancel

Suasana Tegang di Arena Pit Stop

Sebagai bentuk kekesalan terhadap panitia, mereka melemparkan botol minum dan bungkus makanan ke dalam lintasan. Sungguh ricuh saat itu. Lintasan yang mulus dan bebas kotoran itu dipenuhi oleh sampah! Para kru, pembalap, panitia, petugas keamanan dan orang-orang yang ada di pit stop itu hanya bisa diam melihat aksi penonton.  Sungguh ironi memang. Mereka tidak berpikir panjang terhadap masa depan balapan di Sepang. Bisa saja pihak otoritas menjatuhkan sanksi bagi pihak pengelola sirkuit atas ketidaknyamanan ini. Memang mengecewakan, tapi tidak seharusnya mereka berlaku seperti itu.



Salah Seorang Penonton Yang Respect Terhadap Keputusan Panitia
Sekitar setengah jam, penonton pun berangsur meninggalkan kursi mereka dan bergerak ke arah pintu keluar. Hanya ekspresi datar yang terlihat di wajah mereka. Setelah sampai di bus, tour guide saya mengatakan bahwa baru saja di information center ada pengumuman resmi dari panitia yang menyatakan bahwa Simoncelli meninggal dalam kecelakaan itu. Owhhh, sungguh tragis! Umur manusia tidak ada yang tahu. Di awal lomba, mungkin Simoncelli masih tersenyum, namun setelah 2 lap, tubuhnya sudah terbujur kaku di tengah lintasan lomba. Mungkin penonton tidak akan berlaku demikian jika mereka mengetahui berita ini dari awal. 

Penonton Meninggalkan Arena
Mungkin ini menjadi salah satu pengalaman yang akan saya ingat seumur hidup. Sekalinya ke luar negeri, nonton MotoGP secara langsung, saya hanya bisa merasakan keseruan itu dalam 2 lap saja dan ada pembalap yang meninggal pula di lintasan. Huft, tapi keseruan penonton, panasnya sirkuit, senengnya dapat merchandise gratis, suasana lomba, bisingnya mesin motor yang dipacu kencang merupakan pengalaman unik yang entah kapan saya bisa merasakannya kembali.

Merchandise yang Berhasil Saya Kumpulkan

Jumat, 28 Oktober 2011

MAKAN MALAM DI RESTORAN BERPUTAR


Bagaimana rasanya makan di restoran yang lantainya bisa berputar 360 derajat?! Hemm, penasaran kan?! Restoran semacam ini bisa kamu temui di KL Tower, Malaysia. Namanya ATMOSPHERE 360°, restoran ini juga merupakan restoran tertinggi di Malaysia. Berapa ketinggiannya?! Kalo gak salah lihat, ketika naik lift, restoran ini berada di ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut!! Saya harus dua kali naik lift untuk bisa mencapai entrance restoran ini. Di 200 meter awal, kita akan sampai pada suatu lantai yang terdapat banyak kios-kios penjual souvenir khas KL, melihat penjuru kota dan bisa menyewa headset yang berisi informasi mengenai kota dan KL Tower ini (mungkin), karena saya sendiri gak nyewa, cuma jalan memutar doank, hehehe… Setelah itu, kita bisa naik lift lagi ke restoran yang saya maksud, setelah petugas lift memastikan apakah kita sudah reservasi tempat sebelumnya. You know what?! Lift ini mampu bergerak 50 meter hanya dalam waktu 9 detik!! Widih, cepet banget! Efeknya?! Telinga bakal terganggu (sebentar). 




Restoran ini buka setiap hari, jam 12.00-15.00 WIB untuk makan siang dan 18.30-23.00 WIB untuk makan malam. Perlu diingat, kamu harus reservasi dulu jika ingin makan di restoran ini dan yang terpenting jangan pernah memakai sandal, celana pendek serta kaos tanpa kerah, atau kamu disuruh balik lagi! Okey, setelah crew mengecek buku list tamu, kita diantar ke meja yang telah dipersiapkan… Wah, suasana di dalam sungguh romantis, dengan pencahayaan yang temaram, interior yang oke, alunan love song dari live music dan yang paling dahsyat adalah pemandangan kota Kuala Lumpur! Kita dengan bebas bisa melihat sekeliling kota, lampu-lampu gedung dan sebagainya plus pemandangan the most famous city landmark, Petronas! Bener-bener santai makan di restoran ini. Oya, kita tidak perlu berkeliling untuk dapat menikmati pemandangan kota ini. Karena lantai restoran ini mampu berputar 360 derajat, sesuai dengan namanya. Ini yang jadi jualan mereka. City view dan lantai yang berputar. Mungkin dibutuhkan waktu sekitar 1 jam an untuk satu putaran. So, acara memutar ini gak bakal menghalangi acara makan kamu. Bener-bener gak kerasa kalo lantai ini sedang berputar. Paling efeknya, ketika kamu ngambil makanan dan mau balik ke meja, meja telah bergeser agak jauh, seperti saya yang sempat “sedikit” bingung menemukan dimana tempat duduk awal, hahaha…

Pintu Masuk
Interiornya
Ada Live Music Juga
Makanannya?! Disini banyyaak sekali makanan yang dihidangkan, mulai dari hidangan pembuka, main course sampai hidangan penutup. Dengan sistem buffet, kita bisa bebas bolak-balik ke meja hidangan untuk mencicipi makanan yang ada. Mulai dari Malaysian, Indian, Western sampai Japanesse foods lengkap tersedia. Berbagai macam salad juga ada. Tinggal pilih pokoknya. Hilangkan urat malu atau kamu hanya bisa mencicipi beberapa hidangan saja, hahaha… Rasa gimana?! Kalo ini relatif ya, ada yang oke, adapula yang rasanya standar, bahkan ada yang menurut saya masakan kaki lima di Indonesia lebih manteb, hehehe… Di bawah ini beberapa makanan yang sempat masuk ke perut saya…





Oke, bagi kamu yang berkunjung ke KL dan ingin merasakan sesuatu yang beda, restoran ini mungkin bisa dijadikan referensi. Lantai berputarnya dan city view yang bener-bener mempesona, yang jarang ditemui di tempat lain, bisa menjadi alasan kuat mengapa kamu harus mengunjungi restoran ini. Alasan lainnya adalah restoran ini telah banyak mendapat penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri, dibuktikan dengan banyaknya trophy yang saya lihat di salah satu sisi restoran. Bagaimana, tertarik??!

Ada dua lemari besar seperti ini yang digunakan untuk menyimpan trophy

Minggu, 16 Oktober 2011

KEMBALI KE MADURA

Foto dan Ide Cerita : Aaron Setiawan

Kembali ke Madura. Ya, sepertinya touring ke pulau garam di minggu kedua bulan September kemarin belum cukup bagi saya untuk mengunjungi tempat-tempat menarik di pulau itu. So, ketika ada tawaran untuk mengunjunginya lagi, saya langsung berkata, “Oke, I’m in…!”. Tujuan awal saya kali ini adalah berkunjung ke kampung pasir, pantai Slopeng dan bukit kapur, karena saat kunjungan pertama belum sempat kesana. Kebetulan, hari dimana saya akan berada di Madura, tanggal 08-09 Oktober 2011 ini bertepatan dengan lomba karapan sapi. Yey!! Bonus tambahan neh, hehehe…

Perjalanan kali ini, saya tidak lagi menggunakan sepeda motor seperti pengalaman pertama, CAPEK soalnya! Hahaha… Kali ini saya menggunakan jasa bus dan berangkat seorang diri, kemudian sesampainya disana akan dijemput Hari, temen kantor yang sudah lebih dulu sampai di Sumenep.  Berangkat dari Terminal Tawang Alun Jember, tanggal 07 Oktober 2011, jam 19.32 WIB, Bus Akas Asri yang saya tumpangi melaju ke Sumenep. Dengan harga tiket IDR 60K, saya bisa menikmati perjalanan tanpa bersusah payah melawan dingin dan kantuk yang kadang menghinggapi saat bersepeda. Hemm, kali ini saya hanya duduk santai dan tinggal merem kalo kantuk datang, hehehe… Butuh sekitar sembilan jam perjalanan untuk sampai ke Sumenep. Tepat jam 04.50 WIB saya menginjakkan kaki di Terminal Arya Wiraraja. Hadaaah, disaat mau menghubungi Hari, baterai bebe saya habis. Terpaksa dengan wajah memelas, minta ijin numpang nge-charge di pos satpam terminal, hehehe… Setelah, cukup terisi, saya langsung menghubungi Hari, pengen cepat-cepat istirahat di rumahnya di Kecamatan Lenteng sana, sekedar merebahkan diri dan meluruskan otot yang tertekuk selama sembilan jam! Hahaha…

Jam 09.15 WIB, setelah tidur dan mandi, saya membeli sarapan. Lagi-lagi rujak campur yang menjadi pilihan saya, hanya dengan IDR 2.500 saya sudah mendapatkan sepiring rujak campur dan segelas air mineral. Murah kan ya??! Jam 11.00 WIB, tanpa membuang waktu, saya, Hari dan seorang temannya, Arif berangkat ke Pantai Slopeng dengan mengendarai motor. Jam 11.45 WIB, kami sampai di Pantai Slopeng yang berada di Kecamatan Dasuk, Sumenep. Pantai ini ternyata lebih ramai daripada Pantai Lombang yang pernah saya datangi sebelumnya. Disini sudah ada beberapa fasilitas, seperti arena bermain anak, gazebo dan persewaan kuda. Pasir di pantai ini tidak kalah halus dengan pasir Lombang. Yang membedakannya dengan Lombang mungkin, disini ada perkampungan nelayan. Tetapi, walaupun lebih “lengkap”, menurut saya Lombang tetap lebih indah, dengan pasir putihnya yang begitu lembut dan vegetasi yang lebih unik daripada pantai ini. Puas berkeliling, kami mencoba menikmati kuliner yang bisa ditemui disini. Kami membeli rujak khas Slopeng dan es degan. Sekitar IDR 8K, lumayan murahlah untuk harga makanan di kawasan wisata seperti ini. Oya, tidak lupa saya memasukkan pasir ke dalam botol bekas untuk oleh-oleh si Andre, karena tidak bisa ikut di perjalanan kali ini, hahaha…





Jam 13.30 WIB, kami meninggalkan Pantai Slopeng dan melanjutkan perjalanan ke tambang batu kapur yang berada di Kecamatan Batuputih, Sumenep. Butuh waktu 45 menit untuk sampai ke lokasi ini dari Slopeng. Ternyata, saya baru tahu kalau batu bata putih yang digunakan untuk membangun rumah di daerah Madura berasal dari kawasan ini. Disini terdapat beberapa area penambangan dan ketika saya sampai, sudah ada beberapa truk yang sudah siap mengangkut batu bata ini. Berkunjung kesini juga memberikan saya pengetahuan baru. Kenapa?! Karena saya bisa melihat proses pembuatan batu bata putih ini. Pada awalnya, batu kapur diratakan dengan gergaji mesin. Setelah rata, kemudian digergaji lagi sedalam 10 cm sehingga membentu persegi panjang. Setelah itu, para penambang mencangkul cetakan tersebut sehingga batu bata tersebut siap didistribusikan. Pemandangan disini?! Uwwooooww, luar biasa!! Saya serasa berada di GWK Bali sana, bukit kapur sisa penambangan disini menyuguhkan background foto yang ciamik!! Hahaha… FYI, ternyata penambangan disini sudah berusia ratusan tahun, sehingga membentuk bukit-bukit kapur yang “persis” seperti GWK Bali. Semoga pemerintah setempat bisa mengelola tempat ini dengan bijak yak, agar generasi mendatang masih bisa melihat keindahan bukit kapur ini, cieee…




Puas di bukit kapur, jam 14.45 WIB kami berangkat ke daerah Pantai Lombang untuk mencari kawasan kampung pasir. Jarak tempat ini 39 Km dari Pantai Slopeng, cukup jauh memang. Jam 16.00 WIB kami sampai juga di kampung pasir Dusun Jabau, Kecamatan Batang-batang. Setelah sempat kesasar beberapa kali, hahaha… Tidak mudah untuk dapat masuk di kawasan kampung pasir ini, entah kenapa masyarakat sekitar seolah-olah menutup diri. Gak kehilangan akal, kita mengaku sebagai mahasiswa dari Jember yang ingin belajar budaya di tempat itu, ahay! Sebenarnya ini adalah kampung nelayan. Pada awalnya saya sedikit kecewa melihat kampung pasir tersebut karena tidak sesuai dengan apa yang saya bayangkan sebelumnya, rumah-rumah di kawasan ini sudah modern dan beralaskan keramik. Setelah mendapat akses masuk, kami diantar ke rumah kepala desa yang bernama Haji Ansari. Setelah bertanya-tanya dengan beliau, ternyata penduduk di sana kadang tidur di halaman pasir mereka. Saya melihat sendiri beberapa keluarga sedang asyik bersenda gurau di halaman pasir. Sangat unik dan baru kali ini saya melihat ada budaya seperti itu. Akhirnya Pak Haji menunjukkan kamar tidur mereka yang beralaskan pasir. Waaaaaaahhhhhhhhhhh, unyu banget! Wkwkwk…. Saya langsung melompat dan mencoba tidur-tiduran di alas pasir tersebut. Mereka biasanya tidur di atas pasir ketika udara di rumah panas. Wah seru juga ternyata. Setelah mini tour di dalam rumahnya, Pak Haji mengajak kita ke pantai di dekat rumahnya. Di sana banyak orang duduk di pasir pantai, tampak anak-anak dengan riangnya bermain sepakbola, mendayung perahu dan beberapa bermain layang-layang. Kebetulan ketika saya ke pantai bersamaan dengan para nelayan yang sedang berangkat melaut. Sebenarnya kita disarankan untuk menginap di sana menunggu pagi hari saat nelayan kembali ke pantai membawa hasil tangkapan mereka. Namun kita tidak bisa menginap karena masih ada daftar kunjungan lainnya. Mungkin lain kali ya Pak Haji… :)



Kolam pasir di dalam rumah

Di hari terakhir, 09 Oktober 2011, jam 11.30 WIB, saya dan Hari berangkat ke Alun-alun Sumenep untuk melihat lomba karapan sapi. Jam 12.00 WIB sampai di lokasi dan langsung membayar tiket IDR 5K untuk masuk ke arena pertandingan. Saya sempatkan berkeliling sebentar untuk melihat persiapan peserta lomba. Ternyata, sebelum berlomba, sapi-sapi tersebut disiram air jamu dan didoakan terlebih dahulu oleh dukun, kemudian sapi tersebut diantar jalan memutar sejauh 5 meter dari garis start. Sebagai warming up mungkin, hehehe… Begitulah garis besar ritual menyiapkan sapi sebelum lomba dimulai. Widiiihhh, harus siap-siap stamina untuk melihat lomba karapan sapi ini, debu dan terik matahari menghadang setiap peserta dan penonton, huft… Jam 13.30 WIB, kami memutuskan pulang walaupun perlombaan belum selesai, gak kuat dengan panaaassnya arena, hahaha…





Setelah packing, jam 18.00 WIB saya dan Hari kembali ke Jember dengan menumpang bus Damri seharga IDR 60K dan tiba di Jember jam 02.30 WIB!! Hemmm, terbayarkan sudah rasa penasaran saya terhadap tempat-tempat tersebut. Selanjutnya? Mencari tempat-tempat tujuan menarik lainnya…